<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948</id><updated>2012-02-16T06:22:03.960-08:00</updated><category term='kongres hypnotherapy'/><category term='memuaskan diri'/><category term='sedekah'/><category term='behind the scene'/><category term='sekolah'/><category term='ketika semuanya bersatu'/><category term='victor alexander liem'/><category term='diskusi tentang meditasi'/><category term='spiritualitas yang menembus batas tradisi'/><category term='beda agama'/><category term='pendidikan humanis'/><category term='spiritualitas universal'/><category term='menghadapi ketidakpastian'/><category term='menafsir'/><category term='dikotomi'/><category term='siapakah aku'/><category term='menangkap ular dengan cara salah'/><category term='perumpamaan korek api'/><category term='melangkah dengan indah'/><category term='download ebook'/><category term='surga'/><category term='kesederhanaan'/><category term='kusala bhiksu'/><category term='bersikeras'/><category term='kungfu panda'/><category term='surga mistikus'/><category term='keberhasilan praktik'/><category term='Sufisme'/><category term='senyum'/><category term='hipnoterapi dan meditasi'/><category term='homo luden'/><category term='melawan'/><category term='menabuh benih spiritual'/><category term='dialog kristen dan buddha'/><category term='pintu kebijaksanaan'/><category term='kekalahan'/><category term='obyek kasihan'/><category term='lokakarya'/><category term='penyebab marah'/><category term='keindahan diri'/><category term='etika'/><category term='AUSEECL'/><category term='outliers'/><category term='afirmasi'/><category term='momen saat ini'/><category term='Mistik Jawa'/><category term='persepsi'/><category term='yan hui'/><category term='abstraksi'/><category term='aspirasi'/><category term='pdf'/><category term='hermeneutik'/><category term='narsisme'/><category term='mengapa retret meditasi itu penting'/><category term='pendeta victor tinambunan'/><category term='effortless practice'/><category term='Meister Eckhart'/><category term='niat'/><category term='launching buku USING NO WAY AS WAY'/><category term='max planck'/><category term='meditasi dari sudut pandang psikoterapi'/><category term='problematik beropini'/><category term='Kongres Indonesian Association of Clinical Hypnotherapist (IACH)'/><category term='using no way as way'/><category term='malcolm gladwell'/><category term='ketidakpastian'/><category term='spiritualitas di tempat kerja'/><category term='keberhasilan latihan'/><category term='ebook gratis spiritualitas'/><category term='the oxford murders'/><category term='cara berpikir'/><category term='keseimbangan bathin'/><category term='meditasi kristen'/><category term='re-rasionalisasi'/><category term='Fritjof Capra'/><category term='kesuksesan'/><category term='bakat'/><category term='training hypnotherapy'/><category term='Karen Armstrong'/><category term='raja telanjang'/><category term='bahagia'/><category term='juxtapose'/><category term='melampaui simbol agama'/><category term='vincent crapanzano'/><category term='laurence freeman'/><category term='setan pikiran'/><category term='mencari jati diri'/><category term='eksklusivitas bukan spiritualitas'/><category term='kemasan meditasi'/><category term='download buku gratis'/><category term='faktor bahagia untuk kesuksesan'/><category term='ebook gratis meditasi'/><category term='zen'/><category term='bakat unik'/><category term='trend spiritualitas universal'/><category term='intuitive wisdom hypnosis'/><category term='Dalai Lama'/><category term='gnostik'/><category term='penuntun meditasi'/><category term='mistisisme'/><category term='the science of meditation meditasi sebagai terapi'/><category term='rasa takut'/><category term='tekad sukses'/><category term='kemenangan'/><category term='bermeditasi tanpa bermeditasi'/><category term='Husserl'/><category term='cabang ru'/><category term='nietzsche'/><category term='mencapai impian'/><category term='trend meditasi'/><category term='inklusif'/><category term='body scan meditation'/><category term='memperhatikan kebahagiaan'/><category term='berkah'/><category term='pintu menuju kebahagiaan sejati'/><category term='mendedikasikan kepandaian'/><category term='Gaston Bachelard'/><category term='meditasi dan hypnotherapy'/><category term='spiritualitas kontemporer'/><category term='confucius'/><category term='the good heart'/><category term='time'/><category term='sukses dan bahagia'/><category term='bahagia dan sukses'/><category term='manfaat meditasi'/><category term='pemahaman'/><category term='pendidikan atau pembelajaran baru. dianinterfidei'/><category term='th. sumartana'/><category term='dahaga manusia'/><category term='basic clinical hypnotherapy semarang'/><category term='riwayat spiritualitas'/><category term='de-rasionalisasi'/><category term='gramedia yogya'/><category term='tuhan yang repot'/><category term='bunda terese'/><category term='latihan meditasi'/><category term='benih spiritual'/><category term='menilai orang lain'/><category term='gnostic'/><category term='studio meditasi'/><category term='matinya dogma'/><category term='fibonaci'/><category term='iach'/><category term='kedamaian'/><category term='Indonesian Association of Clinical Hypnotherapist (IACH)'/><category term='revolusi pendidikan'/><title type='text'>BAHAGIA DENGAN MERAYAKAN KETIDAKPASTIAN</title><subtitle type='html'>Apa yang membuatmu bahagia?
Menjadi kaya? Tidak. Menjadi pandai? Tidak. 
Menjadi terkenal? Tidak juga. Lalu apa?
Hanya ada satu cara untuk berbahagia, yaitu: 
BERBAHAGIALAH!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>44</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-9098811999118453378</id><published>2010-11-01T04:12:00.000-07:00</published><updated>2010-11-01T04:22:48.279-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hipnoterapi dan meditasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='download buku gratis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='penuntun meditasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='body scan meditation'/><title type='text'>DOWNLOAD GRATIS  EBOOK &amp; MP3 | BODY SCAN MEDITATION</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Kini ada kemudahan dalam berlatih relaksasi dan meditasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(102, 0, 0);"&gt;BODY SCAN MEDITATION&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);font-size:130%;" &gt;Pedoman Praktis Relaksasi dan Meditasi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/TM6hhbILgwI/AAAAAAAAALU/L0GNKuf5KHQ/s1600/bsm.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 258px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/TM6hhbILgwI/AAAAAAAAALU/L0GNKuf5KHQ/s320/bsm.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5534538587674739458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sahabat yang berbahagia,&lt;br /&gt;Saya sampaikan kabar baik berhubungan dengan kemudahan berlatih relaksasi dan meditasi dengan mendownload ebook dan rekaman audio untuk menemani praktik relaksasi dan meditasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengamati adanya kebutuhan terapi diri yang  relatif mudah dan bisa dipraktikkan sendiri, tanpa harus memiliki keahlian khusus. Untuk itulah saya ingin menulisnya dalam bentuk buku penuntun meditasi singkat namun sudah cukup menjadi dasar teori untuk mempraktikkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula saya mempelajari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hypnotherapy&lt;/span&gt; untuk melengkapi proses terapi yang saya jalani lewat praktik meditasi. Itulah awal mula saya dalam mengkombinasi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hypnotherapy&lt;/span&gt; dengan praktik meditasi. Dua pendekatan ini jika dipadukan dengan komposisi yang tepat akan memberikan banyak manfaat. Praktik meditasi akan lebih mudah jika didahului relaksasi sebagaimana yang sudah banyak dikenal dalam hypnotherapy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadikan meditasi mulai diminati adalah adanya kebutuhan kebahagiaan, sesuatu yang kurang diperhatikan sebelumnya. Biasanya orang lebih memusatkan perhatian pada pencapaian-pencapian eksternal, dan kurang memberikan ruang bagi perkembangan kualitas kebahagiaan. Sekarang faktor kebahagiaan sudah mulai disadari kebutuhannya terutama untuk menunjang kehidupan yang lebih baik termasuk juga dalam hal pekerjaan. Keadaan emosi yang negatif sering menyebabkan ketegangan fisik dan mulai mempengaruhi kesehatan secara keseluruhan. Kualitas emosi turut menentukan efektivitas dalam bekerja dan membuat seseorang lebih fokus pada tujuan daripada menghamburkan energinya pada hal-hal yang tidak penting. Terapi diri yang melibatkan relaksasi tubuh dan pikiran, jelas sekali, sangat dibutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Body Scan Meditation&lt;/span&gt; adalah jawaban atas kebutuhan itu dalam kemasan yang praktis dan sederhana. Praktik meditasi ini selain memberikan relaksasi yang dibutuhkan tubuh, juga melatih hadirnya kebahagiaan dari dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;SILAKAN DOWNLOAD DI LINK BERIKUT:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href = "http://www.ziddu.com/download/12323520/bodyscanmeditation.zip.html"&gt;&lt;br /&gt;http://www.ziddu.com/download/12323520/bodyscanmeditation.zip.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-9098811999118453378?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/9098811999118453378/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=9098811999118453378' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/9098811999118453378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/9098811999118453378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2010/11/download-gratis-ebook-mp3-body-scan.html' title='DOWNLOAD GRATIS  EBOOK &amp; MP3 | BODY SCAN MEDITATION'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/TM6hhbILgwI/AAAAAAAAALU/L0GNKuf5KHQ/s72-c/bsm.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-6317196888886470612</id><published>2010-08-06T22:54:00.000-07:00</published><updated>2010-08-07T04:35:50.395-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='meditasi dan hypnotherapy'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='download ebook'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sukses dan bahagia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='using no way as way'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='download buku gratis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pdf'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mencapai impian'/><title type='text'>“KEBANYAKAN ORANG SIBUK SAMPAI TAK SEMPAT MENCAPAI IMPIAN YANG DIINGINKAN…”: Bagaimana Menurut Anda?</title><content type='html'>Sebelum Anda melakukan download gratis ebook, baca tulisan ini sejenak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;“Kebanyakan orang sibuk sampai tak sempat mencapai impian yang diinginkan.&lt;br /&gt;Sering kontraproduktif. Terlalu menginginkan uang justru kehilangan kesempatan mencari uang.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/TFz1dJR5oKI/AAAAAAAAAK8/__-OoaAnJmY/s1600/happy2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 278px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/TFz1dJR5oKI/AAAAAAAAAK8/__-OoaAnJmY/s320/happy2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5502542725795913890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu persis apa yang sedang Anda hadapi. Setiap orang punya masalah, dan menginginkan hal terbaik dalam hidup. Pilihan yang terbaikpun sangatlah beragam. Ada yang malah terjebak dan bukan yang terbaik yang bisa dirasakannya. &lt;br /&gt;Untuk itulah orang butuh insight, wawasan yang membuka sudut pandang baru, tentang hidup, spiritualitas universal, bahkan kesuksesan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;YOU NEED ADVICE TO BRING YOUR OWN HAPPINESS:&lt;br /&gt;SEKALI LAGI INI BUKAN KEBAHAGIAAN VERSI SAYA, TAPI ANDA&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Filsafat kebahagiaan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;happiness philosophy&lt;/span&gt;) tidak lagi sebuah sistem filsafat yang rumit. Filsafat kebahagiaan bisa dibumikan dan dipahami secara sederhana tanpa harus menghilangkan pemahamannya yang begitu mendalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasihat yang terlampau dogmatis, dan hanya berisi petuah-petuah moral sering tidak efektif lagi. Hal itu memang berguna –terutama di tahap awal, hingga pada saat tertentu yang lebih dibutuhkan adalah pemahaman mandiri lewat pintu kebijaksanaannya masing-masing. Menariknya, pemahaman mandiri itu mampu mengantar pada spiritualitas universal, yang menjadi kunci kebahagiaan yang diharapkan semua orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;JANTUNG SPIRITUALITAS UNIVERSAL:&lt;br /&gt;RAHASIA HIDUP DALAM HARMONI TANPA TERUSIK OLEH &lt;br /&gt;PERBEDAAN TERMASUK PERBEDAAN AGAMA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Wawasan meditasi dan hypnotherapy bisa digunakan lebih efektif dalam menentukan dan menjalankan visi hidup. Itu adalah tentang visi hidup yang membahagiakan. Ada ketenangan dan kedamaian dalam setiap langkah menuju visi. Ada saatnya orang tidak lagi mengejar kesuksesan, karena kualitas perjalanan itu sesungguhnya menjadi tujuan. Ketika tujuan dan jalan itu dipahami secara intuitif sebagai hal yang sama, maka itulah totalitas, yang kini menjadi pelajaran berharga bagi orang-orang sukses di dunia. Ini adalah attractor factor sejati, yang menyentuh jantung spiritualitas universal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MEMBACA DENGAN HATI:&lt;br /&gt;BIARKAN HAL YANG TERBAIK DALAM DIRI INI MEMANCAR KEMBALI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nikmati tulisan-tulisan saya! Bacalah dengan hati sehingga benar-benar bisa merasakan “kesegaran” yang memberikan kehangatan yang mencairkan konflik diri! Semua itu agar Anda bisa merasakan kebaikan yang sudah ada dalam diri Anda. Tujuan tulisan saya adalah melepas halangan yang ada dalam diri, sehingga diri sejati yang penuh energi kebaikan itu bisa terpancar keluar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ADA BANYAK KEMUNGKINAN UNTUK&lt;br /&gt;PERUBAHAN YANG LEBIH BAIK&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Saya tidak tahu perubahan apa yang akan terjadi. Saya yakin beberapa hal berikut ini akan terjadi, bahkan bisa lebih banyak. &lt;br /&gt;• Menjadi lebih banyak senyum.&lt;br /&gt;• Bisa menerima diri bahkan bisa tertawa dengan kebodohannya sendiri.&lt;br /&gt;• Pemahaman diri yang mengubah perilaku sehari-hari.&lt;br /&gt;• Hidup dengan ketenangan meskipun di tengah konflik.&lt;br /&gt;• Efektivitas dalam perbuatan dengan tujuan-tujuan yang positif.&lt;br /&gt;• Lebih kreatif dan produktif karena adanya energi ketenangan dalam dunia kerja.&lt;br /&gt;• Lebih sehat, karena “jiwa” yang baik akan membuat tubuh lebih baik pula.&lt;br /&gt;• Berbagi kebahagiaan meskipun dalam tindakan yang sederhana sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;RIWAYAT CATATAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari data tanggal 05/08/10, Note-note saya sudah dibaca banyak orang.&lt;br /&gt;Ini adalah daftar Note sesuai dengan dengan peringkat komen terbanyak hingga yang sedikit. Saya pilih hanya pada tulisan favorit yang masih satu tema yang mewakili seluruh kerangka pemikiran saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FILSAFAT SPIRITUAL&lt;br /&gt;RIWAYAT SPIRITUALITAS: Ketika Semuanya Bersatu&lt;br /&gt;http://www.facebook.com/note.php?note_id=243858355822&lt;br /&gt;119 komentar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MELAMPAUI SIMBOL AGAMA&lt;br /&gt;http://www.facebook.com/note.php?note_id=195589495822&lt;br /&gt;93 komentar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEDITASI &amp; HYPNOTHERAPY&lt;br /&gt;BENEFIT OF HAPPY FACTOR IN YOUR COMPANY: Ketika Meditasi bermanfaat di dunia kerja&lt;br /&gt;http://www.facebook.com/note.php?note_id=282203795822&lt;br /&gt;69 komentar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRACTISING A SIMPLE MEDITATION: Make Your OwnTherapy&lt;br /&gt;http://www.facebook.com/note.php?note_id=263888965822&lt;br /&gt;49 komentar&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/downloadlink/11113672/simple_meditation_therapy.pdf"&gt;Download PDF&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGAIMANA MENGATASI RASA MARAH? :Sebuah Sudut Pandang Psikoterapi dan Praktik Meditasi&lt;br /&gt;http://www.facebook.com/note.php?note_id=383167480822&lt;br /&gt;48 komentar&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/downloadlink/11113770/BagaimanaMengatasiRasaMarah.pdf"&gt;Download PDF&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMPERKENALKAN SPIRITUALPRENEUR PYRAMID | Ketika Spiritualitas menjadi Etos Kerja&lt;br /&gt;http://www.facebook.com/notes/victor-alexander-liem/memperkenalkan-spiritualpreneur-pyramid-ketika-spiritualitas-menjadi-etos-kerja/403754310822&lt;br /&gt;45 komentar&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/downloadlink/11113972/SPIRITUALPYRAMID.pdf"&gt;Download PDF&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAPPINESS PHILOSOPHY AND MEDITATION PRACTICE&lt;br /&gt;http://www.facebook.com/note.php?note_id=389840105822&lt;br /&gt;39 komentar&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/downloadlink/11113769/HappinessPhylosophyand.pdf"&gt;Download PDF&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DON'T WORRY TO EXPRESS YOUR VISION:&lt;br /&gt;Saatnya Bertindak dan Menikmati Tindakan Anda&lt;br /&gt;http://www.facebook.com/notes/victor-alexander-liem/dont-worry-to-express-your-vision-saatnya-bertindak-dan-menikmati-tindakan-anda/411846795822&lt;br /&gt;26 komentar&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/downloadlink/11113768/Don_tworry_toexpress_new.pdf"&gt;Download PDF&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;QUESTION &amp; ANSWER&lt;br /&gt;QUESTION &amp; ANSWER | SEKILAS MEDITASI DAN HYPNOTHERAPY&lt;br /&gt;http://www.facebook.com/notes/victor-alexander-liem/question-answer-sekilas-meditasi-dan-hypnotherapy/421195545822&lt;br /&gt;30 komentar&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/downloadlink/11113773/QA01.pdf"&gt;Download PDF&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;QUESTION &amp; ANSWER | VISI HIDUP DAN KESUKSESAN&lt;br /&gt;http://www.facebook.com/notes/victor-alexander-liem/question-answer-visi-hidup-dan-kesuksesan/422556820822&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/downloadlink/11113771/QA02_VISIHIDUP.pdf"&gt;Download PDF&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MY FIRST BOOK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/TFz29ZU-ymI/AAAAAAAAALE/ZOgfc552wPI/s1600/using_med_w_tulisan.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 249px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/TFz29ZU-ymI/AAAAAAAAALE/ZOgfc552wPI/s320/using_med_w_tulisan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5502544379371244130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih untuk teman2 yang telah membaca tulisan dan buku saya.&lt;br /&gt;Semoga memberi manfaat!&lt;br /&gt;Salam Hangat,&lt;br /&gt;Be happy!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Victor Alexander Liem&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB:&lt;br /&gt;Kini Buku “Using No Way as Way!” dapat dipesan melalui sms di 08122904625&lt;br /&gt;PESAN SEKARANG JUGA!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-6317196888886470612?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/6317196888886470612/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=6317196888886470612' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/6317196888886470612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/6317196888886470612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2010/08/kebanyakan-orang-sibuk-sampai-tak.html' title='“KEBANYAKAN ORANG SIBUK SAMPAI TAK SEMPAT MENCAPAI IMPIAN YANG DIINGINKAN…”: Bagaimana Menurut Anda?'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/TFz1dJR5oKI/AAAAAAAAAK8/__-OoaAnJmY/s72-c/happy2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-3797156247640060059</id><published>2010-06-01T05:53:00.000-07:00</published><updated>2010-06-01T07:21:56.237-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='memperhatikan kebahagiaan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kedamaian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pintu menuju kebahagiaan sejati'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='diskusi tentang meditasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='launching buku USING NO WAY AS WAY'/><title type='text'>LAHIRNYA "USING NO WAY AS WAY!"</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;SAYA PERCAYA KEBETULAN YANG BUKAN KEBETULAN&lt;br /&gt;ADA “KEBETULAN” YANG MEMPERTEMUKAN KITA DI SINI.&lt;br /&gt;ADA “KEBETULAN” YANG MEMBUAT ANDA MEMBACA TULISAN INI.&lt;br /&gt;MENGENAL TOPIK TULISAN INI.&lt;br /&gt;TOPIK TENTANG KEBAHAGIAAN, DAN KEDAMAIAN.&lt;br /&gt;TOPIK YANG MENGENALKAN METODE TERAPI YANG MENJELASKAN &lt;br /&gt;SEMUA MASALAH YANG PERNAH KITA ALAMI.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba sejenak perhatikan apa yang Anda alami selama ini...&lt;br /&gt;Apakah Anda bahagia?&lt;br /&gt;Tidak perlu Anda jawab, hanya ketahui saja dalam hati &lt;br /&gt;Akuilah secara jujur.&lt;br /&gt;Hal ini menunjukkan seberapa besar kepekaan Anda dan&lt;br /&gt;seberapa besar Anda mengetahui diri Anda sendiri.&lt;br /&gt;Saya tidak akan menggurui, tapi sekedar berbagi dari apa yang saya pelajari dan alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu saya pikir orang butuh kepintaran agar bisa hidup bahagia.&lt;br /&gt;Pada tahun 2004 saya akhirnya menyadari bahwa banyak orang pintar ternyata hidupnya tidak bahagia. Saya mengandalkan pengetahuan untuk bahagia, namun pada satu titik, harus saya akui ada keterbatasan dari pengetahuan itu. Selama ini saya menghadapi kesulitan hidup dari beban pikiran yang saya ciptakan sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kejadian itu,  saya mencoba merekonstruksi ulang segala prinsip yang pernah saya pelajari. Waktu itu saya tidak berencana menulis buku, apalagi buku tentang meditasi, tapi dari satu kesimpulan ke kesimpulan lainnya, memang akhirnya masuk pada latihan meditasi sebagai metode terapi. Dan saya mempraktikkan meditasi secara rutin karena didorong adanya kebutuhan untuk mengatasi masalah hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sekelumit kisah lahirnya buku saya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Using No Way as Way!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/TAUDdNdH0tI/AAAAAAAAAK0/gdaKVUaVWh8/s1600/using_med.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 309px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/TAUDdNdH0tI/AAAAAAAAAK0/gdaKVUaVWh8/s320/using_med.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5477788322128974546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Judul : Using No Way as Way!&lt;br /&gt;Penulis : Victor Alexander Liem, C.Ht, M.CH&lt;br /&gt;Penerbit: Juxtapose, 2009&lt;br /&gt;Tebal : xviii + 215 hal; 17 x 16 cm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Using No Way as Way!&lt;/span&gt; merupakan sebuah buku yang menjelaskan tentang kebahagiaan dan kedamaian dalam sudut pandang spiritualitas yang dibutuhkan dunia saat ini. Di dalamnya juga menyertakan penelitian beberapa pakar neuroscience tentang praktik meditasi. Siapa pun yang mempraktikkannya akan lebih memahami dan mengisi hidup dengan lebih bermakna, dengan penuh cinta, dan berbagi dengan orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Using No Way as Way!&lt;/span&gt; akan menjawab hal-hal seperti ini:&lt;br /&gt;• Apa hubungan antara filsafat dan spiritualitas?&lt;br /&gt;• Mengapa pemahaman intuitif itu penting?&lt;br /&gt;• Bagaimana cara menjadi bahagia dan menemukan kedamaian?&lt;br /&gt;• Mengapa praktik meditasi mulai dirasa bermanfaat bagi kehidupan kontemporer saat ini?&lt;br /&gt;• Bagaimana cara mempraktikkan meditasi pernafasan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PENDAPAT MEREKA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Buku ini meneguhkan minat saya untuk mencoba &lt;br /&gt;melakukan meditasi pernafasan secara reguler. &lt;br /&gt;Terlepas dari soal apa pun agama yang kita anut, &lt;br /&gt;buku ini saya kira akan membantu kita menyelami &lt;br /&gt;makna kebahagiaan dengan berada DI SINI dan KINI. &lt;br /&gt;Ia mengingatkan saya bahwa untuk sukses orang &lt;br /&gt;mungkin memerlukan sejumlah hal, namun untuk &lt;br /&gt;bahagia yang diperlukan hanyalah diri sendiri. &lt;br /&gt;Bacalah!” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Andrias Harefa, Fasilitator www.pembelajar.com,&lt;br /&gt; Mitra Pendiri Institut Darma Mahardika)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Buku ini penting karena berangkat dari sesuatu yang&lt;br /&gt;sangat mendasar sebelum kita hendak beranjak menuju mana pun,&lt;br /&gt;yaitu menemukan diri sendiri. Lalu ... kita akan tahu bahwa &lt;br /&gt;segala tujuan akan bermula dan berakhir pada diri.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Audifax, Penulis Buku Bestseller “Semiotika Tuhan”, dan &lt;br /&gt; “Psikologi Tarot” bersama Leonardo Rimba)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Buku yang dapat memberikan cara pandang baru bagi pola pikir Anda &lt;br /&gt;sehingga Anda dapat menemukan jati diri dan akhirnya dapat &lt;br /&gt;menemukan kebahagiaan selama menjalani kehidupan di dunia.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Victor Asih, Motivator Speaker,  &lt;br /&gt;Penulis Buku Bestseller “8 Langkah Ajaib Menuju ke Langit”)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Buku ini berhasil membongkar imajinasi saya, sampai titik yang &lt;br /&gt;saya sendiri kaget dibuatnya. Berhasil melihat makna hidup ini &lt;br /&gt;dari sisi-sisi yang selama ini tidak kita sadari. &lt;br /&gt;Anda ingin bahagia dan sukses dengan cara yang berbeda,&lt;br /&gt;baca ‘Using No Way as Way!’"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Dianata Eka Putra, &lt;br /&gt;Penulis Buku Bestseller “Membaca Pikiran Orang Lewat Bahasa Tubuh”)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Pemahaman yang disampaikan oleh penulis sungguh kreatif dan &lt;br /&gt;tidak biasa. Setelah membaca dengan pelan dan teliti, &lt;br /&gt;ternyata ada banyak hal yang membuat saya terkejut.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Robby Candra, &lt;br /&gt;Penulis Pendamping Buku Bestseller “Bersahabat dengan Kehidupan” )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Buku ini benar-benar akan membantu memperkaya pengetahuan kita, &lt;br /&gt;sebelum kita memutuskan untuk menggunakan kebijaksanaan intuitif kita &lt;br /&gt;yang masih tertidur.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Siky Hendro Wibowo, Pemerhati Spiritualitas Nusantara)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Buku ini membawa kita untuk menemukan cara bagaimana kita &lt;br /&gt;kembali kepada diri kita yang sesungguhnya dan menemukan&lt;br /&gt;jalan menuju hidup yang seimbang dan bahagia tanpa harus mencarinya.  &lt;br /&gt;Saya yakin di tengah dunia yang terus semakin kompleks dan terasa rumit, &lt;br /&gt;siapa pun Anda akan sangat terbantu dengan membaca dan &lt;br /&gt;mempraktikkan apa yang ada di buku ini." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Berry Nahdian Forqan, Direktur Eksekutif Nasional &lt;br /&gt;Wahana Lingkungan Hidup Indonesia -WALHI)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PEMESANAN LANGSUNG&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Buku Using No Way as Way! dapat dipesan langsung melalui sms 08122904625&lt;br /&gt;Rek BCA Cab. Kudus AC: 0312099240&lt;br /&gt;a.n.Victor Alexander L&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-3797156247640060059?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/3797156247640060059/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=3797156247640060059' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/3797156247640060059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/3797156247640060059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2010/06/lahirnya-using-no-way-as-way.html' title='LAHIRNYA &quot;USING NO WAY AS WAY!&quot;'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/TAUDdNdH0tI/AAAAAAAAAK0/gdaKVUaVWh8/s72-c/using_med.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-5185495848577956685</id><published>2010-05-24T07:05:00.000-07:00</published><updated>2010-05-24T07:26:46.716-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesian Association of Clinical Hypnotherapist (IACH)'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='iach'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='basic clinical hypnotherapy semarang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='training hypnotherapy'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lokakarya'/><title type='text'>BASIC CLINICAL HYPNOTHERAPY</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/S_qI6q-bfTI/AAAAAAAAAKE/7rPoTyLwkm4/s1600/iach.BMP"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 201px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/S_qI6q-bfTI/AAAAAAAAAKE/7rPoTyLwkm4/s320/iach.BMP" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5474838838572186930" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Anda, siapa saja, dokter, dokter gigi, bidan, perawat, profesional, eksekutif, trainer, dosen, guru, psikolog, terapis, konsultan, HRD, businessman, dan siapa saja yang ingin mengaplikasikan teknologi pemberdayaan dan optimalisasi fungsi otak serta bawah sadar untuk pengembangan diri, pencapaian prestasi, pengelolaan bisnis, kesehatan fisik, dan mental, pendidikan, dan peningkatan kualitas hidup di berbagai bidang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;Kami persembahkan:&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;The Most Wanted Hypnotherapy Workshop(Certification Training)&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;h2&gt;BASIC CLINICAL HYPNOTHERAPY&lt;/h2&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;The First Collaboration in Indonesia Medical Clinician and Clinical Psychologist&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;SEBUAH FAKTA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 1995 BMA (British Medical Association), 1958 AMA (American Medical Association) dan 1990 APA (American Psychological Association) secara resmi mengesahkan hipnosis sebagai suatu alat terapeutik yang sah. Hipnosis sekarang diajarkan dalam banyak sekolah medis utama di Amerika. Dengan prinsip dasar therapist, yaitu kerahasiaan, integritas, dan teknik yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;JENJANG PELATIHAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pelatihan ini adalah dasar untuk melanjutkan tingkat Advance  Clinical Hypnotherapy dimana akan dipelajari penanganan kasus-kasus dengan pendekatan klinis, misalnya: High Blood Pressure, Cancer, Stroke, Diabetes, Depression, HIV/AIDS, Obesity, Acne, Bedwetting, Asthma, Insomnia, Anorexia Nervosa, Sexual Disfunction, Angina Pectoris, Cronis/Acute Migrainers, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu : 12-13 Juni 2010&lt;br /&gt;Jam   : 08.00-17.00 WIB&lt;br /&gt;Tempat: HOTEL SANTIKA&lt;br /&gt;        Jl. Jend. Ahmad Yani No. 189&lt;br /&gt;        Semarang 50242&lt;br /&gt;        Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Double Certified:&lt;br /&gt;Certified Basic Clinical Hypnotherapist &lt;br /&gt;(From IACH-Indonesian Association of Clinical  Hypnotherapy)&lt;br /&gt;Certified Hypnotherapy (From IBH-Indonesian Board Hypnotherapy)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Normal Price: Rp. 2.250.000&lt;br /&gt;Early Bird  : Rp. 1.900.000&lt;br /&gt;(7 hari sebelum pelaksanaan)&lt;br /&gt;Untuk mahasiswa ada special price.&lt;br /&gt;Special Offer:&lt;br /&gt;• CD collection e-book Hypnotherapy worth IDR 1.000.000&lt;br /&gt;• Lunch &amp; Cofee Break, Modul &amp; Handout&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/S_qKe7GbX3I/AAAAAAAAAKk/SUn76PiiNgs/s1600/fotobareng11155_1266620356241_1551759324_30687602_8120730_n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/S_qKe7GbX3I/AAAAAAAAAKk/SUn76PiiNgs/s320/fotobareng11155_1266620356241_1551759324_30687602_8120730_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5474840560887619442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;TESTIMONI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;“Amazing, ilmu yang bagus, akomodatif, menambah wawasan, punya jurus baru, siap untuk di praktikkan pada klien dan disosialisasikan manfaatnya.”&lt;br /&gt;(Ibu Dra. Hj. ES Indrawati Soewondo, M. Si, Psikolog, &lt;br /&gt;Pembantu Dekan III Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akhirnya saya tidak bisa untuk sesaa merasakan bahwa saya punya tangan dan kaki tapi masih dapat berpikir dengan sangat jernih, setelah “percobaan” di awal tidak berhasil sesuai harapan saya. Saya sangat senang ada beberapa “insight” yang saya dapatkan yang berhubungan dengan permasalahan pribadi yang akhirnya saya menyadarinya dan tahu apa yang menjadi ganjalan. Luv it..luv it... luv it.”&lt;br /&gt;(Ibu Rahma Yuliani P., S.Psi, Psikolog)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya semakin menemukan titik fokus ddalamhidup. Workshop ini mengkombinasi banyak hal dan memberikan dampak positif langsung pada peserta.”&lt;br /&gt;(Victor Alexander Liem, Penulis Buku Laris ‘Using No Way as Way!’)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Workshop ini bisa memberikan add value bagi pengembangan pribadi maupun mendukung bagi praktik dokter sebagai profesi.”&lt;br /&gt;(dr. Ali Maimun, M. Kes)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;FASILITATOR:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1. dr. Gunawan, CHt, CI&lt;br /&gt;Certified Trainer of Neuro Linguistic Programming&lt;br /&gt;Certified Practitioner of Time Line Therapy TM (TLT Association-USA)&lt;br /&gt;Certified Instructor Hypnotherapy (Indonesian Board Hypnotherapy-IBH)&lt;br /&gt;Certified Instructor Hypnotherapy (American Board Hypnotherapy-ABH)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Fouriana Listyawati, M. Psi, Psikolog, CHt, CI&lt;br /&gt;Clinical Psychologist&lt;br /&gt;Clinical Hypnotherapist&lt;br /&gt;Counsellor and Lecturer at Yarsi University&lt;br /&gt;Managing Director of Insight Institute&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;INFORMASI PENDAFTARAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jadmiko: 08128019628&lt;br /&gt;Nugroho:081390994026&lt;br /&gt;Organized by: IACH (Indonesian Association of Clinical Hypnotherapist)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin tahu lebih jauh tentang IACH (Indonesian Association of Clinical Hypnotherapist)?&lt;br /&gt;Klik &lt;a href="http://victoralexanderliem.blogspot.com/2010/05/kongres-indonesian-association-of.html"&gt;disini &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/S_qIKNfBgjI/AAAAAAAAAJ0/6pxRbOH1Cek/s1600/iklan12_13mei30333_125288754157701_100000297325046_247449_3907843_n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 228px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/S_qIKNfBgjI/AAAAAAAAAJ0/6pxRbOH1Cek/s320/iklan12_13mei30333_125288754157701_100000297325046_247449_3907843_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5474838006022111794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-5185495848577956685?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/5185495848577956685/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=5185495848577956685' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/5185495848577956685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/5185495848577956685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2010/05/bagi-anda-siapa-saja-dokter-dokter-gigi.html' title='BASIC CLINICAL HYPNOTHERAPY'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/S_qI6q-bfTI/AAAAAAAAAKE/7rPoTyLwkm4/s72-c/iach.BMP' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-8395876099561072404</id><published>2010-05-24T06:52:00.000-07:00</published><updated>2010-05-24T07:03:52.358-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='iach'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kongres Indonesian Association of Clinical Hypnotherapist (IACH)'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='intuitive wisdom hypnosis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cabang ru'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kongres hypnotherapy'/><title type='text'>Kongres Indonesian Association of Clinical Hypnotherapist (IACH) Pertama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/S_qFAO67GnI/AAAAAAAAAIU/JZ6vOkTV9XY/s1600/iach.BMP"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 201px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/S_qFAO67GnI/AAAAAAAAAIU/JZ6vOkTV9XY/s320/iach.BMP" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5474834536073992818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala Puji Bagi Tuhan YME, karena atas berkah dan Ridho-NYA, pada tanggal 30 April - 2 Mei 2010, Indonesian Association of Clinical Hypnotherapist melangsungkan Kongres Nasional Pertama bertempat di Ballroom Hotel Oasis Amir Jakarta Pusat. Acara yang diikuti oleh 63 orang delegasi Akademisi, Klinisi, dan Praktisi Clinical Hypnotherapy dari berbagai wilayah Indonesia dengan tema Kongres " Membangun Sinergi dalam Berbagi dan Melayani".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kongres yang dibuka oleh Dewan Pembina Bapak Mayjend TNI (Purn) Mulchis Anwar, dalam sambutannya beliau mengatakan siap untuk memback up dan memfasilitasi agar IACH bisa bersinergi dalam peran serta dan kontribusinya pada bangsa dan negara. bahkan beliau berharap agar pada kongres selanjutnya yg membuka adalah Presiden RI. sungguh suatu suntikan motivasi yang sangat tak ternilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Rangkaian kongres ini hadir pula memberikan ceramah umum antara lain, Bapak Yan Nurindra yang dinobatkan sebagai "Bapak Hipnotherapy Indonesia" dalam kesempatan ini penyerahan pandel penghargaan dan penyematan jaket dilakukan oleh dr.Julianto Wicaksono (Direktur Medis dan Keprawatan RSCM) mewakili komunitas praktisi Hypnotherapy dari kalangan "Medis", dan Bapak Arinto Agus DR.S.Psi yang mewakili komunitas praktisi Hypnotherapy dari kalangan "Psikolog".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Sidang-sidang Komisi, dari berbagai Komisi yang bersidang, Komisi Litbang dan Kurikulum merupakan komisi yang cukup sentral dimana para akademisi, klinisi, dan praktisi hypnothterapy merumuskan matrikulasi penyampaian kurikulum Hypnotherapy standar IACH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceramah Umum dan pembekalan lainnya diberikan oleh Bapak Abdul Aziez (Master Trainer NLP dari NFNLP) dan dr.Gunawan sebagai salah seorang inisiator IACH, adapun Kuliah Umum utama disampaikan oleh Bpk. Prof.DR.dr.H.Asdi, Sp.Pd,KEMD, disamping itu di penghujung perhelatan akbar yang telah direncanakan sejak 4 bulan lalu itu, Beliau pula yang melantik Pengurus Pusat dan Pengurus Cabang, serta menutup Rangkaaian Acara Kongres denga Doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Susunan Pengurus IACH Hasil Kongres Nasional pertama sbb :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewan Pembina :&lt;br /&gt;Mayjen TNI (Purn) Mulchis Anwar&lt;br /&gt;Prof.DR.dr.H. Asdi, Sp.PD , KEMD&lt;br /&gt;Arinto Agus DR, S.Psi&lt;br /&gt;Dr. Julianto Witjaksono&lt;br /&gt;Abdul Aziez&lt;br /&gt;dr.Gunawan&lt;br /&gt;Endang Fourianalistyawati, M.Psi, Psikolog&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewan Pakar :&lt;br /&gt;Dr. Lilik Lestari, Sp.Rad, M.Kes&lt;br /&gt;DR. Rahma Widyana, Psikolog&lt;br /&gt;dr. Warih Andan Puspitosari, Sp.KJ&lt;br /&gt;dr. Yasmini, Sp.OG&lt;br /&gt;Melina Dian, M.Si, Psikolog&lt;br /&gt;Dra. Hj. ES Indrawati Soewondo, M.Si, Psikolog&lt;br /&gt;Pihasniwati, S.Psi, Psikolog&lt;br /&gt;dr. Lisnur, Sp.OG&lt;br /&gt;Mayor. dr. Iman Faturahman, Sp.B&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengurus Pusat&lt;br /&gt;Ketua Umum : Baby Jim Aditya, M.Psi,Psikolog&lt;br /&gt;Sekjen : Dani Rahmat, SE&lt;br /&gt;Bendahara : Dewi Andi Jimmy, SE&lt;br /&gt;Ketua Bidang :&lt;br /&gt;Litbang &amp; Kurikulum : Rima Olivia, S.Psi, Psikolog&lt;br /&gt;Organisasi : Fanny Winara, Msi, Psikolog&lt;br /&gt;Humas &amp; Informasi : Tukiyo ATd&lt;br /&gt;Pengabdian Masy : Maknun Fajar Susilo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengurus Cabang&lt;br /&gt;Cabang Jakarta&lt;br /&gt;Ketua : Nyoman Dean Indra, S.Psi&lt;br /&gt;Sekretaris : Ira Savira&lt;br /&gt;Bendahara : Ratu Ade Wajna,M.Psi, Psikolog&lt;br /&gt;Klinik Hypnotherapy : RSCM, Jl Kimia Jkt&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cabang Tegal&lt;br /&gt;Ketua : dr.H.Martono,MMR&lt;br /&gt;Sekretaris : Ruqayah, Amd.Keb&lt;br /&gt;Bendahara : dr.Nani Wijaya&lt;br /&gt;Litbang : dr. Abdul Ghafur&lt;br /&gt;Humas ` : Tuti Astuti, Amd.Keb&lt;br /&gt;Klinik Hypnotherapy : Jl. Teuku Umar no 2 Grogol Tegal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cabang Bekasi&lt;br /&gt;Ketua : dr. Rahmawati&lt;br /&gt;Sekretaris : Titi Budiastuti, Smip&lt;br /&gt;Bendahara : Rachmawati Anggraini&lt;br /&gt;Klinik Hypnotherapy : Beauty &amp; Health Holistic Care, Perum taman sentosa blok A2 no 26 (021-89901766)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cabang Semarang&lt;br /&gt;Ketua : Jatmiko Eko Nugroho&lt;br /&gt;Sekretaris : dr.Cahyaningrum Branaaji&lt;br /&gt;Bendahara : Gerry Nur Adidharma, S.Psi&lt;br /&gt;Klinik Hypnotherapy : Jl Tumpang IX no.9 Semarang 024-8441533&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cabang Palembang&lt;br /&gt;Ketua : Megawati, S.Psi, Psikolog&lt;br /&gt;Sekretaris : Wendy Meirisca Sandga, S.Psi&lt;br /&gt;Bendahara : Yelling Agustin, S.Psi,Psikolog&lt;br /&gt;Klinik Hypnotherapy : Jl. Kolonel Atmo Lorong Kepandean no.821-822 telp.0711-357921&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cabang Pontianak&lt;br /&gt;Pembina : Mayor. dr. Iman Faturahman, Sp.B&lt;br /&gt;Ketua : Lettu. Dwi Cahyo Nurgroho, S.Psi, Psikolog&lt;br /&gt;Sekretaris : Agus Fitria, S.Psi, Psikolog&lt;br /&gt;Bendahara : Letda CKU Eko Nugroho F, SE&lt;br /&gt;Klinik Hypnotherapy : Jl. A Rahman Saleh, Gg Sagita No.4 (BLKI) Pontianak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cabang Yogyakarta&lt;br /&gt;Ketua : Gathut Satriya Winahyu&lt;br /&gt;Sekretaris : Nadia Ba’asyir, S.Psi, Psikolog&lt;br /&gt;Bendahara : Adi Winarso&lt;br /&gt;Litbang : dr.Aryanto, Sp.B&lt;br /&gt;Klinik Hypnotherapy : Klinik Metamorfosa, Jl Petung, Gg Musholla No.2B Papirngan Jogja 0274-7422072&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cabang Tanggerang&lt;br /&gt;Ketua : Novriza Hendri, S.Psi&lt;br /&gt;Sekretaris : Ary Wibowo&lt;br /&gt;Bendahara : Laurensia Fiona Wang, SE.MM&lt;br /&gt;Klinik Hypnotherapy : Perumnas 1 Karawaci, jl tongkol raya no 16 rt 001/09&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cabang Depok&lt;br /&gt;Ketua : Tedyansyah&lt;br /&gt;Sekretaris : Tri Eka Yulianti&lt;br /&gt;Bendahara : Rully Mujahid&lt;br /&gt;Klinik Hypnotherapy : Jl. MI Ridwan Rais No.114 Depok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cabang Salatiga&lt;br /&gt;Ketua : dr. Lilik Lestari, Sp,Rad, M.Kes&lt;br /&gt;Klinik Hypnotherapy : RS.Paru Dr Ario Wirawan, Jl Hasanudin 806 Salatiga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cabang Kudus&lt;br /&gt;Ketua : Victor Alexander Liem, S.Kom&lt;br /&gt;Klinik Hypnotherapy : Perum. Megawon Indah. Jl Kapas IV No 29 Kudus 08122904625&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cabang Solo&lt;br /&gt;Ketua : Hadi Wardana,MA&lt;br /&gt;Klinik Hypnotherapy : Jl.Siwalan no 36B Kerten Laweyan Solo, 085647000993&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cabang Palembang&lt;br /&gt;Ketua : Megawati, S.Psi, Psikolog&lt;br /&gt;Sekretaris : Wendy Meirisca Sandga, S.Psi&lt;br /&gt;Bendahara : Yelling Agustin, S.Psi,Psikolog&lt;br /&gt;Klinik Hypnotherapy : Jl. Kolonel Atmo Lorong Kepandean no.821-822 telp.0711-357921&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cabang Jawa Timur&lt;br /&gt;Ketua : Alfan Luthfi&lt;br /&gt;Sekretaris : Anik Widyawati S.Psi, Psikolog&lt;br /&gt;Klinik Hypnotherapy : Jl Sumberwadung 364 senpu Banyuwangi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cabang Balikpapan&lt;br /&gt;Ketua : Mutia Qoriana,S.Psi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cabang Banjarmasin&lt;br /&gt;Ketua : dr.H.Diaudin&lt;br /&gt;Sekretaris : Adies Sari, S.Psi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cabang Bandung&lt;br /&gt;Ketua : Yuki Yusman Rahmat Sumantri, S.Pd&lt;br /&gt;Sekretaris : Esa Nurjatman&lt;br /&gt;Bendahara : Yudha Muhammad&lt;br /&gt;LItbang : dr.Riyanto&lt;br /&gt;Trismayani, S.Psi&lt;br /&gt;Humas : Anie Noor Zahara, S.Psi, Psikolog&lt;br /&gt;Klinik Hypnotherapy : Saturnus Barat X /6 Margahayu Raya Bandung 022-7562564&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/S_qGBR7uGmI/AAAAAAAAAI8/Bcoz2WQUvaI/s1600/iachvictor0229089_1329821843511_1169919652_30800615_3169489_n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/S_qGBR7uGmI/AAAAAAAAAI8/Bcoz2WQUvaI/s320/iachvictor0229089_1329821843511_1169919652_30800615_3169489_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5474835653574138466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/S_qHKBIAaAI/AAAAAAAAAJs/AtOsOvI6Elg/s1600/kongres2_iach28460_1323333441305_1169919652_30787125_6799761_n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 207px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/S_qHKBIAaAI/AAAAAAAAAJs/AtOsOvI6Elg/s320/kongres2_iach28460_1323333441305_1169919652_30787125_6799761_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5474836903192717314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-8395876099561072404?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/8395876099561072404/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=8395876099561072404' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/8395876099561072404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/8395876099561072404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2010/05/kongres-indonesian-association-of.html' title='Kongres Indonesian Association of Clinical Hypnotherapist (IACH) Pertama'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/S_qFAO67GnI/AAAAAAAAAIU/JZ6vOkTV9XY/s72-c/iach.BMP' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-3948915894116236232</id><published>2010-05-21T18:52:00.000-07:00</published><updated>2010-05-21T19:00:39.056-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahagia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='diskusi tentang meditasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='effortless practice'/><title type='text'>EFFORTLESS PRACTICE IN DAILY LIFE | Mengapa mesti membaca tulisan pendek ini?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/S_c5nn8fzKI/AAAAAAAAAH8/x0WRU-xg5oM/s1600/effort10198170-acchieve-your-success.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 275px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/S_c5nn8fzKI/AAAAAAAAAH8/x0WRU-xg5oM/s320/effort10198170-acchieve-your-success.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5473907224992533666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Visimu hanya akan jelas apabila Anda melihat ke dalam hatimu.&lt;br /&gt;Siapapun yang melihat ke luar hanyalah bermimpi.&lt;br /&gt;Siapapun yang melihat keadalam, sadar.”&lt;br /&gt;(C.G. Jung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Manusia tidak dapat menyadari kenyataan yang sebenarnya &lt;br /&gt;merupakan cermin kesadaran di dalam diri.”&lt;br /&gt;(Hua-Ching Ni)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mengapa mesti membaca tulisan pendek ini?&lt;br /&gt;Yah, yang jelas bukan sekedar untuk menambah pengalaman. &lt;br /&gt;Apapun alasannya nanti Anda akan tahu sendiri jika sudah selesai membaca semuanya. Sekarang, silakan baca sebuah legenda di bawah ini sebagai pengantar awal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu itu ada dewa yang bertanya pada seorang pertapa bijak mengenai perumpamaan banjir.&lt;br /&gt;Dewa itu bertanya, “Katakanlah, bagaimana Anda menyeberangi banjir?”&lt;br /&gt;“Dengan tidak berdiam dan tidak berjuang Aku menyeberangi banjir,” jawab Sang pertapa secara ringkas.&lt;br /&gt;“Tapi bagaimana mungkin Anda melakukan hal itu, tanpa berdiam dan juga tanpa berjuang, bisa menyeberangi banjir?,” Dewa itu heran tidak mengerti.&lt;br /&gt;“Pada waktu berdiam, maka seseorang akan tenggelam.  Pada waktu seseorang berjuang terlalu keras, maka dia hanya akan berputar-putar. Karena itu Aku katakan dengan tidak berdiam dan tidak berjuang, Aku menyeberangi banjir ini.”  Itulah penjelasan akhir sang pertapa tentang perumpamaan banjir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menyukai legenda di atas, walaupun saya sebenarnya termasuk orang yang skeptis dalam memahami sesuatu. Saya tidak ingin memahami sesuatu karena dogma. Saya belajar untuk memahami bahwa hidup perlu dijalani dengan penuh kebahagiaan. Apapun yang membantu pada jalan kebahagiaan, itulah yang saya pelajari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini adalah sudut pandang lain tentang happiness philosophy yang pernah saya bahas pada notes sebelumnya. Intinya masih sama, bahwa kebahagiaan bukanlah pencapaian. Kebahagiaan itu sudah ada, yang perlu dilakukan hanyalah memahami dan merasakannya. Jika kebahagiaan belum terasa, itu karena pikiran kita penuh dengan konflik ciptaan kita sendiri. Jika kita berhenti membuat konflik, maka kebahagiaan itu akan menampakkan diri secara alami. Pengertian dasar ini menggarisbawahi bahwa perjuangan pada pencapaian kebahagiaan selalu bersifat kontra produktif. Satu-satunya cara merasakan kebahagiaan adalah dengan tidak berusaha mencapainya. Pemahaman mistik pada setiap tradisi spiritual menunjukkan kesimpulan yang sama akan hal ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dibuat dalam sebuah analogi, maka akan menjadi seperti ini. Kebahagiaan itu ibarat seperti cahaya, ada banyak nama dari bentuk pancaran cahaya itu.  Cinta kasih, welas asih, tindakan bajik, atau apa saja. Itu hanyalah bentuk lain dari cahaya yang indah itu. Saripatinya adalah cahaya kebahagiaan yang sudah ada, yang bukan hasil pencapaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sewaktu pohon lemon sedang berbunga, Anda tidak bisa&lt;br /&gt;melihat buahnya, tetapi jika Anda mengamatinya,&lt;br /&gt;Anda bisa melihat bahwa buahnya telah ada di sana.”&lt;br /&gt;(Thich Nhat Hanh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/S_c6NsVY7HI/AAAAAAAAAIM/9gsAqcmrR3s/s1600/effortlemon-tree.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/S_c6NsVY7HI/AAAAAAAAAIM/9gsAqcmrR3s/s320/effortlemon-tree.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5473907879005711474" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama ini saya dipinjami seorang sahabat sebuah buku tentang meditasi buka hati. Cara praktik buka hati yang paling mudah adalah dengan tersenyum tulus. Ya. Tersenyum tulus. Begitu sederhana. Coba perhatikan diri kita, berapa sering kita tersenyum sepenuhnya, tanpa membawa beban pemikiran. Jika dihubungkan dengan hypnosis, itu adalah tersenyum pada gelombang otak alfa atau theta.  Kita lebih sering tersenyum pada tingkatan betabukan? Sudah jarang sekali senyum, jika sempat tersenyum itu hanya senyuman luar bukan dari dalam. Kita tidak sungguh-sungguh menikmati senyuman kita itu. Bisa jadi ketika Anda tersenyum, Anda melakukannya sambil berpikir banyak hal. Agar disukai orang lain, atau juga gelisah dan sibuk mengharapkan respon positif orang lain, dan lain-lain.  Mengapa tersenyum saja dibuat sulit? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada effortless practice. &lt;br /&gt;Pernahkah Anda bekerja keras namun selalu menghasilkan sesuatu yang tidak diharapkan? Misalkan, Anda berusaha keras untuk tersenyum tulus, yang terjadi hanya senyuman terpaksa yang penuh ketegangan. Anda berusaha memancarkan cinta kasih. Dan boleh jujur bahwa cinta kasih itu tidak pernah hadir. Atau, Anda berusaha tidak marah. Yang terjadi, Anda malah membuat kemarahan semakin menjadi-jadi. Mengapa hal ini bisa terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan apa yang Anda dapat, tetapi apa yang hilang dari diri Anda.&lt;br /&gt;Seperti mengupas lapisan bawang, itulah yang harus Anda lakukan.”&lt;br /&gt;(Tenzin Palmo)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penyebab utama masalah ini adalah karena Anda memahami bahwa segalanya itu adalah pencapaian. Sementara kenyataannya, keberhasilan spiritual berbanding lurus dengan penerimaan akan keadaan secara alami, sama sekali bukan tentang menggapai buah spiritual. Pemahaman dasar seperti ini adalah penting untuk diketahui.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jack Elias, seorang terapis yang juga dipengaruhi praktik meditasi, pernah menulis: “proses inti dari pemikiran egoik adalah permainan dualistik pikiran.” Pemaparan Jack akan memperjelas perumpamaan banjir, yaitu sikap tidak berdiam maupun tidak berjuang.  Roda penderitaan terjadi dan terus berputar karena adanya papan jungkat jungkit, polaritas, dimana ujung papan yang satu menetap tak bergerak dan menghilangkan ujung pada kutub lainnya. Kita melekat pada dua kutub yang ditunjukkan dengan sistem nilai kita, seperti baik-buruk, untung-rugi, benar-salah, harapan-ketakutan, dan seterusnya. Pemikiran egoik adalah menjebak, ketika seseorang mengalami penderitaan, lalu terlintas dalam dirinya pengejaran kesenangan yang dianggap solusi dari masalah yang sedang dihadapinya. Keduanya, adalah penderitaan yang sama, disitulah konflik tercipta. Jika konflik dalam pikiran berhenti, maka yang tersisa adalah “apa adanya”, yang tidak lain adalah cahaya kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita bukanlah kata benda, kita adalah kata kerja.”&lt;br /&gt;(Buckminster Fuller)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tidak berdiam maupun tidak berjuang dalam perumpamaan banjir adalah mengenai terbebasnya kita dari belenggu berpikir. Pandangan ini mengingatkan kita akan perasaan pencapaian dan usaha keras dalam mencapai kualitas diri. Berusaha untuk bahagia, itu juga berarti mengingkari adanya kebahagiaan pada “saat ini”.  Berusaha agar memiliki cinta kasih, itu juga berarti mengingkari adanya cinta kasih.  Jelas sekali, kemampuan mental tidak bisa didekte dari luar. Boleh dibilang juga bahwa dogma tidak bisa menjangkau wilayah kecakapan spiritual. Spiritualitas itu urusan individu dan harus ditumbuhkan dari dalam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seorang guru meditasi pernah memancing sebuah pertanyaan.&lt;br /&gt;“Mengapa orang ingin bahagia?”&lt;br /&gt;Suasana waktu itu hening sejenak. Lalu, dia melanjutkan.&lt;br /&gt;“Orang ingin bahagia karena menderita. Sebenarnya sederhana saja. Jika dia bahagia maka dia tidak perlu lagi mengejar kebahagiaan.” &lt;br /&gt;Effortless practice adalah sikap sederhana yang membebaskan. Inilah rahasia dari para guru meditasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mari kita mulai dengan tersenyum yang bebas, tanpa beban. Berdiri secara bebas. Dan, Andapun bisa mengembangkannya dalam bekerja secara bebas. Hidup ini sungguh membahagiakan bagi mereka yang mengetahui dan mempraktikkan semua hal ini.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Be happy!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.facebook.com/note.php?note_id=399133160822&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-3948915894116236232?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/3948915894116236232/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=3948915894116236232' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/3948915894116236232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/3948915894116236232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2010/05/effortless-practice-in-daily-life.html' title='EFFORTLESS PRACTICE IN DAILY LIFE | Mengapa mesti membaca tulisan pendek ini?'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/S_c5nn8fzKI/AAAAAAAAAH8/x0WRU-xg5oM/s72-c/effort10198170-acchieve-your-success.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-1103064236546389205</id><published>2010-02-26T00:47:00.000-08:00</published><updated>2010-02-26T01:02:52.673-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='spiritualitas yang menembus batas tradisi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kusala bhiksu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ebook gratis spiritualitas'/><title type='text'>Spiritualitas yang Menembus Batas Tradisi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.vanderbilt.edu/religiouslife/interfaith-harmony.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 308px; height: 308px;" src="http://www.vanderbilt.edu/religiouslife/interfaith-harmony.gif" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat seorang teman bertanya, "&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kusala, kamu pikir,&lt;br /&gt;Buddhisme adalah agama yang terbaik?&lt;/span&gt; "&lt;br /&gt;Dan saya berkata, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Saya pikir Buddhisme adalah agama&lt;br /&gt;terbaik bagi Umat Buddha.&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Rev. Kusala Bhiksu&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika saya merenung. Seandainya saya lahir di Arab, maka kemungkinan besar saya akan muslim. Seandainya saya lahir di Tibet, maka saya akan menjadi penganut buddhisme vajrayana. Seandainya saya lahir di negara dengan dominan mahayana, maka saya akan menjadi seorang mahayanis. Walaupun kita menentukan apa yang kita inginkan, namun harus diakui pula bahwa pada umumnya keadaan dominan ikut menentukan keberadaan kita saat ini. Saya pernah berbangga diri sebagai penganut agama minoritas dengan sekte tertentu di antara mayoritas yang ada. Belakangan saya memahami bahwa ada&lt;br /&gt;spiritualitas universal yang lebih menarik dan berharga untuk dipelajari, daripada berhenti dalam pembenaran sekte atau agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silakan simak kelanjutannya dalam e-book pada link berikut ini&lt;br /&gt;&lt;a href = "http://www.ziddu.com/download/8744667/SpiritualitasMenembusBatasTradisied120209.pdf.html"&gt; http://www.ziddu.com/download/8744667/SpiritualitasMenembusBatasTradisied120209.pdf.html &lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini beberapa petilan kutipan dalam e-book tsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Keterbukaan membuat perbaikan diri menjadi mungkin. &lt;br /&gt;Hubungan dari suasana dialog menjadi hubungan saling belajar, &lt;br /&gt;saling memperkaya pengalaman spiritual masing-masing. &lt;br /&gt;Sementara spiritualitas yang dipahami secara sempit hanya &lt;br /&gt;merupakan kelanjutan dari keakuan dan kebodohan.&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Spiritualitas membuat kita sadar bahwa hanya ada satu &lt;br /&gt;kebutuhan bagi semua orang di dunia ini, yaitu kebahagiaan, &lt;br /&gt;terlepas apapun bahasa yang digunakan dalam setiap tradisi.&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pada dasarnya, spiritualitas kian disadari sebagai &lt;br /&gt;penyelesaian atas krisis dalam kehidupan kontemporer ini. &lt;br /&gt;Kini manusia lebih membutuhkan pendekatan intuitif yang &lt;br /&gt;diwujudkan pada tindakan yang didasari cinta kasih, dari &lt;br /&gt;pada pembenaran doktrin yang sering justru jauh dari praktik.&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://i281.photobucket.com/albums/kk240/2008EarthHealing/2009%20Earth%20Keepers/interfaithlogo2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 298px;" src="http://i281.photobucket.com/albums/kk240/2008EarthHealing/2009%20Earth%20Keepers/interfaithlogo2.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-1103064236546389205?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/1103064236546389205/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=1103064236546389205' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/1103064236546389205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/1103064236546389205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2010/02/spiritualitas-yang-menembus-batas.html' title='Spiritualitas yang Menembus Batas Tradisi'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i281.photobucket.com/albums/kk240/2008EarthHealing/2009%20Earth%20Keepers/th_interfaithlogo2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-8752603446502358414</id><published>2010-02-26T00:29:00.000-08:00</published><updated>2010-02-26T00:34:18.250-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='intuitive wisdom hypnosis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='meditasi dari sudut pandang psikoterapi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='victor alexander liem'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ebook gratis meditasi'/><title type='text'>PRACTISING A SIMPLE MEDITATION: Make Your OwnTherapy</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.eyesclosed.org/img/hires/yoga.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 640px; height: 426px;" src="http://www.eyesclosed.org/img/hires/yoga.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi jika meditasi dilihat dari sudut pandang psikoterapi? &lt;br /&gt;Silakan download gratis e-book berjudul "&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pracising A Simple Meditation: Make Your Own Therapy!&lt;/span&gt;" Bagi yang ingin mengetahui meditasi tanpa banyak uraian filsafat spiritual, tapi lebih pada kemasan psikologi praktis, e-book ini wajib di baca. &lt;br /&gt;Ini Link Downloadnya. &lt;a href = "http://downloads.ziddu.com/downloadfile/8200097/simple_meditation_therapy.pdf.html"&gt; http://downloads.ziddu.com/downloadfile/8200097/simple_meditation_therapy.pdf.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sedikit kutipan dalam e-book tsb:&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Seperti apa parameter kebahagiaan? Jika Anda telah bisa membedakan antara kebahagiaan dan kesenangan, maka Anda akan lebih mudah memahami meditasi. Tujuan praktik meditasi bukanlah melenyapkan masalah, tapi mengubah cara respon Anda terhadap masalah. Anda akan tetap bahagia walaupun memiliki masalah. Hal itu yang sering disebut sebagai masalah yang tidak “masalah” lagi. Orang yang paling bahagia adalah orang yang bisa hidup dalam arus perubahan. Parameter kemajuan meditasi adalah kesiapan menghadapi ketidakpastian dalam hidup.&lt;/span&gt;" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam e-book tsb akan menjawab beberapa pertanyaan, seperti: &lt;br /&gt;(1) Apa itu psikoterapi? &lt;br /&gt;(2) Apa itu meditasi? &lt;br /&gt;(3) Apa itu trance &amp; hypnosis? &lt;br /&gt;(4) Apa itu kebahagiaan dan perbedaannya dengan kesenangan? &lt;br /&gt;(5) Apa itu RAS (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Reticular Activating System&lt;/span&gt;) dan hubungannya dengan meditasi pernapasan? &lt;br /&gt;(6) Apa itu intuitive wisdom hypnosis? &lt;br /&gt;(7) Apa itu tranquility dan insight?&lt;br /&gt;(8) Termasuk didalamnya ada petunjuk praktik meditasi sebagai terapi mandiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-8752603446502358414?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/8752603446502358414/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=8752603446502358414' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/8752603446502358414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/8752603446502358414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2010/02/practising-simple-meditation-make-your.html' title='PRACTISING A SIMPLE MEDITATION: Make Your OwnTherapy'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-6325042128021874423</id><published>2010-02-26T00:13:00.000-08:00</published><updated>2010-02-26T00:24:14.197-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='spiritualitas di tempat kerja'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='AUSEECL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='menabuh benih spiritual'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='benih spiritual'/><title type='text'>Menebar Benih Spiritual demi Kemajuan Bersama: Tips Ber-AUSEECL</title><content type='html'>“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Setiap orang di dunia ini, apapun pekerjaannya,&lt;br /&gt;memainkan peran penting dalam sejarah dunia.&lt;br /&gt;Dan biasanya orang itu sendiri tidak menyadarinya.&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Paulo Coelho&lt;/span&gt;, dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sang Alkemis&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/S4eEGw83SKI/AAAAAAAAAHs/G40Cq7qa1Fs/s1600-h/plan_seedofpeace.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 220px; height: 258px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/S4eEGw83SKI/AAAAAAAAAHs/G40Cq7qa1Fs/s320/plan_seedofpeace.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5442463926454798498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan diatas saya anggap bisa mewakili pandangan akan spiritualitas yang berperan dalam kehidupan pribadi dan sosial. Saya akan uraikan pemahaman ini dalam tulisan singkat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua entah disadari atau tidak, hidup dalam ketergantungan satu sama lain. Sebagai contoh yang sederhana adalah pakaian yang Anda kenakan. Bukankah kancing, kain, benang, pewarna, semua itu bukan Anda yang membuatnya. Anda tidak mungkin bisa hidup seperti sekarang ini tanpa peranan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membayangkan kita bisa hidup dalam kesadaran yang tidak membatasi diri pada identitas diri maupun kelompok, ada kerjaama untuk tujuan universal.  &lt;br /&gt;Gagasan ini terlintas setelah tanggal 20 Februari 2010, saya mengikuti seminar bertajuk “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Menghadapi perubahan, sukses dalam era globalisasi&lt;/span&gt;”. Pelajaran baru dalam seminar yang mengajarkan bahwa kesulitan mesti dihadapi dan dipelajari, lalu mengambil tindakan untuk kemajuan bersama. Jika diringkas memang sangat sederhana namun kita sering melupakan kemajuan bersama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spiritualitas bukanlah aktivitas pribadi yang mengorbankan kepentingan lainnya. Itulah mengapa Master Thich Nhat Hanh pernah menulis: “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Meditasi bukan ditujukan agar kita keluar dan menarik diri dari masyarakat, namun untuk mempersiapkan diri kita memasuki kembali dunia masyarakat&lt;/span&gt;.” Kita bisa membayangkan apa jadinya, jika individu-individu yang memiliki kualitas kebahagiaan dan kedamaian berkumpul dan membaur dalam masyarakat. Atau sebaliknya, apa jadinya dunia ini jika setiap individu hidup dalam kemarahan dan kebencian. Apa yang terjadi bila orang-orang pembenci berkumpul menjadi satu? Sangat berbahaya jika spiritualitas itu tidak menjadi sikap keseharian kita di tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Spiritualitas itu adalah fondasi bagi pemecahan masalah&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah sering pula manusia terjebak dengan identitas kelompoknya, entah itu agama, suku, latar belakang, organisasi, atau apapun. Spiritualitas adalah tentang kebutuhan manusia yang paling mendasar, yaitu kebahagiaan. Ketika seseorang bisa hidup bahagia dan damai, dia akan lebih bisa menghadapi keadaan walaupun hal itu sulit. Ketegaran mempelajari masalah adalah awal yang baik dan memang harus dilalui seperti itu. Kita tidak mungkin bisa menyelesaikan masalah, jika belum mengetahui masalahnya seperti apa. Itulah alasan saya memahami bahwa spiritualitas itu adalah fondasi bagi pemecahan masalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga pilihan yang saya sajikan di sini. Yang pertama, Anda menjadi pemecah masalah (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;problem solver&lt;/span&gt;). Kedua, menjadi pendukung untuk pemecahan masalah (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;supporter for the problem solving&lt;/span&gt;). Yang ketiga, adalah yang berbahaya, yaitu menjadi pembuat masalah (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;problem maker&lt;/span&gt;).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda belajar hidup bahagia, maka Anda sudah menjadi sang pendukung bagi jalannya pemecahan masalah. Jika Anda memiliki peranan dalam kehidupan sosial, maka Anda perlu menjadi sang pemecah masalah dengan dasar pikiran yang bahagia. Jika Anda bukan keduanya, maka sudah pasti itu berarti Anda adalah sang pembawa masalah. &lt;br /&gt;Dalam bentuknya yang praktis, itu adalah AUSEECL. &lt;br /&gt;A=Acceptibility&lt;br /&gt;U=Understanding&lt;br /&gt;S=Solution&lt;br /&gt;E=Action&lt;br /&gt;E=Evaluation&lt;br /&gt;C=Competency&lt;br /&gt;L=Legacy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/S4eEMLxLDCI/AAAAAAAAAH0/npbi850ak-o/s1600-h/plantheseed.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 113px; height: 116px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/S4eEMLxLDCI/AAAAAAAAAH0/npbi850ak-o/s320/plantheseed.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5442464019552865314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara ringkas, saya jelasakan seperti ini.&lt;br /&gt;Penerimaan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;acceptibility&lt;/span&gt;) terhadap perubahan atau masalah pada saat awal adalah sangat manusiawi jika kita mengalami penolakan (denial). Semakin orang itu bahagia, dia akan bisa mengatasi fase penolakan lebih baik. Jika keadaan tidak enak itu ditolak, maka hal itu hanya buang-buang waktu karena kenyataannya masalah itu tidak mungkin dihindari lagi. Pemahaman (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;understanding&lt;/span&gt;) diawali oleh kesadaran akan adanya masalah. Pemahaman akan memberikan solusi (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;solution&lt;/span&gt;). Setelah itu kita bisa melakukan aksi (action) penyelesaian masalah. Bentuk penyelesaian butuh proses menuju kesempurnaan, untuk itu proses evaluasi (evaluation) dibutuhkan. Upaya penyelesaian ini akan membuat diri kita bertambah terampil (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;competency&lt;/span&gt;). Semakin bertambah terampil, maka hal itu akan menjadi pelajaran berharga untuk menjadi warisan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;legacy&lt;/span&gt;) bagi orang lain termasuk generasi berikutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menabur benih spiritual bisa diwujudkan dalam AUSEECL. Kemajuan bersama bukan hanya urusan orang-orang berwenang saja. Semua pihak memiliki peranan. Yang dibutuhkan bukan satu benih yang menjadi pohon yang sangat besar. Tapi benih yang sebanyak-banyaknya, yang tidak lain setiap orang yang ber-AUSEECL dalam lingkungannya masing-masing. Semua itu berawal dari spiritualitas universal.&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; Agama, organisasi, tradisi, semua itu bukanlah sekat-sekat yang membuat terkucil satu sama lain, tapi justru menjadi pos-pos penebar benih yang membuat kekayaan kemajemukan yang memberi kedamaian dan kebahagiaan&lt;/span&gt;. Dengan demikian, diri kita akan bahagia dan juga dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga semua orang berbahagia!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-6325042128021874423?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/6325042128021874423/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=6325042128021874423' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/6325042128021874423'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/6325042128021874423'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2010/02/menebar-benih-spiritual-demi-kemajuan.html' title='Menebar Benih Spiritual demi Kemajuan Bersama: Tips Ber-AUSEECL'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/S4eEGw83SKI/AAAAAAAAAHs/G40Cq7qa1Fs/s72-c/plan_seedofpeace.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-6063160013836754462</id><published>2010-01-16T21:53:00.000-08:00</published><updated>2010-01-16T22:00:30.849-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='riwayat spiritualitas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ketika semuanya bersatu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='spiritualitas universal'/><title type='text'>RIWAYAT SPIRITUALITAS: Ketika Semuanya Bersatu</title><content type='html'>"&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Orang yang spiritualitasnya berkembang melalui &lt;br /&gt;nilai-nilai positif dari disiplin, &lt;br /&gt;penguasaan dan cinta, adalah orang yang memiliki &lt;br /&gt;kompetensi luar biasa, dan mereka terpanggil dan &lt;br /&gt;menjawab panggilan untuk melayani dunia dengan cinta mereka&lt;/span&gt;." &lt;br /&gt;(&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;M. Scott Peck, M.D&lt;/span&gt;, dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Road Less Traveled&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;...sesuatu apapun yang mementingkan keistimewaan tradisi religius dapat&lt;br /&gt;bertemu dalam pengalaman mistis: kebenaran atau ketuhanan yang&lt;br /&gt;berada di luar jangkauan interpretasi disediakan oleh tradisi tersebut&lt;/span&gt;”.&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tyler T. Roberts&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/S1KmkmTK_VI/AAAAAAAAAHU/Kk5UUU-6iAw/s1600-h/Spiritual+Breakthrough+Insert.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 204px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/S1KmkmTK_VI/AAAAAAAAAHU/Kk5UUU-6iAw/s320/Spiritual+Breakthrough+Insert.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5427583648621329746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah “spiritual” berasal dari kata dasarnya “spirit”, yang berarti roh. Ada juga istilah lain yaitu: “spiritus” dalam Bahasa Latin berarti bahan bakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad ke-20, muncul gerakan New Age yang berkembang besar dengan kombinasi dari perbedaan spiritual, sosial, politik dalam bentuk harapan baru untuk mentransformasikan individu dan sosial dalam kesadaran spiritual. Tujuan dari gerakan ini adalah menciptakan harmoni dan kemajuan dalam kehidupan manusia yang terasa terlalu materialistik, dan meniadakan ruang bagi ketenangan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemaknaan akan spiritualitas telah berkembang dalam pengertian yang tidak semata-mata tentang roh, fenomena supranatural, dan lain-lain. Dr. Bruce Goldberg, seorang terapis, pernah menyebutkan bahwa spiritualitas menghubungkan pengetahuan inti dengan sumber kekuatan yang tercermin dalam eksistensi, pengetahuan, dan perbuatan seseorang. Spiritualitas menjelaskan suatu semangat baru, yang tidak nampak tapi memberi tindakan manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spiritualitas juga lebih dikaitkan dengan mistisisme, yang sering disebut sebagai harta karun yang mulai terungkap pada abad ke-21. Pemahaman mistis ini bukanlah sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat gaib. Pemahaman mistis adalah pengetahuan intuitif, pengetahuan langsung, pengetahuan akan Tuhan, ataupun istilah lainnya yang tergantung dari setiap tradisi spiritual. Kehidupan mistis dicirikan dengan vitalitas, produktivitas, ketentraman dari dalam, yang dapat keluar dalam bentuk harmoni dengan alam dan Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga yang menyebutkan bahwa mistisisme merupakan gerakan spiritual yang muncul atas respon akan gagalnya tugas agama terorgnisir (organized religion). Agama yang seharusnya berfungsi untuk mengenalkan spiritualitas universal, justru menjadi pagar pembatas yang membuat butanya empati dan lebih sering memberikan konflik terutama terhadap mereka yang berbeda keyakinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memahami spiritualitas tidak harus selalu dikontraskan dengan agama sebagaimana pada uraian di atas. Kadang hal ini semakin diperuncing dengan memperlebar kesenjangan antara agama dan sains. Dalam Indonesian Conferenceon Religion and Peace (ICRP) dan kerjasama dengan beberapa organisasi keagamaan lainnya, pada tanggal 30 Juli 2009, Musdah Mulia pernah mengatakan bahwa jika kembali pada prinsip dasar agama, agama dan sains bertujuan untuk memberikan kebahagiaan pada manusia. Ketika agama dijadikan pedoman hidup yang tidak menghakimi orang lain, apalagi sebagai sumber konflik, agama dapat memberi pencerahan pada manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa fenomena yang lain, terutama kurang lebih dasawarsana terakhir ini, spiritualitas adalah pemahaman yang paling dicari dan memberi manfaat bagi banyak kalangan, yang diharapkan memberi solusi atas krisis manusia modern yang kian materialistik dan minimnya kepedulian terhadap sesama. Gerakan lintas agama yang cukup bergema juga didasari pemahaman spiritualitas universal seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/S1Kmz_UR-SI/AAAAAAAAAHc/IMjVMknG-e8/s1600-h/spiritual.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 317px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/S1Kmz_UR-SI/AAAAAAAAAHc/IMjVMknG-e8/s320/spiritual.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5427583913034905890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika semuanya bersatu, baik agama, aliran filsafat, tradisi spiritual, saya rasa dunia ini akan lebih baik.&lt;br /&gt;Toleransi, kerjasama, penghargaan terhadap perbedaan, semuanya bahu membahu memerangi ketidakbahagiaan dalam hidup.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-6063160013836754462?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/6063160013836754462/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=6063160013836754462' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/6063160013836754462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/6063160013836754462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2010/01/riwayat-spiritualitas-ketika-semuanya.html' title='RIWAYAT SPIRITUALITAS: Ketika Semuanya Bersatu'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/S1KmkmTK_VI/AAAAAAAAAHU/Kk5UUU-6iAw/s72-c/Spiritual+Breakthrough+Insert.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-9144336650191716718</id><published>2009-12-06T03:20:00.000-08:00</published><updated>2009-12-06T03:25:53.888-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manfaat meditasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kemasan meditasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='studio meditasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='latihan meditasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='spiritualitas kontemporer'/><title type='text'>Ayo Latihan Meditasi Yuk!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.thegiftofmusic.com/acatalog/1026-Meditation-250.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 251px;" src="http://www.thegiftofmusic.com/acatalog/1026-Meditation-250.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikata Anda diajak seseorang. “Ayo, latihan meditasi Yuk!” Atau ajakan bernada lainnya. Kali ini memperomosikan pengalaman mistis. “Ayo merasa ‘Tuhan’ dalam diri Yuk!” Atau yang sedikit berupaya menyadarkan. “Jangan cuma beragama, tapi berspiritual.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita akan bertanya, apa itu spiritualitas?&lt;br /&gt;Yang jelas, spiritualitas bukanlah hal baru. &lt;br /&gt;Jika kita runtut kebelakang sedikit, pada abad ke-20, muncul gerakan New Age yang berkembang besar dengan kombinasi dari perbedaan spiritual, sosial, politik dalam bentuk harapan baru untuk mentransformasikan individu dan sosial dalam kesadaran spiritual. Tujuan dari gerakan ini adalah menciptakan harmoni dan kemajuan dalam kehidupan manusia yang terasa terlalu materialistik, dan meniadakan ruang bagi ketenangan jiwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spiritualitas juga lebih dikaitkan dengan mistisisme, yang sering disebut sebagai harta karun yang mulai terungkap pada abad ke-21. Pemahaman mistis ini bukanlah sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat gaib. Pemahaman mistis, dalam hal ini, adalah pengetahuan intuitif, pengetahuan langsung, pengetahuan akan Tuhan, ataupun istilah lainnya yang tergantung dari setiap tradisi. Kehidupan mistis dicirikan dengan vitalitas, produktivitas, ketentraman dari dalam, yang dapat keluar dalam bentuk harmoni dengan alam dan Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.meditateinsingapore.org/classes/images/vicky(jan03).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 283px; height: 378px;" src="http://www.meditateinsingapore.org/classes/images/vicky(jan03).jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, saya perhatikan meditasi masih dikemas dalam bingkai spiritualitas “murni” yang belum bisa mengakomodir kebutuhan orang modern beserta hiruk pikuknya sebagai pekerja profesional. Semua ini hanya masalah “kemasan”. Meditasi secara ilmiah telah membuktikan beberapa pengaruh positif bagi kehidupan sehari-hari, selain tentu saja membuat kesehatan lebih baik. Kebahagiaan dan kedamaian yang tumbuh dari dalam adalah faktor efektivitas dalam bekerja termasuk mendukung tujuan profesional. Pikiran yang tenang dan damai juga mampu memberikan “cetusan” kreativitas yang menjadi hal penting pada era konseptual ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama ini saya membaca buku berjudul “Misteri Otak Kanan” karya Daniel H. Pink. Disebutkan bahwa kita ini hidup pada era transisi, yaitu antara era informasi dan era konseptual. Pada era konseptual, akan banyak pekerja kreativitas, yang  mengandalkan kemampuan otak kanan. Selain itu pada era ini, makna mulai dicari. Demam spiritualitas tidak terhindarkan lagi. Hal ini adalah konsekuensi ketika materi berlimpahan, orang mulai tidak menemukan kebahagiaan melalui kemajuan materi. Seorang teman pernah berujar, bahwa pencarian makna itu sudah ada sejak dahulu. Sungguh tepat pendapat ini. Yang berbeda dari orang modern akan upaya mencari makna ketika kemajuan materi tidak mampu memberikannya. Spiritualitas yang hanya berfilsafat tidak akan banyak membantu walaupun hal itu perlu sebagai tahap dasar. Kearifan kuno melalui praktik yoga dan meditasi akan menjadi trend “baru”.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini meditasi sudah dikenal sebagai terapi psikologi terbaik, yang bukan milik agama tertentu. Sebuah kearifan telah melampaui zaman termasuk melampaui  tradisi agama dan budaya.  Beberapa hal telah menandaskan kenyataan ini.  Majalah Times dari Amerika pada Agustus 2003 dalam edisi khususnya mengulas meditasi yang diminati kaum profesional. Perkembangan yang lain, di Amerika Serikat meditasi ditawarkan di sekolah-sekolah, rumah sakit, biro-biro hukum, gedung pemerintahan, kantor perusahaan-perusahaan dan penjara. Di airport, ruang meditasi dapat ditemui selain kapel sembahyang dan kios internet, bahkan menurut Harvard Law Review edisi musim semi 2002, meditasi menjadi salah satu subjek pelajaran di akademi militer West Point. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemasan meditasi di luar negeri begitu berbeda di Indonesia yang masih saja sebagian orang berpikir sempit dan penuh curiga dengan menganggap meditasi sebagai praktik agama. Tony Buzan, seorang pakar kreativitas, pernah menandaskan bahwa meditasi itu tidak perlu dipahami seperti itu, walaupun sebagian tradisi spiritual agama mempraktikkan hal itu. Itulah mengapa ketika kita membaca buku-buku SQ di Indonesia, bagian terpenting tentang terapi meditasi tidak dibahas. Cukup banyak buku-buku manajemen dan perkembangan kepribadian yang menyinggung tentang empathy  dan awareness. Namun sesungguhnya mustahil menumbuhkan dua hal itu tanpa meditasi. Penyakit psikologis harus diatasi dengan terapi, bukan hanya dengan rasio. Itu seperti mencoba mengembangkan SQ dan EQ hanya berhenti pada IQ. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika informasi meditasi telah banyak beredar dengan kemasan yang menjawab kebutuhan orang modern, maka akan lebih mudah mengajak orang belajar meditasi. Bayangkan jika suatu saat kita diajak seseorang. “Ayo latihan meditasi Yuk!” Dengan mudahnya kita bisa bergabung dengan studio meditasi terdekat di kota kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-9144336650191716718?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/9144336650191716718/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=9144336650191716718' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/9144336650191716718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/9144336650191716718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2009/12/ayo-latihan-meditasi-yuk.html' title='Ayo Latihan Meditasi Yuk!'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-2543273148137990128</id><published>2009-11-30T06:31:00.000-08:00</published><updated>2009-11-30T07:06:04.533-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hermeneutik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='using no way as way'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='melampaui simbol agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='vincent crapanzano'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='menafsir'/><title type='text'>Melampaui Simbol Agama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SxPe1_mynUI/AAAAAAAAAHM/ttvciopj4gk/s1600/Symbols_of_Religions.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 315px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SxPe1_mynUI/AAAAAAAAAHM/ttvciopj4gk/s320/Symbols_of_Religions.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5409912596590665026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mengapa Tuhan tertawa di saat manusia berpikir?&lt;br /&gt;Sebab ketika manusia berpikir, kebenaran menghapus dirinya.&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Milan Kundera&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar tahun 2001, saya baru mengetahui bahwa beberapa pemuka agama memperkaya pengalaman rohaninya dengan wawasan yang lebih luas. Mereka mempelajari sesuatu yang disebut hermeneutik, yaitu sebuah metode tertentu untuk menafsirkan sesuatu.&lt;br /&gt;Jika metode tersebut diterapkan pada rasionalisasi agama, maka dapat dipahami bahwa penafsiran terhadap agama diperoleh dengan mencari dan menganalisa makna di balik teks kitab suci. Keyakinan agama menjadi tidak harus mengikuti teks secara harafiah, karena disadari bahwa beragama menjadi berbahaya ketika terjadi salah tafsir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa bermaksud mengutak-atik teori filsafat yang rumit, mari kita bicara sedikit tentang hermeneutik. Hermeneutik berasal dari bahasa Yunani &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hermeneuein&lt;/span&gt; yang berarti menafsirkan. Istilah Yunani ini mengingatkan pada tokoh mitologis Hermes. Hermeneutik sering diartikan sebagai proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hermeneutik dikenal adanya keyakinan akan makna transendental. Transendental adalah makna yang tidak tampak dalam teks. Menurut Jacques Derrida, seorang Filsuf Perancis yang paling banyak memengaruhi tradisi hermeneutik saat ini, bahwa makna itu adalah hasil ciptaan atau permainan dari teks itu sendiri. Artinya, antara teks dan makna sebetulnya tidak ada hubungan langsung. Misalnya, kata “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;kursi&lt;/span&gt;” digunakan untuk mewakili tempat duduk. Kata bahasa Inggris “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;chair&lt;/span&gt;” digunakan untuk maksud yang sama. Namun, apa hubungannya “kursi” dengan realitas di luar sana yang mengacu pada suatu benda yang berfungsi sebagai tempat duduk? Mengapa harus “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;kursi&lt;/span&gt;”? Mengapa harus “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;chair&lt;/span&gt;”? Mengapa tidak “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;meja&lt;/span&gt;”? Mengapa tidak menggunakan “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;table&lt;/span&gt;”? Mengapa tidak dibalik? Kata “table” untuk menunjuk realitas tempat duduk, dan sebaliknya. Pada dasarnya, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;tidak ada relasi yang kuat antara teks dan realitas yang ingin diwakilinya&lt;/span&gt;. Pikirkan sejenak! Tidak ada hubungan antara sebuah kata dan sesuatu yang dimaksud, bukan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna transendental juga menegaskan bahwa sebenarnya tidak ada makna dalam teks itu, kitalah yang kreatif membuat maknanya. Ketika sebuah pemahaman dibahasakan, maka pada saat itu “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;pemahaman&lt;/span&gt;” telah mati, hanya menjadi simbol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vincent Crapanzano pernah menjelaskan hal ini dalam analogi yang lebih sederhana. Vincent mengingatkan kembali pada tokoh Hermes dalam legenda Yunani Kuno. Hermes adalah seorang tokoh mitologi yang bertugas menerjemahkan pesan-pesan Dewa di Gunung Olympus ke dalam bahasa yang bisa dimengerti umat manusia. Hermes berjanji kepada Dewa Zeus untuk tidak berbohong, tetapi ia tidak berjanji untuk mengatakan seluruhnya dari kebenaran yang diterimanya. Namun, walaupun Hermes tidak bermaksud untuk berbohong pada siapa pun, akan selalu ada sesuatu yang tidak tersampaikan olehnya. Jika kita kembali pada masalah penafsiran agama, terutama penafsiran kitab suci, maka &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;agama tidak akan pernah lepas dari kekurangan dalam menjelaskan kebenaran karena keterbatasan dari tulisan itu sendiri&lt;/span&gt;.  &lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita telah mengetahui bahwa Agama terbagi menjadi dua bagian, yaitu Agama Tuhan (Samawi)—yang dipercaya berasal dari Wahyu Tuhan, dan Agama Manusia—sebuah pandangan hidup yang bersumber pada ajaran manusia sendiri. Baik Agama Tuhan maupun Agama Manusia bernasib sama. Semua pesan spiritual membutuhkan pemahaman dan interpretasi. Wahyu tidak hanya dimengerti sebatas kitab suci yang harus diyakini, tetapi juga dipahami. Karena adanya proses pemahaman itu, Agama Tuhan pun menjadi Agama Manusia. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kebijaksanaan Intuitif&lt;/span&gt; adalah tentang pemahaman ini. Jika memang dibutuhkan keyakinan, maka keyakinan itu harus dibangun atas dasar pemahaman. Pada tahap awal kita butuh keyakinan akan sesuatu yang belum kita mengerti sebelumnya. Namun, pada tahap selanjutnya dan tahap akhir kita butuh pemahaman yang lebih mendalam. Jika tidak, maka selamanya kita tidak akan pernah mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikutip dari buku &lt;a href="http://penerbitmmp.blogspot.com/2009/04/using-no-way-as-way-rahasia-kebahagiaan.html"&gt; USING NO WAY AS WAY! &lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-2543273148137990128?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/2543273148137990128/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=2543273148137990128' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/2543273148137990128'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/2543273148137990128'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2009/11/melampaui-simbol-agama.html' title='Melampaui Simbol Agama'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SxPe1_mynUI/AAAAAAAAAHM/ttvciopj4gk/s72-c/Symbols_of_Religions.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-2422749907206284007</id><published>2009-11-22T02:10:00.001-08:00</published><updated>2009-11-22T02:17:57.297-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bersikeras'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='confucius'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='yan hui'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kemenangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kekalahan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='melawan'/><title type='text'>Confucius &amp; Yan Hui</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/11/HanShan_by_Yan_Hui.jpg/200px-HanShan_by_Yan_Hui.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 593px;" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/11/HanShan_by_Yan_Hui.jpg/200px-HanShan_by_Yan_Hui.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barusan dapat email yang begitu menginspirasi. Coba simak!              &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                            &lt;br /&gt;Yan Hui adalah murid&lt;br /&gt;kesayangan Confusius yang suka belajar, sifatnya      &lt;br /&gt;baik. Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu    &lt;br /&gt;toko kain sedang dikerumunin banyak orang. Dia mendekat dan mendapati      &lt;br /&gt;pembeli dan penjual kain sedang berdebat.                                  &lt;br /&gt;                                                                                                                                                        &lt;br /&gt;Pembeli&lt;br /&gt;berteriak: "3x8 = 23, kenapa kamu bilang 24?"                      &lt;br /&gt;Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: "Sobat, 3x8 = 24, tidak usah  &lt;br /&gt;diperdebatkan lagi"                                                        &lt;br /&gt;                                                                                                                                                       &lt;br /&gt;Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: "Siapa &lt;br /&gt;minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius.    &lt;br /&gt;Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan."                                                                                                    &lt;br /&gt;                             &lt;br /&gt;Yan Hui: "Baik, jika Confusius bilang kamu salah, bagaimana?"              &lt;br /&gt;                                                                            &lt;br /&gt;Pembeli kain: "Kalau Confusius bilang saya salah, kepalaku aku potong      &lt;br /&gt;untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?"   &lt;br /&gt;                            &lt;br /&gt;Yan Hui: "Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu."                                                                                                  &lt;br /&gt;                                                                            &lt;br /&gt;Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confusius. Setelah    &lt;br /&gt;Confusius tau duduk persoalannya, Confusius  berkata kepada Yan Hui sambil &lt;br /&gt;tertawa: "3x8 = 23.&lt;br /&gt;Yan Hui, kamu kalah. Kasihkan jabatanmu kepada dia."  &lt;br /&gt;                                                                                                                                                        &lt;br /&gt;Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya. Ketika mendengar    &lt;br /&gt;Confusius bilang dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada  &lt;br /&gt;pembeli kain. Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas.    &lt;br /&gt;Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confusius tapi hatinya tidak         &lt;br /&gt;sependapat. Dia merasa Confusius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak    &lt;br /&gt;mau lagi belajar darinya. Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan          &lt;br /&gt;keluarga. Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya.        &lt;br /&gt;Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confusius memintanya cepat kembali  &lt;br /&gt;setelah urusannya selesai, dan memberi Yan Hui dua nasehat : "Bila hujan  &lt;br /&gt;lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan membunuh." Yan Hui    &lt;br /&gt;bilang baiklah lalu berangkat pulang. Di dalam perjalanan tiba2 angin      &lt;br /&gt;kencang disertai petir, kelihatannya sudah mau turun hujan lebat. Yan Hui  &lt;br /&gt;ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba2 ingat nasehat Confusius dan    &lt;br /&gt;dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia          &lt;br /&gt;meninggalkan pohon itu. Belum lama dia pergi,&lt;br /&gt;petir menyambar dan pohon itu hancur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yan Hui terkejut, nasehat gurunya yang pertama sudah terbukti. &lt;br /&gt;Apakah saya akan membunuh orang? Yan Hui tiba dirumahnya sudah larut malam &lt;br /&gt;dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Dia menggunakan pedangnya untuk &lt;br /&gt;membuka kamarnya. Sesampai didepan ranjang, dia meraba dan mendapati ada  &lt;br /&gt;seorang di sisi kiri ranjang dan seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat    &lt;br /&gt;marah, dan mau menghunus pedangnya. Pada saat mau menghujamkan pedangnya,  &lt;br /&gt;dia ingat lagi nasehat Confusius, jangan membunuh. Dia lalu menyalakan    &lt;br /&gt;lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah adik istrinya.    &lt;br /&gt;                                                          &lt;br /&gt;Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confusius, berlutut dan berkata: &lt;br /&gt;"Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?"  Confusius berkata:    &lt;br /&gt;"Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir,        &lt;br /&gt;makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon. Kamu    &lt;br /&gt;kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru mengingatkanmu  &lt;br /&gt;agar jangan membunuh". Yan Hui berkata: "Guru, perkiraanmu hebat sekali,  &lt;br /&gt;murid sangatlah kagum." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Confusius bilang: "Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga.. &lt;br /&gt;Kamu tidak ingin belajar lagi dariku. Cobalah kamu pikir. Kemarin guru &lt;br /&gt;bilang 3x8=23 adalah benar, kamu kalah  dan kehilangan jabatanmu. Tapi &lt;br /&gt;jikalau guru bilang 3x8=24 adalah benar, &lt;br /&gt;si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa. &lt;br /&gt;Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting?"                                                                                  &lt;br /&gt;                                                                            &lt;br /&gt;Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata :&lt;br /&gt;"Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun. Murid benar2 malu." Sejak itu, kemanapun Confusius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.  &lt;br /&gt;                                                                            &lt;br /&gt;Cerita ini mengingatkan kita: Jikapun aku bertaruh dan memenangkan seluruh &lt;br /&gt;dunia, tapi aku kehilangan kamu, apalah artinya. Dengan kata lain, kamu    &lt;br /&gt;bertaruh memenangkan apa yang kamu anggap adalah kebenaran, tapi malah    &lt;br /&gt;kehilangan sesuatu yang lebih penting. Banyak hal ada kadar                &lt;br /&gt;kepentingannya. Janganlah gara2 bertaruh mati2an untuk prinsip kebenaran  &lt;br /&gt;itu, tapi akhirnya malah menyesal, sudahlah terlambat.                    &lt;br /&gt;                                                                            &lt;br /&gt;Banyak hal sebenarnya tidak perlu dipertaruhkan.&lt;br /&gt;Mundur selangkah, malah  yang didapat adalah kebaikan bagi semua orang.                            &lt;br /&gt;                                                                            &lt;br /&gt;Bersikeras melawan pelanggan. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.    &lt;br /&gt;(Saat kita kasih sample barang lagi, kita akan mengerti)                  &lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;Bersikeras melawan boss. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Saat    &lt;br /&gt;penilaian bonus akhir tahun, kita akan mengerti)                          &lt;br /&gt;Bersikeras melawan istri. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Istri  &lt;br /&gt;tidak mau menghirau kamu, semua harus "do it yourself")                    &lt;br /&gt;Bersikeras melawan teman. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.        &lt;br /&gt;(Bisa-bisa kita kehilangan seorang teman)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-2422749907206284007?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/2422749907206284007/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=2422749907206284007' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/2422749907206284007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/2422749907206284007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2009/11/confucius-yan-hui.html' title='Confucius &amp; Yan Hui'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-3693774214756347731</id><published>2009-11-11T07:39:00.000-08:00</published><updated>2009-11-11T07:42:28.919-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bunda terese'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sedekah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='obyek kasihan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='menilai orang lain'/><title type='text'>MENCINTAI ORANG LAIN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://belanegarari.files.wordpress.com/2009/05/bangun-hss-dgn-cinta.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 396px;" src="http://belanegarari.files.wordpress.com/2009/05/bangun-hss-dgn-cinta.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“J&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ika Anda menilai orang, Anda tak punya waktu untuk mengasihinya.&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Bunda Teresa)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu waktu Aku melihat sebuah pengemis yang bertubuh cacat. Tubuhnya nampak tidak lazim, melengkung ke kanan, sehingga jika berjalan bagian atas tubuhnya miring. Seakan-akan kepala sejajar dengan tinggi pinggangnya. Belum pernah Aku melihat pengemis seperti itu, terlebih ketika berhenti di perempatan jalan raya.&lt;br /&gt;Seorang pengemudi yang lain memberi sedekah yang tidak seberapa. Pengemis itu mendekat dan mengambilnya walaupun terlihat berjalan agak sempoyongan karena berat tubuh yang tidak seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat ada pengemudi lain, yang agak jauh dari pengemudi yang pertama itu memberi sedekah, seorang penjaja koran membantu dengan mengambilkan uang sedekah itu pada Sang Pengemis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun merasa iba dan ikut memberi sedekah. Hanya itu yang bisa kulakukan.&lt;br /&gt;Kita ini mudah sekali kasihan pada orang yang nasibnya jauh dibawah kita. Obyek kasihan yang teramat sulit adalah terhadap orang yang sombong, yang merasa memiliki keadaan yang lebih baik dari kita. Mungkin hal itulah yang membuat Bunda Teresa pernah berkata, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jika Anda menilai orang, Anda tak punya waktu untuk mengasihinya&lt;/span&gt;.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-3693774214756347731?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/3693774214756347731/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=3693774214756347731' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/3693774214756347731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/3693774214756347731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2009/11/mencintai-orang-lain.html' title='MENCINTAI ORANG LAIN'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-8869293978749300745</id><published>2009-10-03T18:53:00.000-07:00</published><updated>2009-10-03T18:56:45.366-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manfaat meditasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='trend meditasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='time'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='the science of meditation meditasi sebagai terapi'/><title type='text'>PEMBUKTIAN ILMIAH MANFAAT MEDITASI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.martialdevelopment.com/wordpress/wp-content/images/time-science-of-meditation.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 259px;" src="http://www.martialdevelopment.com/wordpress/wp-content/images/time-science-of-meditation.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga puluh tahun yang lalu, setelah gelombang hippy yang melanda dunia selama satu dekade mereda, dunia barat menemukan satu ilmu baru yang dapat mereka jadikan sebagai pegangan hidup yaitu meditasi. Ilmu ini sebelumnya tidak mereka tanggapi secara serius, karena praduga mereka yang mengaitkan meditasi dengan ilmu setan, ilmu tukang sihir dan sebagainya. Mereka takut bila belajar meditasi, jiwanya tidak dapat diselamatkan dan pintu sorga tertutup untuk selama-lamanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran kaum tradisional konservatif ini tidak terlalu ditanggapi secara serius oleh kaum hippy yang menganggap bahwa mereka menjadi budak dogma selama berabad-abad dan dikungkung dalam lingkup pandangan penuh curiga terhadap pandangan-pandangan maupun cara hidup yang lain. Oleh karena itu, mereka berusaha lebih bersahabat dengan alam, mereka umumnya memiliki pandangan yang jauh lebih terbuka, tak terikat pada dogma, sehingga siap menerima sesuatu yang baru dan sangat "exciting" yaitu meditasi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang perkembangan meditasi barat meningkat pesat secara eksponensial, sedemikian pesat perkembangannya sehingga meditasi dilatih dimana-mana, oleh semua golongan. Perkembangan meditasi ini sangat fenomenal, sehingga majalah times pada edisi 4 Agustus 2003 menurunkan meditasi sebagai artikel utamanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia barat sekarang menyambut meditasi dengan lebih antusias karena setelah mereka adakan riset dan percobaan terbukti ada manfaat besar yang bisa didapat oleh mereka yang melatih mediasi, yaitu selain untuk kesehatan batin juga untuk kesehatan jasmani (di dunia serba materialisme sekarang ini manfaat jasmani dianggap lebih menguntungkan daripada manfaat rohani). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal buku tuntunan meditasi Visuddhi Magga disebutkan bahwa hidup ini penuh kekusutan, dan isi Visuddhi adalah cara untuk menguraikan kekusutan tersebut. Salah satu cara meditasi dengan memusatkan perhatian pada empat landasan perhatian (satipatthana). Kurangnya perhatian pada manusia jaman sekarang sudah sangat parah, karena memang sesuai kamannya sangat banyak benda-benda yang membuat kita menjadi kurang perhatian terhadap diri kita sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa tahun belakangan ini para ahli psikiater barat mulai mengenali kelainan manusia jaman sekarang ini, dan mereka menyebut kelainan ini dengan istilah "attention deficit disorder (ADD) atau kelainan kurang perhatian (KKP)." Perhatian yang dimaksud di sini adalah perhatian terhadap semua aktivitas kita yang disertai kewaspadaan, bukan perhatian dari orangtua, teman dan sebagainya. Semua manusia awam memiliki kelainan ini dalam berbagai intensitas, kelihatannya sejalan dengan Visuddhi Magga yang menyebutkan bahwa KKP inilah yang menyebabkan dunia ini kusut. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa mereka yang berlatih meditasi lebih berkurang stressnya dan lebih bisa menguasai diri dibandingkan dengan mereka yang tidak berlatih meditasi? Pada riset yang dilakukan oleh Richard Davidson dari universitas Wisconsin dengan menggunakan mesin citra otak (brain imaging) ternyata meditasi membuat aktivitas pada prefrontal cortex dari bagian kiri ke bagian kanan,dari sebelah kiri bergeser ke sebelah kanan. Menurut riset Davidson dengan bermeditasi secara teratur, otak berubah dari penentangan yang menimbulkan stres menjadi penerimaan yang menimbulkan sifat merasa puas dan menerima. Sebab pada orang yang memiliki sifat-sifat negatif lebih cenderung menggunakan bagian prefrontal kanan; sedangkan prefrontal kiri lebih berhubungan dengan antusiasme, lebih pada rasa ketertarikan, lebih relaks dan cenderung lebih berbahagia walaupun agak kurang materialistik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga eksperimen yang dilakukan berkenaan dengan masalah kejiwaan, di pusat rehabilitasi Kings county utara dekat Seattle sekelompok residivis yang dikenakan hukuman penjara yang berhubungan dengan obat bius atau berhubungan dengan kejahatan karena alkohol tetapi tanpa kekerasan. Diajarkan berlatih meditasi Vipassana selama sepuluh hari, 11 jam sehari, secara bergantian meditasi duduk dan berjalan. Mereka yang dipilih adalah mereka yang sangat memerlukan rehabilitasi, karena memerlukan tekad yang kuat dari peserta meditasi untuk dapat menahan sesi meditasi selama 11 jam sehari. Sebagian dari mereka sebanyak 56% dari yang berlatih Vipassana kembali ke penjara dibandingkan dengan 75% residivis yang tidak berlatih Vipassana. Selain itu residivis yang berlatih Vipassana menggunakan lebih sedikit obat bius maupun alkohol, dan lebih sedikit mengalami depresi. Wendy Weisel pengarang "Daughters of Absence" hampir sepanjang hidupnya dilewatkan dengan meminum obat anti anksietas (kecemasan) sebelum berlatih Vipassana tiga tahun yang lalu, setelah berlatih vipassana ia sama-sekali terlepas dari obat-obatan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada test lain yang dilakukan terhadap meditator tingkat lanjutan ternyata memiliki kemampuan mengenali objek dengan cepat , meditator ini mengenali mood pada serentetan ekspresi wajah, yang bertukar dengan kecepatan tiga puluh ekspresi perdetik! Kemampuan para meditator ini melebihi kemampuan kelompok yang dianggap memang ahli dalam bidang ini seperti psikiater, petugas pabean, dan agen intelijen rahasia. Mungkinkah suatu ketika mereka ini juga harus mempelajari meditasi karena dimasukkan dalam kurikulum? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eric Lander yang merupakan salah seorang pemimpin Human Genome Project secara lantang meramalkan pada konferensi para ilmuwan dan cendekiawan Buddhis di Massachusets Institute of Technology (MIT), bahwa bukan mustahil di masa yang akan datang Departemen Kesehatan Amerika Serikat akan menganjurkan untuk berlatih meditasi enam puluh menit sehari, lima kali seminggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jon Kabatt-Zinn yang belajar Buddha Dhamma pada tahun 60-an dan mendirikan klinik pengurangan stres (stress reduction clinic) di U Mass medical centre pada tahun 1979, telah menolong 14.000 orang merawat rasa sakit mereka tanpa obat, di antara pasiennya ada yang menderita kanker, AIDS, rasa sakit akut. Caranya sama yaitu dengan Vipassana, yang mengajarkan mereka untuk fokus dan melihat bentuk rasa sakit mereka, dan berusaha menerima rasa sakit tersebut daripada melawannya. Belakangan ini, ia sedang mempelajari sekelompok pasien yang menderita psoriasis, yaitu penyakit yang tak dapat disembuhkan dan umumnya sering diobati dengan meminta pasien untuk datang ke rumah sakit, memasang kacamata anti UV serta berdiri telanjang di kotak sinar ultra violet yang kuat dan panas. Perawatan ini menimbulkan stres pada kebanyakan pasien. Kabat-Zinn memberikan terapi meditasi untuk mengurangi stres pada pasien yang disinari, pada dua eksperimen, kulit mereka yang ikut meditasi menjadi bersih empat kali lebih cepat daripada kulit mereka yang tidak ikut meditasi. Pada studi yang lain, ia bersama dengan Richard Davidson dari University of Wisconsin di Madison memberikan suntikan influenza pada sekelompok meditator yang baru belajar dan non meditator, untuk mengukur kadar antibodi dalam darah mereka. Para ahli riset juga mengukur aktivitas otak mereka untuk melihat kegiatan mental yang bergeser dari otak kanan ke otak kiri. Hasilnya, mereka yang berlatih meditasi bukan hanya memiliki antibodi lebih banyak pada minggu keempat dan minggu kedelapan sesudah suntikan, tetapi mereka yang aktivitas mentalnya bergeser lebih banyak memiliki antibodi yang lebih banyak pula. Dengan kata lain, lebih baik tehnik meditasinya maka sistem kekebalan tubuh lebih sehat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riset serius terhadap meditasi tercatat paling awal dimulai pada tahun 1967 oleh Dr. Herbert Benson, seorang profesor medik di Harvard Medical School. Secara sembunyi-sembunyi, setiap malam, memasukkan 36 orang meditator samatha bhavana (transcendental) ke laboratoriumnya, untuk mengukur kecepatan denyut jantung, tekanan darah, suhu kulit, dan suhu rectumnya. Setelah diperiksa, ternyata mereka rata-rata menggunakan oksigen 17% lebih sedikit, denyut jantung lebih rendah 3 denyut per menit, Gelombang theta yang dipancarkan (yang biasanya muncul sebelum tidur) meningkat, tetapi corak pancaran gelombangnya tidak sama dengan orang yang tertidur. Beberapa tahun kemudian, Dr. Gregg Jacobs, professor psikiatri pada universitas yang sama, yang bekerja bersama professor Benson, merekam EEG (electro encephalograph) gelombang elektrografi otak pada dua grup, yang satu diajarkan meditasi, sedangkan yang lain dibiarkan mendengarkan kaset yang menenangkan batin. Selang beberapa bulan, mereka yang berlatih meditasi menghasilkan gelombang theta yang lebih besar dibandingkan dengan mereka yang mendengarkan kaset, sedangkan gelombang Beta mereka menjadi turun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ditemukannya brain imaging maka penelitian terhadap meditasi menjadi lebih maju lagi. Pada tahun 1997, Andrew Neuberg ahli syaraf di Universitas Pensylvania meneliti sekelompok meditator Buddhis dengan memasukkan cairan pewarna di darah. Neuberg menunggu di ruangan sebelah, dihubungkan dengan tali pada meditator di ruangan sebelahnya, lalu menarik tali untuk menyuntikkan cairan pewarna ke dalam darah mereka, setelah meditator masuk pada keadaan meditasi yang mendalam. Dari percobaan itu terlihat bahwa aktivitas otak tidak berhenti ketika subjek sedang berlatih meditasi, tetapi hanya memblokir informasi yang masuk dari lobus parietal sehingga kehilangan sensasi ruang waktu, kemudian ia merasa bersatu dengan alam semesta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah keadaan yang sesungguhnya terjadi pada proses meditasi? Sebenarnya keadaan yang dialami oleh mereka yang bermeditasi, setelah masuk pada keadaan "anuloma" maka informasi yang masuk pada indera tidak mendapat perhatian karena konsentrasi menyatu pada objek gambaran batin atau nimitta (pada samatha bhavana), sedangkan pada Vipassana hanya memperhatikan objek nama-rupa. Sehingga tampak pada brain scanner saat itu seolah-olah meditator mirip dengan orang yang tidur tetapi tidak sama. Tampak pada brain scanner, informasi yang akan masuk ke lobus parietal terblokir. Sebenarnya, ini adalah kerja thalamus yang merupakan gerbang masuk informasi yang berasal dari syaraf di indera-indera kita dan menyalurkan data ke otak serta memblokir sinyal-sinyal lain tetap berada pada jalurnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah proses yang sebenarnya terjadi di otak pada waktu bermeditasi? Ada beberapa bagian otak yang terlibat secara langsung pada proses meditasi, di antaranya yaitu: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Lobus frontal, berguna sebagai analisa, perencanaan, emosi, dan kesadaran terhadap diri sendiri. Selama meditasi, korteks frontal cenderung tidak aktif (offline).* &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Lobus parietal, berguna untuk memproses informasi dari in*dera mengenai dunia sekitar kita, memberi kesan orientasi terhadap ruang dan waktu. Selama meditasi aktivitas di lobus parietal melambat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Thalamus, adalah gerbang terhadap pintu indera, yang memusatkan perhatian dengan menyalurkan data sensor lebih dalam ke otak dan menghentikan sinyal lain pada jalurnya. Meditasi mengurangi aliran informasi yang datang menjadi bagai tetesan-tetesan saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan terakhir dari meditasi yang mewabah di dunia, sekarang di Amerika Serikat meditasi ditawarkan di sekolah-sekolah, rumah sakit, biro-biro hukum, gedung pemerintahan, kantor perusahaan-perusahaan dan penjara. Di airport, ruang meditasi dapat ditemui selain kapel sembahyang dan kios internet, bahkan menurut Harvard Law Review edisi musim semi 2002, meditasi menjadi salah satu subjek pelajaran di akademi militer West Point. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel majalah TIME tersebut selain menyinggung mengenai meditasi Vipassana, juga menyebut mengenai meditasi transendental dari Maharishi Mahesh Yogi, Samatha bhavana (pernafasan, cinta kasih), meditasi Tantra yaitu visualisasi (membayangkan atau memunculkan gambaran) dan juga meditasi seks dari tantra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian daftar orang-orang terkenal yang merasakan manfaat besar dalam hidupnya setelah berlatih meditasi di antaranya, yaitu: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutradara David Lynch, Aktris Heather Graham (gbr cover TIME) &lt;br /&gt;Aktris Goldie Hawn, Bill Ford pemimpin Ford motor Company &lt;br /&gt;Eks US first lady Hillary Clinton, Eks US vice president Al Gore &lt;br /&gt;Penyanyi Shania Twain, Aktor Richard Gere &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar ini hanya beberapa dari jumlah orang terkenal yang menjadi penggemar meditasi di dunia. Daftar ini terus bertambah, mungkin suatu ketika di antaranya adalah anda, siapa tahu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anuloma: &lt;br /&gt;1. Tingkat pencapaian batin yang hampir memasuki jhana (yaitu tingkat konsentrasi yang pertama pada samatha bhavana/meditasi ketenangan). &lt;br /&gt;2. Tingkat pencapaian batin yang hampir memasuki sotapatti magga (tingkat kesucian pertama pada vipassana bhavana/meditasi pandangan terang).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-8869293978749300745?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/8869293978749300745/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=8869293978749300745' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/8869293978749300745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/8869293978749300745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2009/10/pembuktian-ilmiah-manfaat-meditasi.html' title='PEMBUKTIAN ILMIAH MANFAAT MEDITASI'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-7467040734159075677</id><published>2009-09-10T03:43:00.000-07:00</published><updated>2009-09-10T04:09:01.559-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan atau pembelajaran baru. dianinterfidei'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='th. sumartana'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='inklusif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='beda agama'/><title type='text'>DIALOG LINTAS AGAMA: POLA PEMBELAJARAN 'BARU'</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.antarafoto.com/dom/prevw/grab.php?id=1209720643"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 453px; height: 300px;" src="http://www.antarafoto.com/dom/prevw/grab.php?id=1209720643" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.catholic-ew.org.uk/var/ccb/storage/images/media/images/ccn/dalai_lama_cardinal_1/23807-1-eng-GB/dalai_lama_cardinal_1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 390px; height: 317px;" src="http://www.catholic-ew.org.uk/var/ccb/storage/images/media/images/ccn/dalai_lama_cardinal_1/23807-1-eng-GB/dalai_lama_cardinal_1.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah mengikuti sebuah dialog antar beragama pada tahun 1998 di sebuah gedung yang dikelola oleh Muhamadiyah Yogya, tidak lama setelah rezim Soeharto jatuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara itu diadakan oleh Dianinterfidei, salah satu organisasi yang mengenalkan lintas agama di Yogya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TH. Sumartana mempertanyakan, "mengapa bisa terjadi konflik antar agama?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak diskusi dan sudut pandang pada waktu itu. TH Sumartana sendiri, sebagai pemimpin Dian interfidei, merasa bahwa konflik beragama terjadi karena adanya pembunuhan theologis, dimana menilai orang yang berbeda teologi dianggap bidah dan harus diperangi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ada satu pendapat lain, yang mengatakan bahwa kita terlanjur banyak dididik secara agama dgn menyembungikan realitas pluralistik. Kesalahan ini menurutnya berpangkal pada pengkondisian orde baru, yang turut membungkam oposisi. Karena itu elit agama juga suka ikut-ikutan &amp; berespon sama terhadap "oposisi". Sehingga bukan love atau praktik universal yang ditampilkan, tapi egoisme identitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1998 adalah 11 thn yg lalu. Sayang hingga sekarang pendidikan agama yg mengedepankan wawasan pluralistik masih saja langka.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak acara itu saya tertarik untuk memahami cara pandang orang lain terlebih agama lain. Hingga sekarang jika saya diminta menulis di Majalah Buddhis saya selalu mengedepankan wawasan yang inklusif, bukan eksklusif. Pernah sebuah majalah Buddhis menggusung sebuah topik "Mengapa beragama Buddha?". Karena nuansanya ekslusif dan memahami agama secara "kaku", pada waktu itu saya tidak berminat mengirim tulisan di sana, walaupun jauh-jauh hari saya telah ditawari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak malu dan merasa rugi dalam mengutip Mahatma Gandhi, Mother Theresa, [Alm] Romo Mangun Wijaya, Kabir, Rumi, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang berbeda bukanlah ancaman, tapi justru suatu bentuk pembelajaran yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya heran mengapa masih saja orang membatasi diri untuk masuk pada samudera spiritual yang begitu luas ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-7467040734159075677?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/7467040734159075677/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=7467040734159075677' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/7467040734159075677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/7467040734159075677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2009/09/dialog-lintas-agama-pola-pembelajaran.html' title='DIALOG LINTAS AGAMA: POLA PEMBELAJARAN &apos;BARU&apos;'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-9074490595927282320</id><published>2009-09-01T04:33:00.000-07:00</published><updated>2009-09-01T05:13:59.798-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='the good heart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dialog kristen dan buddha'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='matinya dogma'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='spiritualitas universal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='max planck'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='trend spiritualitas universal'/><title type='text'>TREND SPIRITUALITAS UNIVERSAL</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.tibethousekorea.com/The%20Good%20Heart.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 218px;" src="http://www.tibethousekorea.com/The%20Good%20Heart.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Satu kebenaran ilmiah baru tidak menang dengan &lt;br /&gt;cara menyakinkan lawannya dan membuat mereka &lt;br /&gt;menyadari kebenaran, tapi sebaliknya karena lawannya &lt;br /&gt;akhirnya mati dan satu generasi baru akrab dengan &lt;br /&gt;kebenaran ilmiah itu bertambah besar.&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;(Max Planck, Fisikawan Jerman)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah buku berjudul “The Good Heart”, berisi transkrip dialog His Holiness The Dalai Lama XIV dengan komunitas John Main yang pimpin oleh seorang pastur bernama Laurence Freeman. John Main sendiri adalah seorang biarawan Benedictine yang menemukan kembali tradisi meditasi Kristen yang telah lama hilang. Pada tahun 1975, John Main mendirikan Christian Meditation Center.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini mencatat dialog penuh penghargaan antara dua tradisi yang berbeda, dari sudut pandang praktisi, bukan sekedar dogma kaku yang buntu.&lt;br /&gt;Sangat disayangkan spirit lintas agama seperti ini masih jarang di Indonesia, walaupun sewaktu di Yogya dulu saya sering mengikuti seminar-seminar semacam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tulis ulang beberapa kutipan dari buku itu sekaligus komentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Saint Agustine doubtlessly believed in God, but he was also sure that God is unknowable to the thinking mind alone. ‘If you can understand it,’ he said, ‘then it is not God.’ His contemporary Saint Gregory of Nyssa, a great mystical teacher of the Eastern Church, said that all ideas about God run the risk becoming idols.&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang secara tulus menerima rahmat Tuhan dalam keadaan apapun baik atau buruk. Kata TUHAN yang diucapkan dalam hati terasa begitu indah dan membebaskan.&lt;br /&gt;Tapi jika penyebutan TUHAN itu sudah sepihak. Dalam arti, hal-hal enak aja yang diaminin, hal-hal buruk tidak diaminin, bahkan dihindari. Itu sudah ada self-ego yang berperan. Itu yang saya kritik sebagai  penyebutan TUHANTUHANTUHANTUHAN.....&lt;br /&gt;Selfish reason menjadi dasar utama, maka ketika itu tanpa disadari yang disebut adalah HANTU.  Itu adalah yang dimaksud &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;GOD RUN THE RISK BECOMING IDOLS&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik dari statement Dalai Lama tentang pribadi Yesus.&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;For me, as a Buddhist, my attitude toward Jesus Christ is that he was either a fully enlightened being or a bodhisattva of a very high spiritual realization&lt;/span&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dogma-dogma dibuang, yang ada adalah Yesus sebagai praktisi yang memiliki tingkat realisasi yang tinggi. Realisasi yang tinggi itu adalah hadirnya Tuhan dalam diri, yang menjadi fondasi penting dalam trinitas Gereja. Ada beberapa bagian dari buku itu yang menjelaskan ajaran trinitas gereja dengan tiga perwujudan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;trikaya&lt;/span&gt;) dalam tradisi mahayana. Akan terlalu panjang untuk menunjukkan adanya pararelisme jika saya jelaskan disini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian pengantar buku, Pastor Laurence Freeman juga memberikan kalimat kebersamaan yang indah. “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;The different paths human beings will always follow express, in their diversity, the unity of Truth. There is one Truth, one God. One Word, but many dialects.&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah sumber lain, dalam “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dialog Agama dalam Pandangan Gereja Katolik&lt;/span&gt;”, yang diterbitkan oleh Kanisius, F.X.E.Armada Riyanto, CM., menyebutkan, &lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sebuah wajah gereja yang inklusif tercantum dalam Gaudium Et Spes 22 dikatakan bahwa upaya keselamatan diluar intansi gereja adalah mungkin, karena pekerjaan Roh Kudus tidak dibatasi oleh Gereja.&lt;/span&gt;” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya tinggal waktu, dan akan berjalan secara alami.&lt;br /&gt;Interpretasi ajaran agama akan lebih mengutamakan ezensi dari pada dogma.&lt;br /&gt;Ada sebuah trend spiritualitas universal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat dengan Jostein Gaardner, penulis novel laris “Dunia Sophie”, ketika ditanya oleh redaksi TEMPO.&lt;br /&gt;Jika dia ingin bertemu dengan tokoh-tokoh besar di dunia, dia ingin bertemu dengan siapa?&lt;br /&gt;Gaardner menjawab, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sokrates, Yesus, dan Buddha.&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;Alasannya sederhana. Ketiganya tidak pernah menulis kitab suci. Jadi Gaardner rupanya ingin berdiskusi dengan tuntas dan jelas dengan tiga tokoh legenda tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui memang perkembang filsafat, theology, pendekatan baru tentang apapun termasuk spiritualitas dan agama, tidak serta merta bisa diterima oleh banyak pihak. Tapi berangsur-angsur spiritualitas menemukan konteks zamannya untuk memiliki wajah yang penuh cinta kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan nampaknya, cinta kasih itu sungguh relevan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mau baca online buku The Good Heart kunjungi http://books.google.co.id/books?id=lvYPx8q4Yt4C&amp;printsec=frontcover#v=onepage&amp;q=&amp;f=false&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-9074490595927282320?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/9074490595927282320/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=9074490595927282320' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/9074490595927282320'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/9074490595927282320'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2009/09/trend-spiritualitas-universal.html' title='TREND SPIRITUALITAS UNIVERSAL'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-6627276169250311184</id><published>2009-08-26T03:20:00.000-07:00</published><updated>2009-08-26T03:28:44.448-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='behind the scene'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='etika'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='afirmasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='launching buku USING NO WAY AS WAY'/><title type='text'>BEHIND THE SCENE 'USING NO WAY AS WAY!'</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SpUMvX9hGgI/AAAAAAAAAHE/rF-MU9bmHNU/s1600-h/behind_thescene_med.bmp"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 90px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SpUMvX9hGgI/AAAAAAAAAHE/rF-MU9bmHNU/s320/behind_thescene_med.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5374215738361977346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan tentang pendalaman materi dalam buku USING NO WAY AS WAY! yang ingin saya ungkapkan kembali disini, tapi hanya menunjukkan bahwa buku saya hanyalah sebab sekaligus akibat dari lingkungan dari zaman tempat saya belajar. Banyak hal yang terlibat dan saya berusaha untuk menyajikan kerangka berpikir dari apa yang pernah saya alami itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada delapan buah pokok pemikiran yang mempengaruhi USING NO WAY AS WAY! &lt;br /&gt;1. ETIKA&lt;br /&gt;2. AFIRMASI&lt;br /&gt;3. KEBAHAGIAAN&lt;br /&gt;4. PENDEKATAN MISTIK&lt;br /&gt;5. PLURALISME&lt;br /&gt;6. PRAKTIK MEDITASI&lt;br /&gt;7. KESUKSESAN&lt;br /&gt;8. WAWASAN EKOLOGIS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ETIKA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran Etika yang tidak disuguhkan dalam bentuk perintah kitab suci saya dapatkan dari Buddhisme dan Nietzsche. Perkembangan Buddhisme banyak diwarnai bentuk formal yang terasa ekslusif –sebagaimana agama-agama lain pada umumnya, namun saya lebih suka bukan pada ritualitas yang mungkin nyaman bagi orang tertentu. Secara umum, semua agama memiliki bentuk kenyamanan sesaat (dalam bentul ritual atau keimanan yang kaku –bahkan yang terakhir ini sering menjadi sumber konflik sosial yang berkepanjangan) yang jauh dari fungsi spiritual. Freud pernah mengkritik agama sebagai bentuk kepanjangan masa kanak-kanak yang rindu dengan orang tua dan menganggap Tuhan, Dewa, atau bentuk sakral tertentu sebagai bentuk pengharapan. Etika tidak harus dimaknai sebagai keterpaksanaan, tapi pada upaya melatih kesadaran diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nietzsche memperkenalkan etika majikan, sebagai pembanding etika budak. Etika budak adalah melakukan sesuatu berdasarkan ketakutan. Bagaimana mungkin orang takut akan menjadi lebih baik? Saya pernah melakukan refleksi dengan bertanya seperti itu. Untuk itu butuh etika majikan, yang bukan karena ‘desakan’, tapi karena kesadaran diri. Nietzche membahas dengan aforisma yang mungkin terlihat terlalu kritis sehingga etika Nietzsche dianggap atheisme yang tak berspiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buddha adalah sosok yang begitu manusiawi yang berusaha memecahkan permasalahan hidup manusia, yaitu penderitaan. Polemik tentang klaim kebenaran akan menjadi mandul dan tak berarti, karena kita yang merasa “benar” ternyata masih menderita dan tidak bisa menumbuhkan cinta kasih. Bukankah kebahagiaan itu adalah cinta kasih? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman tentang etika akan semakin jelas, ketika etika bukan dimengerti sebagai perintah yang memberi pilihan ‘neraka’ atau ‘’surga’, namun dengan dilandasi kebijaksanaan, tidak lain buah pemahaman hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijaksanaan akan membuahkan kebahagiaan dan cinta kisah. Tidak pernah ketakutan mampu menghasilkan cinta kasih dan kebahagiaan. Dan orang yang bahagia selalu memiliki etika yang lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;AFIRMASI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Istilah “Afirmasi” saya dapatkan dari ulasan tentang pemikiran Nietzsche. Saya lanjutkan tentang pengertian kebijaksanaan yang saya singgung sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijaksanaan adalah pemahaman intuisi yang mempersiapkan kita untuk berani menghadapi ketidakpastian dalam hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan menghadapi hidup ini adalah konsep afirmasi Nietzsche, yang sering diungkapkan dengan kalimat “berkata ‘ya’ pada kehidupan”.&lt;br /&gt;Pandangan Buddha tentang kebijaksanan adalah kemampuan memahami ketidakpuasan sebagai kewajaran, pengakuan adanya perubahan yang silih berganti, dan juga kepalsuan ego yang merupakan ilusi terhebat yang pernah dimiliki manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Afirmasi ini paling sering salah dipahami banyak orang sebagai bentuk materialisme yang hanya mengakui dunia fana ini saja. Secara ekstrim, dituduh sebagai anti agama yang menolak keberadaan surga maupun neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memahami bahwa pengakuan akan kefanaan hidup bukan untuk membuat kita melarikan diri dari kefanaan itu --dengan menggantinya dengan fantasi “kesenangan”. Jika kita terus melarikan diri dari kenyataan, maka kita selalu tidak siap menghadapi masalah. Bagaimana mungkin kebahagiaan bisa tumbuh jika kita selalu menghindari dari masalah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;KEBAHAGIAAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah bagian yang paling sering salah dipahami. Sering ada upaya promosi bahwa seseorang setelah mengikuti agama tertentu menjadi sukses, mendapat pahala Tuhan atau Dewa, dan hidup berkelimpahan dan bahagia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal konsep kebahagiaan yang dipromosikan itu bukanlah kebahagiaan sejati, itu hanya kesenangan yang dianggap kebahagiaan. Kadang saya pikir, agama mulai menggunakan cara-cara yang jauh dari spiritualitas yang telah disungguhkan para nabi atau pendiri agama itu sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesenangan dan kebahagiaan adalah berbeda.&lt;br /&gt;Kesenangan selalu eksternal dan memiliki syarat-syarat tertentu. Kesenangan itu hanyalah sisi lain dari penderitaan. Jika kondisi atau syarat-syarat itu lenyap, maka apa yang disebut kesenangan segera menjelma menjadi penderitaan.&lt;br /&gt;Kesenangan ini jika kita perhatikan lagi, selalu berada dalam konsep “hak milik”.&lt;br /&gt;Jika orang cantik itu menjadi milik, maka senang. Jika gagal dimiliki, maka menderita. Jika yang cantik itu berubah menjadi buruk rupa, itu juga menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan adalah internal, tidak tergantung dengan syarat-syarat tertentu.&lt;br /&gt;Kebahagiaan sejati itu tanpa sebab, karena itu kebahagiaan itu tanpa akhir. Sesuatu yang memiliki sebab akan berakhir. Ajahn Sumedho pernah berujar, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jika ingin menderita, carilah sesuatu yang memiliki awal&lt;/span&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan sejati melampaui pahala, musibah, berkah, keberhasilan, baik, buruk, dll. Kebahagiaan ini menjadi tujuan dari semua tradisi spiritual. Yang dipahami sebagai yang tanpa sebab dan tanpa akhir --inilah yang disebut keabadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghalang ‘keabadian’ ini adalah diri sendiri, maka pemecahan masalah juga harus melalui diri sendiri. Sebab penderitaan adalah masalah universal [murni karena diri sendiri dan tidak ada hubungannya dengan ras, suku maupun agama], maka solusinya tentu juga harus universal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PENDEKATAN MISTIK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan mistik, bukanlah hal-hal gaib, supranatural, dll. Pendekatan mistik yang saya maksud mengacu pada mistisisme, yang sering disebut sbeagai harta karun terpendam abad ke-20. Banyak buku yang menjadi rujukan saya tentang mistisisme, yang membuka perspektif spiritualitas yang sudah ada pada agama-agama yang sudah ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang menyebutkan bahwa mistisisme merupakan reaksi atas semakin menurunnya fungsi organized religion yang ada saat ini. Kegiatan beragama kadang memperkuat sumber konflik terutama jika yang dipahami hanya aspek formal dan lahiriahnya saja.  Secara ezensi, saya mengacu pada pandangan William James bahwa agama mestinya menjadi rumah bagi ‘agama personal’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh-tokoh agama yang open minded berupaya kembali pada jatidiri spiritual pada agamanya. Aktivitas religi seperti inilah yang dibutuhkan dan justru memberikan manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sufisme, Buddhisme, Christian Mistisism, Taosime, dll, membawa kesimpulan yang sama, bahwa pemahaman tertinggi haruslah dialami. Kaum Sufi sering menyebutkan bahwa upaya pencarian Tuhan adalah salah, karena itu berarti mengingkari adanya Tuhan pada saat ini. Tuhan bukan dicari, tapi disadari –karena Tuhan telah ada sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penganut Christian Greek (Kristen Yunani) memahami iman dengan cara yang berbeda sebagaimana otoritas iman yang kita kenal pada umumnya. Iman (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;faith&lt;/span&gt;) mestinya harus dialami, menjadi pengalaman. Jika iman baru menjadi dogma, itu artinya perjalanan spiritualitas belumlah selesai, karena pengalaman akan ‘Tuhan’ mesti dialami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada ungkapan-ungkapan pengalaman seperti ini.&lt;br /&gt;Santo Benedict menyebutkan, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jika Anda pikir itu Tuhan, maka itu bukan Tuhan&lt;/span&gt;”. Kalimat mirip dengan ungkapan Zen yang terkenal, “J&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ika ketemu Buddha, bunuh Buddha itu&lt;/span&gt;”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan mistik itu yang membuat saya memilih USING NO WAY AS WAY sebagai judul. Yang mengingatkan bahwa jika ingin bahagia, maka konsep tentang kebahagiaan itu juga harus di lenyapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan mistik pada akhirnya, membuat Tuhan atau realitas yang tertinggi tidak bisa dikatakan. Orang Jawa kuno menyebutkan “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;tan keno kinoyo ngopo&lt;/span&gt;” –tidak dapat di apa siapakan. Lalu, Lao Tze menggaris bawahi dalam sebuah sikap diam, “Orang yang tahu akan tidak bicara” –walaupun belum tentu orang diam adalah pertanda mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam adalah hening, bukan pertanda tidak tahu. Diam adalah tahu dan merasakan, mengada bersama Tuhan, larut dalam keabadian –suatu kemenjadian yang membahagiakan dan memberi kedamaian.  Paulus memberikan perspektif Ketuhanan dalam praktik dalam ungkapan,  “Allah itu kasih”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling menarik, adalah ketika pendekatan mistik ini dipelajari, dengan membuka-buka kitab suci, kita akan menemukan kerangka-kerangka pemahaman baru yang belum pernah kita jamah sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata kitab suci tidak boleh dipahami secara hurufiah. Ini semacam cerita rakyat atau dongeng atau legenda, yang harus dipahami dari kedalaman makna –bukan secara hurufiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PLURALISME&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pluralisme bukanlah sinkretis, konsep “gado-gado”, atau sekedar ajang silaturahmi –semacam basa-basi tokoh agama. &lt;br /&gt;Pluralisme adalah pengakuan akan keragaman dan penghargaan atas perbedaan berpikir, yang bermuara sebuah tujuan yaitu kerjasama untuk mengatasi permasalahan bersama, seperti ketidakpedulian, kekerasan sosial, materialisme, dan krisis kemanusiaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F.X.E.Armada Riyanto, CM., dalam Dialog Agama dalam Pandangan Gereja Katolik, (Yogyakarta, Penerbit Kanisius, 1995), hal 45-46, menyebutkan: &lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sebuah wajah gereja yang inklusif tercantum dalam Gaudium Et Spes 22 dikatakan bahwa upaya keselamatan diluar intansi gereja adalah mungkin, karena pekerjaan Roh Kudus tidak dibatasi oleh Gereja.&lt;/span&gt;” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan diatas adalah salah satu pemahaman agama inklusif. Penekanan ajaran agama yang inklusif juga ada agama-agama lainnya. Paling tidak inklusivitas telah menjadi bagian dari praktik keagamaan walaupun secara grass root masih banyak diwarnai identitas agama yang tidak memberi tempat pada rasa empati, kesalingpengertian, dan penghargaan terhadap mereka yang berbeda agama/pandangan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan kerjasama lintas agama juga bisa dalam hal untuk saling menginspirasi dan memperkaya pengalaman spiritual masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalai Lama sering berujar kepada orang yang berbeda agama seperti ini.&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Akan lebih baik, jika Anda mencari dalam tradisi Anda masing-masing&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pluralisme akan semakin fasih jika setiap orang lebih menitik beratkan ezensi daripada aspek lahiriah agama saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PRAKTIK MEDITASI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Spiritual Quotient (SQ) adalah penjelasan psikologi tentang spiritualitas setelah dunia dikejutkan dengan konsep Emotional Intelegence. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berpendapat bahwa SQ tidak lengkap dipahami sekedar teori sebagai bahan pembelajaran intelektual. SQ mesti memiliki rujukan dalam hal displin praktik, suatu jenis terapi mandiri yang membantu menumbuhkan SQ.&lt;br /&gt;Disiplin praktik tersebut adalah meditasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi dalam praktik meditasi?&lt;br /&gt;Penjelasan sederhananya adalah seperti ini.&lt;br /&gt;Spiritualitas adalah kemampuan menghadapi ketidakpastian dalam hidup. Kemampuan ini akan menumbuhkan kebahagiaan dari dalam. Jika kebahagiaan bukanlah ekternal –sebagaimana yang telah saya jelaskan sebelumnya, berarti metode yang digunakan justru dengan berlatih “melepas”, bukan “mendapatkan”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktik meditasi adalah berlatih “melepas” pada tingkat mikro.&lt;br /&gt;Mikro disini mengacu pada obyek meditasi yang sederhana, seperti sensasi napas, sensasi tubuh, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun mikro, tapi praktik ini memberikan hasil yang baik pada tingkat makro.&lt;br /&gt;Tingkat mikro ini memungkinkan praktisi masuk pada level kesadaran yang lebih dalam. Dalam dunia psikologi , tingkat pikiran itu disebut bawah sadar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakbahagiaan kita telah merasuk pada level bawah sadar, karena itu butuh pemahaman intuisi pada level kesadaran yang sama. Kebiasaan yang dilatih dalam level bawah sadar akan memberikan pengaruh ketika pikiran berada dalam keadaan sadar pada kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktik Meditasi ini adalah Spiritual-Hypnosis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inspirasi terbesar dari praktik meditasi adalah retret meditasi yang pernah saya ikuti, terutama vipassana dan Zen. Banyak pararelisme dari guru-guru meditasi yang pernah ada seperti Ajahn Chah, Thich Nhat Han, Cheng Yen, Guo Jun Fashi, Sogyal Rinpoche, Goenka, Sayadaw U Pandita, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KESUKSESAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kesuksesan tidak selalu bersifat materi, seperti memiliki penghasilan yang besar, memiliki rumah mewah, mobil mewah, dll. Saya lebih mengacu pada pandangan Stephen R. Covey yang lebih tertarik menyebutkan efektivitas dari pada kesuksesan. Efektivitas disini berkaitan dengan pertumbuhan pribadi yang melibatkan kehidupan sosial dalam organisasi yang dilakoninya, yang mengarah pada tercapainya visi dan misi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi dan misi pribadi mesti didasari kebahagiaan. Apa yang kita lakukan adalah mencerminkan siapa diri kita. Demikian juga misi dan visi. Saya rasa problematik kehidupan berawal dari kekeliruan dalam menentukan misi dan visi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita menentukan visi dan misi berupa kesenangan-kesenangan sesaat, maka dengan mudahnya kita akan meninggalkan upaya-upaya mengarah pada visi dan misi tersebut. Atau seandainya kita berhasil meraih kesenangan itu, hidup kita tetaphampa dan tetap tidak tahu cara bahagia. Tapi jika kita memiliki visi dan misi yang memiliki nilai dan layak diperjuangkan, maka kita akan terus pada jalur upaya itu. Menariknya, visi dan misi sejati selalu memberi kebahagiaan baik selama proses maupun setelah berhasil diraih, akan selalu ada kebaikan dan kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya orang berpikir bahwa harus sukses dulu baru bahagia.&lt;br /&gt;Dalam pemahaman spiritual, justru sebaliknya. Bahagia dulu baru sukses!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibutuhkan proaktivitas spiritual, yaitu: berbahagia saat ini.&lt;br /&gt;Dan hal itu dilatih dalam praktik meditasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;WAWASAN EKOLOGIS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Wawasan ekologis adalah salah satu ciri-ciri spiritualitas. Seperti yang diungkapkan Lao Tzu, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ketika ada kedamaian dalam diri, maka ada kedamaian di dunia&lt;/span&gt;”. Ada pengaruh antara keberhasilan diri dengan keberhasilan sosial secara umum. Teori-teori Fisika kontemporer seperti teori Chaos telah membuktikan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan Fritjof Capra telah menginpirasi saya untuk memahami spiritualitas dalam konteks wawasan ekologis. Karena jika tidak, maka tidak ada bedanya dengan praktik yang eksklusif, yang tidak bisa digunakan dalam kehidupan bermasyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun pemahaman tentang hidup, ideologi, agama, sistem filsafat, apapun, perlu dieksekusi pada level individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan apa yang kita lakukan (eksekusi), itu akan berpengaruh secara sosial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delapan buah pokok pemikiran -- (1) ETIKA, (2) AFIRMASI, (3) KEBAHAGIAAN, (4) PENDEKATAN MISTIK, (5) PLURALISME, (6) PRAKTIK MEDITASI, (7) KESUKSESAN, (8)  WAWASAN EKOLOGIS – walaupun terkesan ‘berat’, tapi saya mencoba menyajikannya dalam bentuk sederhana, gaya penyampaian how to, dalam USING NO WAY AS WAY!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;USING NO WAY AS WAY meramu filsafat, psikologi, meditasi, dan spiritualitas dalam sebuah benang merah, yang berpuncak pada pedoman praktis. Metode menuju kebahagiaan sejati adalah USING NO WAY AS WAY (ketanpatujuan sebagai bagian dari praktik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga buku yang saya tulis itu menginspirasi dan memberikan paradigma baru sehingga membantu kita memiliki sikap yang lebih membahagiakan.&lt;br /&gt;Be Happy!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-6627276169250311184?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/6627276169250311184/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=6627276169250311184' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/6627276169250311184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/6627276169250311184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2009/08/behind-scene-using-no-way-as-way.html' title='BEHIND THE SCENE &apos;USING NO WAY AS WAY!&apos;'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SpUMvX9hGgI/AAAAAAAAAHE/rF-MU9bmHNU/s72-c/behind_thescene_med.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-6114474225760460596</id><published>2009-07-25T03:22:00.001-07:00</published><updated>2009-07-25T03:28:31.261-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='niat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahagia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='aspirasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='using no way as way'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tekad sukses'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahagia dan sukses'/><title type='text'>SUKSES ITU “PASTI”!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SmreRs6LqSI/AAAAAAAAAG8/QHbcYyNg3Qg/s1600-h/pendulum_sketch.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 266px; height: 287px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SmreRs6LqSI/AAAAAAAAAG8/QHbcYyNg3Qg/s320/pendulum_sketch.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5362342702032333090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Cara termudah untuk menjadi sukses: &lt;br /&gt;Menjadi yang terbaik dalam apa pun yang Anda lakukan&lt;/span&gt;”.&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Thomas J. Leonard)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah eksperimen sederhana tentang niat atau aspirasi yang bisa mewujudkan kenyataan.&lt;br /&gt;Ambil seutas benang dan ikatkan pada sebuah bandul. Saya sering menyarankan bandul itu adalah sebuah cincin. Setelah itu angkat ujung benang tersebut dengan tangan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cincin itu mungkin sedikit bergerak. Yang penting, tenangkan cincin itu, biarkan bandul itu diam sejenak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, lakukan dengan niat tertentu.&lt;br /&gt;Maksud saya, perintahkan cincin itu bergerak dengan pola lingkaran.&lt;br /&gt;Amati apa yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cincin itu akan bergerak dengan pola melingkar.&lt;br /&gt;Wah, mungkin ini kebetulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba tenangkan cincin itu lagi.&lt;br /&gt;Sekarang perintahkan cincin itu bergerak dengan pola elips yang memanjang.&lt;br /&gt;Amati apa yang terjadi.&lt;br /&gt;Apakah itu kebetulan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak bukti yang menjelaskan bahwa niat atau aspirasi dari pikiran dapat mempengaruhi kehidupan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para terapis sering membantu para kliennya dengan memprogram ulang bawah sadar untuk menentukan niat atau aspirasi tertentu. Pada umumnya, niat itu diarahkan pada kesuksesan finansial, kesehatan, meningkatkan rasa percaya diri, bahkan untuk menyelesaikan permasalahan neurotik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebagaimana yang sering saya tekankan dalam USING NO WAY AS WAY! &lt;br /&gt;Spiritualitas adalah kemampuan untuk menghadapi ketidakpastian dalam hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seberapa hebat dan mulia misi dan visi kita, tujuan kita, niat kita, entah ingin sukses, ingin memiliki tahapan kehidupan tertentu, yang jelas proses menuju tujuan dan termasuk tujuan yang kita maksudkan itu selalu dalam ruang lingkup ketidakpastian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang mengkhawatirkan masa depannya.&lt;br /&gt;Apakah bisnis yang baru dirintisnya bisa laku dan berhasil? &lt;br /&gt;Apakah dia bisa sukses dan menafkahi keluarganya dengan baik?&lt;br /&gt;Masih banyak harapan-harapan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya, orang sulit menerima ketidakpastian dan mencari kepastian dalam tujuan. Padahal ketidakpastian adalah sesuatu yang akan kita jumpai sepanjang hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara metafisis, niat atau aspirasi selalu berhasil mewujudkan menjadi kenyataan. Hanya saja masalahnya adalah waktu, kapan benih itu akan menjadi pohon. Terlepas, pohon itupun suatu saat akan berubah diterpa usia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan spiritual bermain sangat penting dalam hidup.&lt;br /&gt;Pada umumnya orang ingin memiliki masa depan yang sukses, namun dia menghamburkan energinya pada rasa tidak suka pada keadaan masa kini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benih yang telah di tanam bawah sadar justru tidak diperhatikan dan dipelihara dengan baik, karena dia lebih banyak mempersoalkan ketidakpuasan dan terlalu ngotot dengan ide “benih instan”. &lt;br /&gt;Jika demikian, maka SUKSES ITU “PASTI”! Yang menjadi masalah bukan tercapai atau tidaknya tujuan itu. Yang menjadi masalah adalah bagaimana untuk selalu hidup bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah bahagia itu justru membuat proses menuju kesuksesan lebih efektif?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-6114474225760460596?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/6114474225760460596/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=6114474225760460596' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/6114474225760460596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/6114474225760460596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2009/07/sukses-itu-pasti.html' title='SUKSES ITU “PASTI”!'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SmreRs6LqSI/AAAAAAAAAG8/QHbcYyNg3Qg/s72-c/pendulum_sketch.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-8674242898027497546</id><published>2009-07-14T22:10:00.001-07:00</published><updated>2009-07-14T22:15:17.963-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mencari jati diri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='de-rasionalisasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='re-rasionalisasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nietzsche'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='siapakah aku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Meister Eckhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='zen'/><title type='text'>SIAPAKAH AKU? Melampaui De-Rasionalisasi &amp; Re-Rasionalisasi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/Sl1lLSgp7UI/AAAAAAAAAGs/fso0uK9yM58/s1600-h/free-your-mind-steve-sawyer.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 238px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/Sl1lLSgp7UI/AAAAAAAAAGs/fso0uK9yM58/s320/free-your-mind-steve-sawyer.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5358550376262528322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hakikat sifat kita adalah diam, berbicara hanya sekadar tambahan.&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kahlil Gibran&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Zen pada intinya adalah seni menyikapkan watak sejati diri kita, dan &lt;br /&gt;menunjukkan jalan dari keterikatan menuju kebebasan.&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;D.T. Suzuki&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku tidak akan menjadi apapun karena sebenarnya tidak ada ‘Aku’&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ajahn Chah&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mereka yang tahu akan diam&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lao Tzu&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tuhan direndahkan hingga ke dalam kontradiksi kehidupan,&lt;br /&gt;bukannya kedalam transfigurasinya, dan ‘Ya’ yang abadi&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nietzsche&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman jati diri sejati adalah salah satu ciri pendekatan dalam tradisi mistik. Mungkin ketika kita banyak membaca literatur filsafat, kita cenderung memahami jati diri sebagai peranan “Aku” dalam melakukan rasionalisasi. Menjadi pandai, dan mampu memahami sesuatu secara kritis adalah identitas diri yang menjadi daya tarik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasakan justru banyak gelisah, dan mudah agresif terutama dalam menghadapi situasi yang argumentatif. Hanya menjadi kritis, itu tidak akan memberi perbaikan. Dalam pandangan saya, menjadi kritis dan suka dengan filsafat mesti harus masuk dalam pendekatan mistik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mistik disini bukanlah hal gaib, suatu bentuk degradasi pemikiran atau de-rasionalisasi. Mistik juga tidak berarti re-rasionalisasi. De-rasionalisasi dan Re-rasionalisasi, keduanya, adalah siklus kebingungan manusia. Pendekatan mistik adalah melampaui keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;De-rasionalisasi yang didasari keyakinan buta dan harapan adalah wujud ketidakberdayaan. Karena itu, Meister Eckhart –sang mistikus Kristen, pernah berkata, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku berdoa kepada Tuhan untuk membebaskan aku dari Dia.&lt;/span&gt;” Beragama bukanlah solusi imajiner dengan dalih keyakinan, tapi menyalami –sehingga keyakinan tidak lagi buta. Karena keyakinan yang sejati adalah pengetahuan yang sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara re-rasionalisasi sekilas menuju pada kebenaran. Namun kita akan semakin menyadari bahwa pemahaman rasio hanyalah peta yang tidak akan pernah menjadi wilayah. Satu-satunya manfaat peta adalah untuk petunjuk jalan –tanpa harus berambisi menjadi peta sempurna. Master Hui Neng, sesepuh ke-6 Zen, mengumpamakannya seperti jari telunjuk yang mengarah pada terang bulan yang indah di malam hari. Telunjuk tidak akan pernah menjadi bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat hakiki kita adalah diam. Sifat sejati kita adalah mengalami dalam keheningan, bukan menciptakan keributan dan prasangka. Upaya menciptakan adalah wujud penderitaan, berusaha mengatasi banyak hal demi imbalan kebahagiaan adalah absurd (baca: sia-sia). Kenyataannya, gerak upaya kita tidak pernah menjadi kebahagiaan. Upaya itu hanya memberi kesenangan sesaat. Dengan berdiam, kebahagiaan itu akan hadir secara alami tanpa harus diperintah dan direncanakan dengan penuh perhitungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi seorang mistikus adalah sekedar tahu, tanpa sok tahu, hanya mengalir bersama arus perubahan. Nietzsche memahaminya dengan berkata “Ya” pada kehidupan. Tyler T. Roberts memahami dengan mengatakan, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;mengetahui diri sendiri sebagai becoming, orang mengetahui diri sendiri sebagai yang sudah menjadi ‘sesuatu yang lain’&lt;/span&gt;.” Ataupun seperti ungkapan Saint Agustine, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;If you can understand it, then it is not God.&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru-Guru Zen sering memancing dengan sebuah pertanyaan, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Siapakah Aku?&lt;/span&gt;” Jika masih ada “Aku” yang berbicara, maka itu hanya re-rasionalisasi. Jika tidak peduli dengan filsafat rumit dan memilih asyik dengan sandaran “harapan”, itu adalah de-rasionalisasi. Menjawab pertanyaan tentang jati diri itu adalah dengan berdiam, penyadaran akan adanya tanpa “Aku”. “Aku tidak akan menjadi apapun karena sebenarnya tidak ada ‘Aku’.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah kita sudah menyadarinya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-8674242898027497546?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/8674242898027497546/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=8674242898027497546' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/8674242898027497546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/8674242898027497546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2009/07/siapakah-aku-melampaui-de-rasionalisasi.html' title='SIAPAKAH AKU? Melampaui De-Rasionalisasi &amp; Re-Rasionalisasi'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/Sl1lLSgp7UI/AAAAAAAAAGs/fso0uK9yM58/s72-c/free-your-mind-steve-sawyer.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-7074603523213669314</id><published>2009-07-10T20:13:00.000-07:00</published><updated>2009-07-10T20:16:30.614-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keberhasilan praktik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keseimbangan bathin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keberhasilan latihan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='raja telanjang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='eksklusivitas bukan spiritualitas'/><title type='text'>EKSKLUSIVITAS BUKANLAH SPIRITUALITAS</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SlgDlVhv2eI/AAAAAAAAAGk/tZ3HwpYPvoY/s1600-h/king-and-crown.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 280px; height: 280px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SlgDlVhv2eI/AAAAAAAAAGk/tZ3HwpYPvoY/s320/king-and-crown.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5357035696725940706" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Adalah berbahaya untuk mengisolasi diri secara berlebihan,&lt;br /&gt;menghindari batas-batas masyarakat.&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Soren Kierkegaard&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah kisah tentang seorang raja telanjang yang merasa dirinya telah memakai pakaian kebesaran yang paling indah. &lt;br /&gt;Sang Raja amat peduli dengan pakaian kebesarannya, sehingga membuat penjahit istana kebingungan untuk menerjemahkan keinginan raja. Hingga suatu saat penjahit itu menawarkan sebuah pakaian kebesaran yang paling anggun dan mulia. &lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ini yang mulia, pakaian kebesaran terbaik yang pernah ada di kerajaan ini&lt;/span&gt;”, kata sang penjahit.&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tapi aku tidak melihat sesuatu apapun&lt;/span&gt;, ” raja itu berkata.&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pakaian ini memang tidak terlihat karena terlalu berharga dan hanya cocok digunakan oleh raja yang terhormat&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;Dicobanya pakaian itu, namun sang raja tidak merasa dirinya telanjang –terlena oleh kehormatan yang dikatakan penjahit istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang raja dalam “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;pakaian kebesarannya&lt;/span&gt;” itu menanyakan pada setiap orang di istana apakah indah pakaiannya. Dan selalu pegawai istana mengatakan bahwa pakaian itu sangat indah dan menakjubkan. Raja pun tersenyum bangga dan merasa menjadi simbol kerajaan yang paling baik dan dimuliakan. Setiap orang di sekeliling istana dan para menteri telah sepakat untuk menjawab sesuai dengan apa yang diinginkan Sang Raja itu –karena tidak ada seorangpun yang berani terhadap raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga suatu Sang Raja ingin keluar dari istana dengan maksud berkeliling melihat wilayah kerajaan sambil memamerkan pakaian kebesarannya. Para rakyat telah diberitahukan satu hari sebelumnya bahwa Sang Raja akan berkeliling dan tetap memberikan penghormatan yang tinggi walaupun raja akan berkeliling dengan telanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba saatnya raja telanjang itu berkeliling luar istana beserta para rombongan kerajaan. Sepanjang perjalanan, semua rakyat memberikan penghormatan dan menampilkan mimik wajah yang kagum. Hingga terdengar suara seorang bocah kecil yang dengan lugunya berkata pada orang tuanya. &lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bu, mengapa raja itu telanjang?&lt;/span&gt;” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering mencari penghiburan dengan wilayah sosial kita. Kita mungkin memilih istri hanya karena dia adalah orang yang bisa memuaskan ego kita dengan memberikan kekaguman tertentu. Kita mungkin berteman dengan nyaman pada orang-orang tertentu saja, dan menghindari orang-orang yang tidak kita sukai atau berbeda pandangan dengan diri kita. Bahkan mungkin kita memilih komunitas spiritual, bukan karena kita berspiritual tapi karena tidak mampu hidup berdampingan dengan orang yang berbeda tradisi dengan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memiliki kesimbangan bathin berarti bahwa orang-orang boleh mengatakan hal buruk tentang kita dan kita bisa memakluminya. Jika kita mudah terluka atau tersinggung oleh hidup, maka selamanya kita akan melarikan diri dari keadaan, atau kita hidup dengan ditemani sekelompok “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;penjilat&lt;/span&gt;” –yang membuat kita semakin sulit untuk memahami diri sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thich Nhat Hanh, seorang Guru Meditasi, pernah menulis: “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Meditasi bukan ditujukan agar kita keluar dan menarik diri dari masyarakat, namun untuk mempersiapkan diri kita memasuki kembali dunia masyarakat&lt;/span&gt;.” Jika kita belum membawa manfaat praktik dalam kehidupan di tengah masyarakat, maka kita hanya mengambil kesenangan dalam “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;spiritualitas&lt;/span&gt;”. Karena keberhasilan latihan diukur ketika kita berada keadaan yang biasanya tidak nyaman di tengah masyarakat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-7074603523213669314?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/7074603523213669314/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=7074603523213669314' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/7074603523213669314'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/7074603523213669314'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2009/07/eksklusivitas-bukanlah-spiritualitas.html' title='EKSKLUSIVITAS BUKANLAH SPIRITUALITAS'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SlgDlVhv2eI/AAAAAAAAAGk/tZ3HwpYPvoY/s72-c/king-and-crown.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-2983466478570508177</id><published>2009-07-02T03:34:00.000-07:00</published><updated>2009-07-02T03:38:00.083-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rasa takut'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='the oxford murders'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='diskusi tentang meditasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='menghadapi ketidakpastian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fibonaci'/><title type='text'>BELAJAR TENTANG KETIDAKPASTIAN DALAM “THE OXFORD MURDERS”</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SkyNj9Tr3tI/AAAAAAAAAGM/vBabdk3FfH0/s1600-h/oxford-murders.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 227px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SkyNj9Tr3tI/AAAAAAAAAGM/vBabdk3FfH0/s320/oxford-murders.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5353809705928744658" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sayangnya bagaimanapun. &lt;br /&gt;Hal ini tak ada sangkut pautnya dengan kebenaran ...&lt;br /&gt;Ini hanyalah rasa takut&lt;/span&gt;”.&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Profesor Arthur Seldom&lt;/span&gt;, dalam film &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“The Oxford Murders”&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah adegan menarik dalam film “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Oxford Murders&lt;/span&gt;”.&lt;br /&gt;Pada waktu itu seorang profesor dan ahli matematika bernama Arthur Seldom sedang mempresentasikan sebuah buku karangannya di atas podium dalam sebuah aula yang dihadiri banyak mahasiswa di Oxford.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang profesor berkata,&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tidak ada cara yang bisa menemukan kebenaran mutlak. Argumen tak terbantahkan yang bisa bantu menjawab pertanyaan umat manusia. Dengan begitu filosofi telah mati. Karena dimana kita tidak bisa berbicara dengan begitu  kita harus berdiam diri&lt;/span&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada keheningan sejenak ketika profesor selesai berbicara uraian yang singkat dan padat itu, namun tiba-tiba seorang mahasiswa bernama Martin menunjukkan diri ditengah kerumunan audiens yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oh, sepertinya ada yang ingin bicara. Sepertinya kau tidak setuju dengan pendapat ini. Itu mungkin artinya kau telah temukan kontradiksi dalam argumen dari risalah itu atau ada kebenaran mutlak yang akan kau bagi dengan kita&lt;/span&gt;”. Sang profesor memperhatikan mahasiswa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku percaya pada angka pi (3,14),&lt;/span&gt;” kata Martin sambil berdiri.&lt;br /&gt;Audiens yang lain tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Aku tidak mengerti. Kau bilang percaya pada apa?”&lt;/span&gt;, tanya profesor sambil maju dan turun dari podium mendekati Martin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pada angka pi. Dalam seksi emas. Urutan fibonacci. Inti dari  alam bersifat matematis. Ada arti tersembunyi dibalik kenyataan. Hal yang teratur mengikuti modelnya. Sebuah skema, sebuah urutan logis. Bahkan butiran salju juga memiliki basis angka-angka pada strukturnya. Karena itu jika kita berhasil menemukan arti tersembunyi dari angka-angka kita akan mengetahui arti tersembunyi dari kenyataan”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mengesankan. Menerjemahkan kata-kata Fobonacci dalam bahasa Inggris&lt;/span&gt;”, kata profesor Seldom yang segera diiringi tawa audiens.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kita dapati diri kita dalam pembelaan matematika yang segar dan bersemangat yang seolah angka-angka itu juga merupakan ide nyata dalam kehidupan. Lagipula ini bukan hal baru. Karena manusia tak bisa menyatukan pikiran dan benda. Ia berusaha untuk merubah beberapa perbedaan dalam pemikiran. Karena ia tak bisa menerima konsep bahwa abstrak murni hanya ada dibenak kita. Keindahan dan harmoni dari butiran salju.&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;Para audiens tertawa setelah profesor menyebutkan kalimat terakhir tentang harmoni butiran salju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil kembali pada podium, profesor berkata, &lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Indah sekali. Kupu-kupu yang kepakkan sayapnya dan menyebabkan badai di belahan dunia lain. Kita sudah mendengar tentang kupu-kupu itu selama berabad-abad. Tapi siapa yang bisa menduga sebuah badai? Tak seorangpun&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba profesor Seldom berbalik dan ingin menyampaikan sesuatu yang penting.&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Katakan padaku! Dimana keindahan dan harmoni dari kanker? Apa yang membuat sebuah sel tiba-tiba memutuskan merubah dirinya menjadi tumor ganas pembunuh dan menghancurkan sel-sel lainnya di dalam tubuh yang sehat. Ada yang tahu?&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua audiens terdiam, termasuk Martin. Tidak ada satupun yang bisa menjawab pertanyaan profesor Seldom.&lt;br /&gt;Akhirnya, profesor menjawab sendiri.&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nah, karena kita lebih suka berpikir soal salju dan kupu-kupu dan penderitaan. Perang? Atau buku itu?&lt;/span&gt;”, sambil menunjuk buku karangannya di podium.&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kenapa? Karena kita butuh berpikir bahwa hidup memiliki arti. Tapi semuanya terjadi karena logika dan bukan karena kebetulan&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesor masih berusaha menjelaskan sambil kembali ke atas podium,&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jika kutulis 2 &amp; 4 &amp; 6, maka kita sudah tahu berikutnya pasti 8. Kita bisa menduganya. Kita bukan dalam genggaman takdir.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di atas podium, profesor menutup presentasinya dengan pemahaman yang mendalam.&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sayangnya bagaimanapun. Hal ini tak ada sangkut pautnya dengan kebenaran. Setuju? Ini hanyalah rasa takut. Menyedihkan. Begitulah&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakpastian adalah kenyataan yang tidak hanya dipahami oleh tradisi spiritual, tetapi juga pada dunia fisika dan matematika, sebagaimana yang diungkapkan dalam tokoh Profesor Arthur Seldom. Manusia mencari kepastian bukanlah untuk menjadi penguasa alam, dekat dengan Tuhan, ataupun untuk merasakan kedamaian. Semua itu lebih didasari hal negatif yang mendasar, yaitu rasa takut, yang tidak lain adalah penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi bahagia bukanlah berasumsi tentang kepastian. Bahagia akan hadir secara alami dari dalam justru pada saat kita mengakui ketidakpastian dalam hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, cara bahagia dengan menghadapi ketidakpastian adalah sesuatu yang kita butuhkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-2983466478570508177?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/2983466478570508177/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=2983466478570508177' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/2983466478570508177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/2983466478570508177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2009/07/belajar-tentang-ketidakpastian-dalam.html' title='BELAJAR TENTANG KETIDAKPASTIAN DALAM “THE OXFORD MURDERS”'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SkyNj9Tr3tI/AAAAAAAAAGM/vBabdk3FfH0/s72-c/oxford-murders.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-6417888658313127168</id><published>2009-06-29T04:32:00.000-07:00</published><updated>2009-06-29T04:36:36.316-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='setan pikiran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pintu menuju kebahagiaan sejati'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemahaman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pintu kebijaksanaan'/><title type='text'>PEMAHAMAN ADALAH PINTU MENUJU KEBAHAGIAAN SEJATI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SkinA-YiiRI/AAAAAAAAAGE/6KFHJVty2m0/s1600-h/door.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 186px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SkinA-YiiRI/AAAAAAAAAGE/6KFHJVty2m0/s320/door.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5352711792317597970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Anda hidup di sebuah zaman yang gila, lebih gila dari biasanya. &lt;br /&gt;Karena kendatipun ada kemajuan besar-besaran sains dan teknologi, &lt;br /&gt;manusia tidak memiliki bayangan ide tentang siapa dirinya dan apa yang dia perbuat.&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Walker Percy, Penulis Amerika)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di suatu desa seorang tetua desa selalu membicarakan setan yang membahayakan hidup manusia. Segala masalah selalu dihubungkan dengan pekerjaan setan di dunia ini. Hal itu membuat gusar penduduk, sehingga mereka semakin takut dengan hal-hal gaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika ada beberapa penduduk yang mengatasi rasa takutnya dengan mencari perlindungan ke sebuah biara, yang dikenal sebagai tempat suci dan sakral di puncak sebuah bukit. Penduduk itu meminta izin kepala biara dan menceritakan maksud kedatangannya.&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Guru, kami takut dengan setan-setan yang membahayakan hidup kami&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan lembut kepala biara itu berkata, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Percuma, kalian mencari perlindungan di sini. Setan itu akan selalu mendatangimu sekalipun kalian berada di sini.&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;Para penduduk terlihat kebingungan.&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Setan itu adalah ‘setan pikiran’, tidak lain adalah keserakahan dan kebencian. Setan ini adalah menyebab penderitaan, dan ini jauh lebih berbahaya dibanding setan yang lain&lt;/span&gt;”, Sang Guru menjelaskan.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebagian besar kita masih suka melihat penyebab masalah dari faktor eksternal. Kebahagiaan sepenuhnya internal, karena itu mengembangkan kualitas diri adalah hal yang perlu kita perhatikan. Pemahaman adalah pintu menuju kebahagiaan sejati. Semakin kita menolak pemahaman diri, maka kita tidak akan pernah belajar untuk bahagia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-6417888658313127168?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/6417888658313127168/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=6417888658313127168' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/6417888658313127168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/6417888658313127168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2009/06/pemahaman-adalah-pintu-menuju.html' title='PEMAHAMAN ADALAH PINTU MENUJU KEBAHAGIAAN SEJATI'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SkinA-YiiRI/AAAAAAAAAGE/6KFHJVty2m0/s72-c/door.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-8225412669053852240</id><published>2009-06-26T04:20:00.000-07:00</published><updated>2009-06-26T04:24:30.307-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gnostic'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='meditasi kristen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='laurence freeman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gnostik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendeta victor tinambunan'/><title type='text'>MEDITASI DALAM LITERATUR KRISTEN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SkSvT6xgjfI/AAAAAAAAAF8/rg8bLxABG2Y/s1600-h/gnostic+gospel.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 231px; height: 350px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SkSvT6xgjfI/AAAAAAAAAF8/rg8bLxABG2Y/s400/gnostic+gospel.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5351595013952278002" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktik Meditasi sering dipahami sebagai ajaran agama Timur, terutama agama non samawi seperti Agama Hindu dan Buddha. Meditasi bukanlah monopoli agama tertentu. Jika kita mencermati literatur agama, maka kita akan mengetahui bahwa meditasi ada dalam setiap agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tradisi mistik Kristen, praktik meditasi adalah doa. Menurut Pendeta Victor Tinambunan ada tiga jenis doa,  yaitu: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;talking&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;listening&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;being&lt;/span&gt;. (berbicara, mendengar dan berada). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Berbicara:&lt;/span&gt; mengucapkan syukur atas kebaikan Tuhan; mengaku percaya akan kasih dan kebesaran Tuhan, menyampaikan permohonan kepada Tuhan, dan sebagainya. Ini yang paling banyak dilakukan orang Kristen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mendengar:&lt;/span&gt; mendengar sapaan Tuhan melalui pembacaan firman-Nya (Alkitab), mendengar kehendak Tuhan melalui sesama manusia; melalui peristiwa nyata kehidupan sehari-hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Berada:&lt;/span&gt; bersama dengan Tuhan. Yesus berkata, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu…” (Yoh. 15:4). Meditasi adalah salah satu wahana untuk menghayati dan menerima undangan Yesus ini. Jadi, meditasi adalah bagian dari perjumpaan dengan Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, diantara tiga doa itu mana yang paling penting?&lt;br /&gt;Menurut Laurence Freeman, itu adalah pertanyaan yang salah. Ini sama dengan menanyakan mana yang paling perlu: otak, jantung atau perut. Salah satu di antaranya tidak terlalu bermanfaat tanpa yang lain. Dalam hal ini, meditasi tidak menggantikan doa-doa yang lain. Satu hal yang mendasar dalam ketiga jenis doa itu adalah soal “hubungan” kita dengan Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam meditasi kita tidak mengajukan permohonan atau meminta kepada Tuhan. Kita malah tidak berpikir tentang Tuhan, tetapi terutama kita bersama dengan Tuhan. Kita tidak mencari kehadiran-Nya. Dia ada bersama kita dan di dalam kita. Kita hanya perlu menyadarinya dan menyambut-Nya setiap saat, secara khusus dalam meditasi. Meditasi sangat sederhana, meskipun harus diakui bahwa ‘sederhana’ tidak selalu mudah, khususnya di era modern ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber memadai untuk Meditasi Kristen dapat dilihat pada: http://www.wccm.org/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-8225412669053852240?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/8225412669053852240/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=8225412669053852240' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/8225412669053852240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/8225412669053852240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2009/06/meditasi-dalam-literatur-kristen.html' title='MEDITASI DALAM LITERATUR KRISTEN'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SkSvT6xgjfI/AAAAAAAAAF8/rg8bLxABG2Y/s72-c/gnostic+gospel.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-4228437321644170511</id><published>2009-06-22T22:30:00.000-07:00</published><updated>2009-06-22T22:33:07.474-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahagia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahagia dan sukses'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='faktor bahagia untuk kesuksesan'/><title type='text'>BAHAGIA ADALAH FAKTOR KESUKSESAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SkBo3npuE4I/AAAAAAAAAF0/LkiTAvES1ZQ/s1600-h/kunci-sukses.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 266px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SkBo3npuE4I/AAAAAAAAAF0/LkiTAvES1ZQ/s400/kunci-sukses.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5350391662062211970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Peace.It does not mean to be in a place where&lt;br /&gt;there is no noise, trouble or hard work.&lt;br /&gt;It means to be in the midst of those things and&lt;br /&gt;still be calm in your heart&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Anonim)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tidak sengaja saya menenukan kutipan anonim di atas. Sering juga beberapa orang memahami kebahagiaan dalam praktik meditasi adalah di luar rutinitas sehari-hari, bahkan dipahami sebagai praktik yang jauh dari kesibukan pekerjaan. Sebagai akibatnya pula, meditasi hanya dianggap sebagai sarana relaksasi ditengah ketegangan dalam sehari-hari.&lt;br /&gt;Ada sebuah kenyataan menarik, bahwa kebahagiaan yang dilatih lewat praktik meditasi menjadi faktor kesuksesan seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Guardian 19 Desember 2005, Dr. Sonja Lyubomirsky, Ph.D menegaskan bahwa orang yang bahagia memiliki masa depan yang lebih baik. Katanya, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ada bukti kuat bahwa kebahagiaan membawa orang untuk lebih bersosialisasi dan lebih murah hati, lebih produktif dalam kerja, lebih banyak uang, dan memiliki sistem imun yang lebih kuat&lt;/span&gt;”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pikiran kita selalu dipenuhi kebahagiaan, maka kita akan bekerja dengan lebih baik. Efektivitas dalam pekerjaan dan menjalani hidup tergantung dengan kebahagiaan. Sebaliknya jika kita menderita dan selalu diliputi kebencian terhadap keadaan, maka energi kita banyak terhamburkan dan tidak dapat fokus dengan visi dan misi pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang harus kita sadari bahwa tantangan yang dihadapi organisasi modern adalah membuat organisasi bahagia yang menjadi salah satu strategi yang mendesak dan memberikan keberhasilan jangka panjang. Belajar untuk menjadi bahagia bukan hanya kebutuhan individu, tapi juga untuk tujuan perusahaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-4228437321644170511?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/4228437321644170511/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=4228437321644170511' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/4228437321644170511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/4228437321644170511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2009/06/bahagia-adalah-faktor-kesuksesan.html' title='BAHAGIA ADALAH FAKTOR KESUKSESAN'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SkBo3npuE4I/AAAAAAAAAF0/LkiTAvES1ZQ/s72-c/kunci-sukses.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-1883012377299195670</id><published>2009-06-10T03:37:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T03:42:14.629-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kesederhanaan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bakat unik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mendedikasikan kepandaian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='senyum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bakat'/><title type='text'>TIDAK HARUS MENDEDIKASIKAN "KEPANDAIAN"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/Si-N1M4VGQI/AAAAAAAAAFs/s-xxHCkrLDc/s1600-h/achievement_top.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 305px; height: 338px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/Si-N1M4VGQI/AAAAAAAAAFs/s-xxHCkrLDc/s400/achievement_top.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5345647227842140418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mengenai cara untuk mengejar pencarian batinmu, &lt;br /&gt;buanglah semua yang akan menambah keterikatan pada diri dan &lt;br /&gt;racun batin, meskipun kelihatannya baik.&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Milarepa)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita berandai-andai saja, entah ini sudah terjadi dalam diri Anda atau belum. Sebut saja Anda begitu pandai, memiliki pendidikan tinggi, pengakuan akan prestasi, apa lagi. Mungkin juga karir yang tinggi menjulang. Setiap orang yang melihat Anda, hanya bisa heran, kagum, dan meminta petunjuk pada seorang maestro seperti Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang Anda pikirkan dengan visi dan misi?&lt;br /&gt;Hampir setiap orang yang saya tanyakan selalu menyebutkan bahwa dia akan mendedikasikan seluruh kepandaian dan upaya optimalisasi otaknya bagi kebaikan semua orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membantu orang melalui bakat unik kedengarannya adalah sesuatu yang hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat kita juga akan mengerti bahwa banyak orang yang di luar sana yang tidak peduli dengan “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;bakat&lt;/span&gt;” Anda. Mereka hanya butuh senyuman, perhatian, rasa empati, tindakan tulus sederhana dari Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kita suka mendedikasikan sesuatu yang rumit?&lt;br /&gt;Mengapa tidak diawali dari kesederhanaan saja?&lt;br /&gt;Yaitu kebaikan hati, termasuk dalam aktivitas yang mungkin dirasa kecil dan tidak unik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-1883012377299195670?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/1883012377299195670/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=1883012377299195670' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/1883012377299195670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/1883012377299195670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2009/06/tidak-harus-mendedikasikan-kepandaian.html' title='TIDAK HARUS MENDEDIKASIKAN &quot;KEPANDAIAN&quot;'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/Si-N1M4VGQI/AAAAAAAAAFs/s-xxHCkrLDc/s72-c/achievement_top.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-1023912499297912312</id><published>2009-06-01T05:04:00.000-07:00</published><updated>2009-06-01T05:06:15.863-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='memuaskan diri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='narsisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keindahan diri'/><title type='text'>MENATAP KEINDAHAN DIRI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SiPEAukKlHI/AAAAAAAAAFk/Wd7tR9K60sc/s1600-h/narcissus1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 322px; height: 321px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SiPEAukKlHI/AAAAAAAAAFk/Wd7tR9K60sc/s400/narcissus1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5342329099770303602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon ada seorang pemuda yang bernama Narcissus. Dia sangat mengagumi wajahnya sendiri. Setiap hari dia di pinggir danau untuk mengagumi wajahnya sendiri. Suatu ketika, dia tidak bisa mengatasi keterpikatannya dengan bayangan wajahnya sendiri dengan menceburkan diri di danau itu. Itulah akhir dari kisah Narcissus, yang menjadi asal mula  istilah “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;narsisme&lt;/span&gt;” yang kita kenal sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paulo Coelho mengawali novelnya berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sang Alkemis &lt;/span&gt;dengan kisah Narcissus yang sedikit berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan setelah Narcisus meninggal karena tenggelam dalam danau. Dewa hutan muncul dan bertanya pada Sang danau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kenapa kamu menangis?&lt;/span&gt;” &lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku sedang meratapi Narcissus&lt;/span&gt;,” sahut Sang Danau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ah, tidak mengherankan jika kamu meratapi Narcissus,” Dewa mengatakan, “Aku selalu membujuknya untuk pergi ke hutan, kamu sendiri [yang sering] melihat keindahannya dari dekat&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tapi... bukankah Narcissus begitu indah?&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tahukah kau yang sebenarnya?” Dewa berkata. “Dia berada di tepi danau untuk menatapi bayangannya  sendiri&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Danau berdiam agak lama, lalu berkata.&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku meratapi Narcissus, tetapi Aku tidak pernah tahu keindahannya. Aku meratapinya karena, setiap kali dia berada ditepianku, Aku dapat melihat, dalam kedalaman matanya, refleksi keindahanku sendiri&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Narcissus mengingatkan bahwa kita terlalu banyak melakukan sesuatu yang seakan-akan demi orang lain, tetapi itu hanyalah untuk memuaskan diri sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-1023912499297912312?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/1023912499297912312/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=1023912499297912312' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/1023912499297912312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/1023912499297912312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2009/06/menatap-keindahan-diri.html' title='MENATAP KEINDAHAN DIRI'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SiPEAukKlHI/AAAAAAAAAFk/Wd7tR9K60sc/s72-c/narcissus1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-207560384657814328</id><published>2009-06-01T03:49:00.001-07:00</published><updated>2009-06-01T03:51:05.704-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tuhan yang repot'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='surga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='surga mistikus'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dahaga manusia'/><title type='text'>SURGA SEORANG MISTIKUS</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SiOyaD97qaI/AAAAAAAAAFc/19ZAIyPk6Ds/s1600-h/Stair_Way_To_Heaven.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SiOyaD97qaI/AAAAAAAAAFc/19ZAIyPk6Ds/s400/Stair_Way_To_Heaven.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5342309743802952098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lautan bisa ditimbun, mulut manusia selamanya tak akan bisa diisi penuh.&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Master Cheng Yen)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang saya membayangkan betapa repot Tuhan memenuhi kebutuhan manusia.&lt;br /&gt;Setiap isak ratap tangis, kebutuhan akan harapan, pengampunan, selalu membanjiri pekerjaan Tuhan dan selalu ditunggu jawabannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada 1000 orang, maka ada 1000 surga yang harus diciptakan Tuhan.&lt;br /&gt;Andaikata hanya 1000, manusia sering tidak puas dan akan meminta 1000 yang lain, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap selera, minat, selalu menjadi persyaratan-persyaratan akan arti kebahagiaan.&lt;br /&gt;Mengapa tidak dibuat sederhana saja?&lt;br /&gt;Biarkan Tuhan beristirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah kebahagiaan ada dalam diri kita sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Surgaku ada dalam hatiku&lt;/span&gt;”, seorang Mistikus pernah berkata.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-207560384657814328?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/207560384657814328/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=207560384657814328' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/207560384657814328'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/207560384657814328'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2009/06/surga-seorang-mistikus.html' title='SURGA SEORANG MISTIKUS'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SiOyaD97qaI/AAAAAAAAAFc/19ZAIyPk6Ds/s72-c/Stair_Way_To_Heaven.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-5036127346858450091</id><published>2009-05-29T08:30:00.000-07:00</published><updated>2009-05-29T08:42:46.712-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gramedia yogya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='diskusi tentang meditasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='juxtapose'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='launching buku USING NO WAY AS WAY'/><title type='text'>LAUNCHING BUKU ‘USING NO WAY AS WAY!’</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SiAAAopCSZI/AAAAAAAAAEU/2rZV7CkBQp4/s1600-h/0_bukune.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SiAAAopCSZI/AAAAAAAAAEU/2rZV7CkBQp4/s400/0_bukune.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5341269168970942866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah masalah, seperti marah dan benci, itu muncul secara refleks. Kita semua memiliki emosi negatif yang muncul secara spontan, dan itu harus disadari sebagai penderitaan.&lt;br /&gt;Upaya mengatasinya pada umumnya adalah dengan mengandalkan rasio untuk mengendalikan diri. Rasio itu bisa dalam bentuk etika agama, norma-norma masyarakat, atau bentuk aturan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi rasio itu hanya permukaan. Rasio memiliki tingkatan kesadaran pikiran yang jauh dan belum menjangkau tingkatan halus seperti halnya emosi negatif itu.  Itulah mengapa, kita kadang menjadi orang baik terutama dalam keadaan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mood&lt;/span&gt; yang baik, dan juga menjadi orang yang buruk, seperti marah, benci, dan menyalahkan keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini seperti analogi balon karet. Pada batas tertentu rasio bisa menjaga agar balon tertiup sesuai dengan ukurannya. Tapi ketika angin dalam balon itu berlebihan, balon itu akan meletus. Ketika masalah menumpuk dan kita tidak bisa mengatasinya dengan rasio, emosi negatif itu akan muncul demikian kuat, marah, benci, bahkan merugikan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kita butuh pendekatan dengan tingkat kesadaran yang menjangkau wilayah emosi&lt;/span&gt;. Dalam hal ini adalah wilayah intuisi. Saya menyebutkannya kebijaksanaan intuitif sebagai penyeimbangan kebijaksanaan rasio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana melatih kebijaksanaan intuisi?&lt;br /&gt;Caranya adalah berlatih meditasi.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Meditasi adalah sarana  meningkatkan kecerdasan emosi dan spiritual.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kurang lebih pengantar awal yang saya berikan dalam acara launching buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;USING NO WAY AS WAY!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Launching buku USING NO WAY AS WAY diadakan pada hari sabtu, tanggal 23 Mei 2009 di Yogyakarta, tempatnya di Gramedia Sudirman pada jam 16.00 dan di Gramedia Ambarukmo Plaza pada jam 19.00. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah suasana launching di Gramedia pada saat itu.&lt;br /&gt;Suasana di Gramedia Sudirman. Saya merasakan ada apresiasi yang positif tentang buku saya.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SiAATn4OBJI/AAAAAAAAAEc/FmnAPtLrvHk/s1600-h/1_gramedsudirman.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SiAATn4OBJI/AAAAAAAAAEc/FmnAPtLrvHk/s400/1_gramedsudirman.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5341269495183705234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana awal di Gramedia Ambarukmo plaza. Sepi, belum banyak yang tertarik untuk mendengarkan. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SiAAoICyeVI/AAAAAAAAAEk/hF9chmWAbNo/s1600-h/2_amplassepi.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SiAAoICyeVI/AAAAAAAAAEk/hF9chmWAbNo/s400/2_amplassepi.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5341269847415355730" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus bicara saja. Jika memang apa yang dibicarakan bermanfaat dan memberi inspirasi, pasti ada yang mau mendengarkan.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SiAAvw34F6I/AAAAAAAAAEs/GEnCO7uX4Vs/s1600-h/3_amplas_ngomong.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SiAAvw34F6I/AAAAAAAAAEs/GEnCO7uX4Vs/s400/3_amplas_ngomong.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5341269978634524578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan, kursi-kursi kosong dipenuhi. Bahkan ada yang hingga berdiri dibelakang.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SiAA2DRJSJI/AAAAAAAAAE0/Mg9SLmABgFg/s1600-h/4_amplasramai.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SiAA2DRJSJI/AAAAAAAAAE0/Mg9SLmABgFg/s400/4_amplasramai.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5341270086651562130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pertanyaan yang dilontarkan audiens saya catat, sebagai bahan referensi yang berharga. Secara umum, dari semua pertanyaan yang diberikan menunjukkan minat yang besar dalam hal mencari ketenangan dan kebahagiaan hidup. Ternyata banyak orang yang tidak tahu perbedaan antara kebahagiaan dengan kesenangan.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SiAA_MrFhgI/AAAAAAAAAE8/tR4r7tv9uW0/s1600-h/5_amplasmencatat.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SiAA_MrFhgI/AAAAAAAAAE8/tR4r7tv9uW0/s400/5_amplasmencatat.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5341270243795109378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar baik! Di Gramedia Ambarukmo Plaza, buku saya diletakkan dalam rak &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Recommended&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Mas Fahd Djibran, yang juga pimred Juxtapose, sempat komentar. Mungkin banyak orang menderita dan ingin bahagia kali ya.. hingga&lt;span style="font-style:italic;"&gt; USING NO WAY AS WAY!&lt;/span&gt; mulai diminati.&lt;br /&gt;Mbak Paryatun dan Mas M. Nizar, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;duo&lt;/span&gt; editor hebat dari Juxtapose, juga memberi “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;angin surga&lt;/span&gt;”. Biasanya kalo sudah masuk &lt;span style="font-style:italic;"&gt;recommended&lt;/span&gt;, sebentar lagi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;bestseller&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SiABI2e4ofI/AAAAAAAAAFE/SUCU6mbKQjA/s1600-h/6_amplasrecommended.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SiABI2e4ofI/AAAAAAAAAFE/SUCU6mbKQjA/s400/6_amplasrecommended.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5341270409637044722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penulis pemula andaikata bisa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;bestseller&lt;/span&gt; itu mengejutkan sekali. Yang jelas, jika buku yang saya tulis bermanfaat, itu sudah senang walaupun tidak harus &lt;span style="font-style:italic;"&gt;bestseller&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir sebelum pulang,  mama, papa, dan adikku berfoto selesai acara &lt;span style="font-style:italic;"&gt;launching&lt;/span&gt;. Sayang istri dan anakku tidak bisa datang pada acara &lt;span style="font-style:italic;"&gt;launching&lt;/span&gt;. Mungkin lain kali, pada waktu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;launching&lt;/span&gt; buku berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SiABV2nNiZI/AAAAAAAAAFM/WhAmbkMkXzM/s1600-h/7_fotodgneluarga.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SiABV2nNiZI/AAAAAAAAAFM/WhAmbkMkXzM/s400/7_fotodgneluarga.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5341270633010268562" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga buku sederhana yang saya tulis bisa bermanfaat bagi banyak orang!&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Be Happy!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-5036127346858450091?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/5036127346858450091/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=5036127346858450091' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/5036127346858450091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/5036127346858450091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2009/05/launching-buku-using-no-way-as-way.html' title='LAUNCHING BUKU ‘USING NO WAY AS WAY!’'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SiAAAopCSZI/AAAAAAAAAEU/2rZV7CkBQp4/s72-c/0_bukune.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-2924433110099031312</id><published>2009-05-16T19:41:00.000-07:00</published><updated>2009-05-16T19:43:21.326-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='penyebab marah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cara berpikir'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='abstraksi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='persepsi'/><title type='text'>ITU HANYA PERSEPSI!</title><content type='html'>Anggap saja seseorang pernah menyakitimu satu tahun yang lalu.&lt;br /&gt;Kini Anda harus berhadapan dengannya setiap hari.&lt;br /&gt;Anda marah bercampur jengkel dengannya.&lt;br /&gt;Pertanyaannya, Anda marah dengan siapa?&lt;br /&gt;Orang itukah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba perhatikan!&lt;br /&gt;Anda sebenarnya tidak marah dengan orang itu.&lt;br /&gt;Lebih tepatnya Anda marah dengan persepsi akan orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara berpikir kita adalah mengambil abstraksi dari kumpulan-kumpulan&lt;br /&gt;Persepsi yang ada, lalu Anda membuat simbol tentangnya.&lt;br /&gt;Dan yang sering Anda lakukan adalah memberi reaksi negatif terhadap simbol itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita ini sungguh aneh dan betapa gila.&lt;br /&gt;Mengapa persepsi dipermasalahkan?&lt;br /&gt;Bukankah persepsi itu hanya masa lalu yang sudah lewat?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-2924433110099031312?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/2924433110099031312/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=2924433110099031312' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/2924433110099031312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/2924433110099031312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2009/05/itu-hanya-persepsi.html' title='ITU HANYA PERSEPSI!'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-5706243958458554969</id><published>2009-05-06T04:02:00.000-07:00</published><updated>2009-05-06T05:06:47.105-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ketidakpastian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='outliers'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='malcolm gladwell'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kesuksesan'/><title type='text'>Kesuksesan di Tengah Ketidakpastian</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SgF9Pql3CEI/AAAAAAAAADg/8QWeC0IjBU4/s1600-h/Wave_picture.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 266px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SgF9Pql3CEI/AAAAAAAAADg/8QWeC0IjBU4/s400/Wave_picture.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5332681141867972674" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku sangat beruntung.&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;(Bill Gates)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menyimpulkan bahwa menjadi pintar tidak otomatis membuat diri berhasil.&lt;br /&gt;Bukan hanya itu, bahkan menjadi pintar tidak serta merta membuat kita bahagia.&lt;br /&gt;Mengingat saya baru berusia 32 tahun, mungkin dirasa kurang banyak usaha dikerahkan hingga menerobos lapisan kesuksesan.&lt;br /&gt;Apakah kesimpulan ini terlalu dini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang spiritualitas membuat saya memahami bahwa kebahagiaan adalah kemampuan&lt;br /&gt;menghadapi ketidakpastian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah buku panduan sukses tidak akan manjur, karena rahasia kesuksesan itu unik&lt;br /&gt;tergantung setiap orang. Azas ketidakpastian membuat tidak ada rumusan yang statis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah bertanya pada seorang publisis bernama Anwar Holid.&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bagaimana cara agar sebuah buku itu bestseller?&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwar Holid, yang pekerjaan sehari-harinya membangun persepsi positif khayalak&lt;br /&gt;pada buku, tidak bisa memberi jawaban yang pasti.&lt;br /&gt;Bahkan menurutnya, sukses sebuah buku itu tidak bisa diulang walaupun oleh&lt;br /&gt;penulis yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Outliers&lt;/span&gt;, Malcolm Gladwell mengupas sebuah kesuksesan dari kacamata&lt;br /&gt;yang berbeda. Selama ini kita mempersepsikan kesuksesan adalah kemampuan diri, namun &lt;br /&gt;dari analisa Gladwel bukanlah seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gladwell menulis:&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Saya meyakinkan anda bahwa berbagai penjelasan tentang kesuksesan sepert ini tidak ada &lt;br /&gt;artinya. Orang-orang tidak bangkit dari nol. Kita berutang sesuatu kepada orangtia dan &lt;br /&gt;dukungan lain. Orang-orang yang berani menantang para raja mungkin terlihat seakan-akan &lt;br /&gt;melakukan semua itu sendirian. Tetapi sebenarnya mereka, tanpa kecuali, adalah penerima &lt;br /&gt;berbagai keuntungan yang tersembunyi, kesempatan yang luar biasa, dan warisan kebudayaan &lt;br /&gt;yang membuat mereka bisa belajar dan bekerja keras serta menghadapi dunia ini dalam cara &lt;br /&gt;yang tidak bisa dilakukan orang lain. Tempat dan kapan kita tumbuh besar memiliki &lt;br /&gt;pengaruh besar. Kebudayaan tempat kita besar dan warisan yang diturunkan oleh para &lt;br /&gt;pendahulu kita membentuk berbagai pola keberhasilan kita dalam cara yang tidak bisa kita &lt;br /&gt;bayangkan&lt;/span&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini kita dijejali kisah sukses yang memiliki benang merah yang sama.&lt;br /&gt;Seorang dari latar belakang miskin, berjuang keras, pandai, dan bisa sukses&lt;br /&gt;seperti sekarang.&lt;br /&gt;Kemampuan diri memang penting, namun berada pada waktu dan tempat yang salah, hal itu &lt;br /&gt;tidak akan membuat seseorang menjadi sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan yang serba tidak pasti adalah kenyataan yang harus kita hadapi. Seandainya &lt;br /&gt;segala upaya kita ternyata mulai membuahkan hasil.&lt;br /&gt;Katakanlah, suatu saat kita berada pada puncak kesuksesan yang belum pernah kita lalui&lt;br /&gt;sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang mesti kita lakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, selanjutnya, kita harus rela meninggalkan puncak itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-5706243958458554969?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/5706243958458554969/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=5706243958458554969' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/5706243958458554969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/5706243958458554969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2009/05/kesuksesan-di-tengah-ketidakpastian.html' title='Kesuksesan di Tengah Ketidakpastian'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SgF9Pql3CEI/AAAAAAAAADg/8QWeC0IjBU4/s72-c/Wave_picture.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-7503824060287302683</id><published>2009-04-28T04:45:00.000-07:00</published><updated>2009-04-28T04:48:18.161-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kungfu panda'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='melangkah dengan indah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='momen saat ini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berkah'/><title type='text'>Momen Saat ini: Sebuah Berkah atau Musibah?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SfbslOOrdSI/AAAAAAAAADQ/qaG_0q9T5v4/s1600-h/2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 289px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SfbslOOrdSI/AAAAAAAAADQ/qaG_0q9T5v4/s400/2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329707333258540322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Tuhan sendiri memuncak dalam momen saat ini”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Thoreau&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah obrolan ringan di tempat kerja.&lt;br /&gt;Pada waktu yang dibicarakan tentang kesuksesan seseorang.&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wah andai saja kamu seperti itu!&lt;/span&gt;”, salah seorang berkata.&lt;br /&gt;Seorang yang diajak bicara menjawab, “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;amin, ya kalo diberkahi&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendengar pembicaraan seperti itu bukan hanya sekali.&lt;br /&gt;Sudah hal yang umum bahwa orang melihat segala sesuatu baik dan buruk dengan memberi penilaian arti. Jika mendapat sesuatu yang baik, seperti kesuksesan, keuntungan, itu adalah berkah. Sebaliknya, jika mendapat kemalangan, ketidaknyamanan, itu adalah musibah.&lt;br /&gt;Manusia menyukai berkah dan menghindari musibah. Jika memang semuanya adalah hasil dari kuasa Tuhan, apa yang mesti dihindari dari musibah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 2000 saya banyak mempelajari literatur tentang mistisisme. Cukup banyak buku-buku yang membahas hal itu, bukan hanya dari tradisi Buddhis yang saya anut. Beberapa diantaranya adalah Sufisme, dan Mistik Kristen. Pemahaman ini membuat saya sangat mengagumi sumber kebijaksanaan dalam tradisi-tradisi spiritual yang pernah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap tradisi mistik merupakan ajaran yang memang tidak ditujukan orang awam. Bukan berarti itu ajaran rahasia, esoteris, yang untuk orang-orang pilihan. Kitapun bisa menjadi “orang pilihan” itu, jika memang kita sudah siap.&lt;br /&gt;Seorang mistikus akan memahami bahwa sebuah fenomena hanyalah sekedar perubahan, sebuah proses dari kehidupan itu sendiri. Waktu yang bisa kita rasakan hanyalah momen saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita mau jujur dan mengamati dengan mata yang telanjang. Momen saat ini adalah sekedar eksistensi, yang tidak ada nilai positif maupun negatif. Momen saat ini tidak akan pernah menjadi berkah atau bencana.&lt;br /&gt;Yang disebut sebagai bencana atau musibah hanyalah persepsi yang kita ciptakan sendiri. Bagi orang yang sudah jenuh dengan kekayaan, memiliki kekayaan adalah musibah. Tetapi bagi mereka yang tidak pernah kaya, mendapat keuntungan materi adalah berkah. Konsep penilaian adalah relatif terhadap setiap individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun peradaban manusia sudah terlanjur menggunakan sebuah kata dengan nilai yang positif. Tokoh Oogway, dalam film Kungfu Panda, mengajarkan, “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yesterday is history, tomorrow is a mystery, but to day is a GIFT. That is why it is called THE PRESENT&lt;/span&gt;.” Jika kita tetap ingin memberi arti tentang berkah, maka berkah adalah momen saat ini, apapun yang terjadi, semua adalah berkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya membaca tulisan Thoreau, “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tuhan sendiri memuncak dalam momen saat ini&lt;/span&gt;”. Saya teringat dengan Ajaran Ajahn Chah sebagaimana yang dipahami Ajahn Amaro, bahwa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nirvana&lt;/span&gt; harus dipahami sebagai “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mindfulness at the present moment&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;Pencarian mencari Tuhan, atau mencapai nirvana, adalah sebuah ilusi yang membuat kita tidak sadar bahwa apa yang kita cari ada dibawah telapak kaki kita. Itulah mengapa ada sebuah legenda kelahiran seorang calon Buddha yang melangkahkan kaki di tanah. Setiap langkah memunculkan bunga teratai yang mekar dengan indahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila setiap langkah yang kita lalui adalah berkah, maka kita adalah Sang Terbekahi, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The blessed One&lt;/span&gt;. Melangkah dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mindful&lt;/span&gt;, melangkah dengan penuh perhatian, setiap langkah akan menjadi indah. Dan, semuanya akan terasa sebagai berkah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-7503824060287302683?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/7503824060287302683/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=7503824060287302683' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/7503824060287302683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/7503824060287302683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2009/04/momen-saat-ini-sebuah-berkah-atau.html' title='Momen Saat ini: Sebuah Berkah atau Musibah?'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SfbslOOrdSI/AAAAAAAAADQ/qaG_0q9T5v4/s72-c/2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-2834483476428534681</id><published>2009-04-25T05:07:00.000-07:00</published><updated>2009-04-25T05:15:55.480-07:00</updated><title type='text'>USING NO WAY AS WAY!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SfL98Hve21I/AAAAAAAAADI/rwAvQlfGDug/s1600-h/using_med_w_tulisan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 311px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SfL98Hve21I/AAAAAAAAADI/rwAvQlfGDug/s400/using_med_w_tulisan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5328600518444899154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Using No Way as Way!&lt;/span&gt; merupakan sebuah buku yang menjelaskan tentang kebahagiaan dan kedamaian dalam sudut pandang spiritualitas yang dibutuhkan dunia saat ini. Di dalamnya juga menyertakan penelitian beberapa pakar neuroscience tentang praktik meditasi. Siapa pun yang mempraktikkannya akan lebih memahami dan mengisi hidup dengan lebih bermakna, dengan penuh cinta, dan berbagi dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Using No Way as Way!&lt;/span&gt; akan menjawab hal-hal seperti ini:&lt;br /&gt;* Mengapa banyak orang pintar tidak hidup bahagia?&lt;br /&gt;* Apa hubungan antara filsafat dan spiritualitas?&lt;br /&gt;* Mengapa pemahaman intuitif itu penting?&lt;br /&gt;* Bagaimana cara menjadi bahagia dan menemukan kedamaian?&lt;br /&gt;* Mengapa praktik meditasi mulai dirasa bermanfaat bagi kehidupan kontemporer saat ini?&lt;br /&gt;* Bagaimana cara mempraktikkan meditasi pernapasan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ENDORSEMENT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Buku ini meneguhkan minat saya untuk mencoba&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;melakukan meditasi pernafasan secara reguler.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Terlepas dari soal apa pun agama yang kita anut,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;buku ini saya kira akan membantu kita menyelami&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;makna kebahagiaan dengan berada DI SINI dan KINI.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ia mengingatkan saya bahwa untuk sukses orang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mungkin memerlukan sejumlah hal, namun untuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;bahagia yang diperlukan hanyalah diri sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bacalah!&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Andrias Harefa&lt;/span&gt;, Fasilitator www.pembelajar.com,&lt;br /&gt;Mitra Pendiri Institut Darma Mahardika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Buku ini penting karena berangkat dari sesuatu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;yang sangat mendasar sebelum kita hendak beranjak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;menuju mana pun, yaitu menemukan diri sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lalu ... kita akan tahu bahwa segala tujuan akan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;bermula dan berakhir pada diri.&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Audifax&lt;/span&gt;, Penulis Buku Bestseller “Semiotika Tuhan”, dan&lt;br /&gt;“Psikologi Tarot” bersama Leonardo Rimba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Buku yang dapat memberikan cara pandang baru bagi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;pola pikir Anda sehingga Anda dapat menemukan jati diri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dan akhirnya dapat menemukan kebahagiaan selama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;menjalani kehidupan di dunia&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Victor Asih&lt;/span&gt;, Motivator Speaker,&lt;br /&gt;Penulis Buku Bestseller&lt;br /&gt;“8 Langkah Ajaib Menuju ke Langit”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Buku ini berhasil membongkar imajinasi saya,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sampai titik yang saya sendiri kaget dibuatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Berhasil melihat makna hidup ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dari sisi-sisi yang selama ini tidak kita sadari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Anda ingin bahagia dan sukses dengan cara yang berbeda,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;baca ‘Using No Way as Way!&lt;/span&gt;’"&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dianata Eka Putra&lt;/span&gt;, Penulis Buku Bestseller&lt;br /&gt;“Membaca Pikiran Orang Lewat Bahasa Tubuh”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pemahaman yang disampaikan oleh penulis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sungguh kreatif dan tidak biasa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Setelah membaca dengan pelan dan teliti,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ternyata ada banyak hal yang membuat saya terkejut&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Robby Candra&lt;/span&gt;, Penulis Pendamping Buku Bestseller&lt;br /&gt;“Bersahabat dengan Kehidupan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Buku ini benar-benar akan membantu memperkaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;pengetahuan kita, sebelum kita memutuskan untuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;menggunakan kebijaksanaan intuitif kita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;yang masih tertidur&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Siky Hendro Wibowo&lt;/span&gt;, Pemerhati Spiritualitas Nusantara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Buku ini membawa kita untuk menemukan cara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;bagaimana kita kembali kepada diri kita yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sesungguhnya dan menemukan jalan menuju hidup yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;seimbang dan bahagia tanpa harus mencarinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Saya yakin di tengah dunia yang terus semakin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kompleks dan terasa rumit,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;siapa pun Anda akan sangat terbantu dengan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;membaca dan mempraktikkan apa yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ada di buku ini&lt;/span&gt;."&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berry Nahdian Forqan&lt;/span&gt;, Direktur Eksekutif Nasional&lt;br /&gt;Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Artikel Terkait:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://spiritualpopuler.blogspot.com/2009/04/menjadi-bahagia-itu-sukses-yang.html"&gt;Menjadi Bahagia itu Sukses yang Sebenarnya&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://spiritualpopuler.blogspot.com/2009/04/perlukah-kaum-profesional-belajar.html"&gt;Perlukah Kaum Profesional Belajar Meditasi&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-2834483476428534681?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/2834483476428534681/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=2834483476428534681' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/2834483476428534681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/2834483476428534681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2009/04/using-no-way-as-way.html' title='USING NO WAY AS WAY!'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SfL98Hve21I/AAAAAAAAADI/rwAvQlfGDug/s72-c/using_med_w_tulisan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-700723076708949915</id><published>2009-02-12T07:26:00.000-08:00</published><updated>2009-02-12T07:27:40.700-08:00</updated><title type='text'>MENYEDERHANAKAN MEDITASI</title><content type='html'>“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Setelah gudang-gudang terbakar rata dengan tanah, &lt;br /&gt;Rembulan pun tampak olehku&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Masahide&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat awal, terutama ketika kita tidak tahu apa-apa tentang meditasi, kita memang merasa terbantukan dengan teori meditasi. Namun ketika kita mulai membiasakan meditasi rutin untuk jangka waktu yang panjang, kita malah tidak butuh banyak teori. Saya justru sering terganggu ketika mencoba mengumpulkan teori meditasi. Setelah saya renungkan, itu karena saya terlalu melekati konsep, termasuk konsep tentang meditasi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar meditasi adalah sebuah paradoks yang mungkin membingungkan bagi orang yang pertama kali mengenalnya. Ketika memuncak pada kebuntuan, akan lebih baik melupakan teknik meditasi. Ketika kita tak sadar diri dan hanyut dalam gambaran mental yang kita ciptakan, kita butuh diingatkan untuk kembali pada teknik. &lt;br /&gt;Peranan guru dalam meditasi benar-benar hanya sebagai petunjuk, dan kita sendirilah yang harus berjalan dalam kesendirian. Seperti yang dikatakan Nisargatta Maharaj, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Guru luar hanyalah patok jalan&lt;/span&gt;.”  Peringatan guru hanya sekedar pengetahuan di awal, dalam pengalaman meditasi yang sebenarnya itu tidak ada yang mengingatkan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan dalam meditasi adalah sekedar mengetahui. Apa yang disebut menyadari bukanlah usaha mengamati. Menyadari adalah proses alami dalam mengetahui. Sekedar mengetahui ini, akan membuat kita lebih siap menghadapi apapun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesiapan meniadakan ketakutan. Dalam sekedar mengetahui, disitu tidak ada penderitaan. Justru penderitaan muncul karena proses pikiran yang rumit. Ketika semakinrumit, kita memberi kesempatan untuk berpikir. Dan selanjutnya, kita memberi ruang untuk menyukai dan membenci. Pada saat itu, kita mulai mengkondisikan sesuatu demi sebuah kebahagiaan. Upaya ini tentu saja semakin membuat kita menderita. Alasannya begitu sederhana. Kenyataannya, kita tidak memiliki kekuasaan dalam mengatur sesuatu sesuai dengan konsep kebahagiaan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesiapan juga berarti kesederhanaan. Ketika kita tidak sederhana, ketika itu kita tidak siap menghadapi keadaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesiapan  juga tentang pelepasan. Saya menyukai kalimat “pelepasan adalah jalan sekaligus tujuan”. Selama kita menancapkan tujuan eksternal, maka itu berarti kita sudah masuk pada siklus penderitaan. Siklus ini hanya bisa dipotong dengan menganggap tujuan dan jalan adalah satu, yaitu sekedar mengetahui, menyadari, melepas, maka kita akan siap dan bebas dari semua kondisi yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian kebahagiaan sejati itu begitu sederhana mudah. Namun mengapa banyak diantara kita masih menderita?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan Lama Surya Das ini barangkali bisa menyadarkan kita. “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kita telah menjadi jauh lebih rumit,maka Sang Jalan pun menjadi sedikit lebih rumit. Namun Jalan itu selalu ada, persis di bawah telapak kita&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa masih bertanya?&lt;br /&gt;Hanya mengetahui. Itu saja!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-700723076708949915?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/700723076708949915/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=700723076708949915' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/700723076708949915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/700723076708949915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2009/02/menyederhanakan-meditasi.html' title='MENYEDERHANAKAN MEDITASI'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-2484397653391194633</id><published>2009-01-10T05:23:00.000-08:00</published><updated>2009-01-10T05:25:57.796-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bermeditasi tanpa bermeditasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='problematik beropini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='menangkap ular dengan cara salah'/><title type='text'>PROBLEMATIK BEROPINI: CARA MENANGKAP ULAR YANG SALAH</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWihf5t_31I/AAAAAAAAABo/7z_6l1mFShI/s1600-h/ZenMaster.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 133px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWihf5t_31I/AAAAAAAAABo/7z_6l1mFShI/s200/ZenMaster.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5289655331788414802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Don’t seek the truth, just drop your opinions&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;Pepatah Zen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beropini adalah kendala meditasi yang dialami orang-orang yang suka membaca buku.  Dan tentu orang semacam saya yang suka menulis juga termasuk yang mengalami kendala ini. Karena sudah jelas, membaca dan menulis itu tidakjauh berbeda. Keduanya suka mengutak-atik gambaran akan realita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak bermaksud mengolok-olok filsafat dan meremehkan minat baca buku. Hanya saja kita perlu waspada. Berargumentasi itu bisa dimotori oleh nafsu untuk berkuasa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah retret saya pernah berusaha untuk mengkonstruksi kembali pengalaman meditasi. Segala aktivitas selalu saya buat abstraksi singkatnya, walaupun selama retret tidak boleh menulis catatan atau jurnal. Namun saya berusaha untuk memanfaatkan jeda sesi dengan mereview kembali apa yang telah saya alami -- walaupun tanpa alat tulis dan secarik kertaspun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedoman pertama yang saya gunakan untuk memulai sebuah retret adalah jangan ingin bahagia jika memang ingin bahagia. &lt;br /&gt;Sebut saja ini jurus “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Using No Way as Way!&lt;/span&gt;”.&lt;br /&gt;Setelah beberapa saat bermeditasi, ada ketenangan.&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wah, jurus ini manjur&lt;/span&gt;”, pikir saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sesi berikutnya, saya gelisah dan meditasi menjadi kacau.&lt;br /&gt;Semakin saya ingin menerapkan jurus ini, meditasi yang saya alami semakin tidak tenang.&lt;br /&gt;Pada jeda waktu berikutnya, saya mencoba menganalisa. Ada sebuah kesimpulkan. &lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wah, saya kacau karena melekati metode.&lt;/span&gt;” &lt;br /&gt;Lalu saya membuat jurus kedua, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;No Using No Way as Way!&lt;/span&gt;” Saya hanya menambahi “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;No”&lt;/span&gt; didepan jurus pertama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sesi berikutnya, saya bisa lebih tenang. Namun di sesi selanjutnya lagi, pikiran menjadi kacau kembali. Jadi bingung, apakah saya harus menciptakan jurus-jurus baru lagi. Akhirnya, saya tetap buat jurus baru lagi. Kali ini jurus itu tidak punya nama. Karena harus ada nama, saya terpaksa memberi nama “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;No Method&lt;/span&gt;”. Ini jurus tentang bukan jurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, meditasi saya kembali tenang lagi. Tapi berikutnya sama lagi, saya tidak tenang. Saya harus menciptakan jurus-jurus baru, dan bingung harus memberi nama apa lagi. Mungkin akan “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;No No Method&lt;/span&gt;”. Berikutnya akan selalu berkembang menjadi “No” yang lainnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya menyadari, bahwa sebenarnya tidak perlu ada jurus. Cukup jangan beropini terus-terusan! Jangan peduli bisa memetik hikmah dengan buat abstraksi atau tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ternyata hanyalah seorang kutu buku yang bernafsu pada abstraksi, walaupun bolehlah obyek pengetahuan itu tentang Dhamma, filsafat, atau apapun yang dianggap paling bermanfaat. Nafsu bisa menjelma dalam setiap kebanggaan, termasuk pada “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;jurus-jurus suci&lt;/span&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak tradisi meditasi telah mengingatkan bahwa pemahaman intelektual kita itu tidak bisa membuat kita lebih bahagia. Realisasi sebenarnya tidak butuh jurus.  Tapi komunikasi antar guru dan murid harus ada kata-kata. Seperti pepatah Zen, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Don’t seek the truth, just drop your opinions&lt;/span&gt;”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita sedang mengalami masalah, mungkin kata-kata itu membuat kita terinspirasi. Kata-kata yang dimaksudkan bukan untuk menindaklanjuti opini (yang tambah panjang) bisa menjadi terlalu sakral. Jika sudah demikian, kita akan kehilangan ezensi dari kata-kata dan kita terhasut oleh kesenangan dalam hal berkata-kata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dhamma memang diumpamakan seperti menangkap ular.&lt;br /&gt;Menangkap bagian tubuh ular yang salah, sang ular akan mematok lengan kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarlah pemahaman intelektual digunakan untuk mengevaluasi diri kita dan sebagai sarana berbagi yang tulus. Semuanya guna untuk bebas dari penderitaan. Itu saja, yang membuatnya bermanfaat. Selebihnya hanya pamer.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-2484397653391194633?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/2484397653391194633/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=2484397653391194633' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/2484397653391194633'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/2484397653391194633'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2009/01/problematik-beropini-cara-menangkap.html' title='PROBLEMATIK BEROPINI: CARA MENANGKAP ULAR YANG SALAH'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWihf5t_31I/AAAAAAAAABo/7z_6l1mFShI/s72-c/ZenMaster.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-2196910720589264254</id><published>2009-01-10T05:21:00.000-08:00</published><updated>2009-01-10T05:23:16.580-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mengapa retret meditasi itu penting'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perumpamaan korek api'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='manfaat meditasi'/><title type='text'>MENGAPA RETRET MEDITASI ITU PENTING?</title><content type='html'>Setidaknya ada tiga buah alasan mengapa mengikuti retret meditasi itu penting.&lt;br /&gt;Mungkin lebih tepat disebutkan sebagai manfaat dalam mengikuti retret meditasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hal itu adalah:&lt;br /&gt;(1) Memiliki waktu yang lebih panjang untuk praktik meditasi.&lt;br /&gt;(2) Memahami bagian dari pikiran  yang tersembunyi.&lt;br /&gt;(3) Memberikan energi baru guna kembali pada rutinitas pekerjaan.&lt;br /&gt;Saya akan mencoba menjelaskan satu persatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kurang lebih mulai tahun 2005, saya mulai membiasakan diri untuk berlatih meditasi, baik mengikuti retret maupun latihan rutin. Itu bukan karena tuntutan untuk menjadi orang yang ahli spiritual, atau predikat lainnya. Latihan meditasi semata-mata adalah kebutuhan untuk hidup bahagia dengan kesederhanaan. Terlalu lama saya mengejar kebahagiaan nun jauh, sehingga menutup pemahaman bahwa kebahagiaan itu bisa tumbuh dari saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keseharian saya menyempatkan meditasi selama 15 menit sebelum berangkat kerja. Rasanya ingin lebih lama dari itu, namun saya harus segera pergi ke kantor. Mungkin ini sebuah kendala. Namun dalam mengikuti retret meditasi kita bisa berlatih dengan tanpa disibukkan oleh urusan pekerjaan keseharian seperti itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Retret meditasi membuat kita bisa lebih fokus pada latihan. Mengenai kebutuhan dan rutinitas pekerjaan lainnya, itu untuk sementara tidak perlu dipikirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kedua.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Latihan meditasi selama retret memberikan hal-hal baru yang jarang kita sadari. Meditasi pada intinya adalah melepas. Jika kita menginginkan kebahagiaan, maka kita harus melepas ide tentang kebahagiaan itu. Bahkan untuk menjadi sesuatu, termasuk prestasi spiritual, itu hanya akan mengganggu latihan meditasi kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Retret dengan jangka waktu singkat dan panjang itu memberikan pengalaman yang berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah mengikuti retret selama 3 hari, saya bisa mengamalkan dengan cukup baik tentang prinsip “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;melepas&lt;/span&gt;”. Hari pertama memang agak kacau, berikutnya pada hari kedua dan ketiga berangsur-angsur semakin baik. Pada akhir retret saya merasakan mendapatkan sesuatu. Beberapa orang sering berkata, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;wah, retret kali ini saya sukses karena mendapatkan sesuatu.&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya mengikuti retret 7 hari ada pelajaran baru. Hari pertama dan kedua, saya bisa mengikuti dengan cukup baik.  Jika ada bagian tubuh yang tegang dan sakit, terutama di sekitar leher dan dahi, saya hanya menyadari dan berusaha melepas, maka tidak lama kemudian rasa tegang itu mengendor. Rasa sakit baik di leher, dahi, dan juga kaki, saya atasi dengan teknik yang sama. Rasa sakit dalam hal ini menjadi obyek meditasi kita. Mengamati dan menerima rasa sakit, maka rasa sakit itu berangsur-angsur akan berkurang dan akhirnya lenyap. Itu kesimpulan saya waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ketiga saya mempraktikkan teknik yang sama. Saya berusaha menyadari tegangnya leher, namun kali ini leher tetap tegang. Hingga waktu istirahat siang. Setelah tidur siang, saya pikir tubuh akan lebih sehat dan segar dan bisa bermeditasi dengan lebih baik. Namun lagi-lagi leher tegang pada waktu bermeditasi bahkan semakin sakit walaupun saya telah menggunakan teknik yang sama. Mungkin tubuh agak demam sehingga kepala pusing sepanjang meditasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ketiga meditasi saya sangat kacau, rasa sakit membuat pikiran malas dan tidak ada ketenangan hingga sore hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis mandi saya tersadar. Saya menerima rasa sakit dengan tujuan menghilangkan rasa sakit. Jadi, secara tidak sadar saya telah merasa berkuasa mengatur rasa sakit. Yang benar adalah sekedar menerima rasa sakit dan jangan menentukan agar rasa sakit itu hilang. Itulah penyebab kekacauan dalam bermeditasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah hari ketiga membuat saya bisa bermeditasi dengan lebih baik pada hari keempat dan kelima. Namun lagi-lagi saya terjebak dengan ketenangan yang saya rasakan. Saya melekati keadaan meditatif yang menyenangkan itu. Hasilnya hari keenam meditasi saya kacau lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman inilah yang saya maksudkan dengan memahami bagian pikiran yang tersembunyi. Saya mungkin tidak begitu mengamati adanya fluktuasi dalam sebuah retret yang terlalu singkat. Dalam retret dengan jangka waktu yang panjang, kita akan tahu bahwa latihan meditasi itu selalu naik turun seperti kenyataan sehari-hari kita yang serba pasang surut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketiga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keterampilan dalam meditasi adalah kemampuan untuk hidup dalam ketidakpastian. Dalam bahasa pali, kemampuan itu disebut &lt;span style="font-style:italic;"&gt;upekha&lt;/span&gt;, atau keseimbangan bathin. Kita perlu berhati-hati jika menganggap bahwa meditasi itu untuk menghasilkan ketenangan. Kenyataannya, keinginan untuk tenang itu akan “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;membunuh&lt;/span&gt;” meditasi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Retret meditasi memberikan energi baru guna kembali pada rutinitas pekerjaan. Saya tidak memahami setelah retret meditasi kita bisa menjadi orang yang suci, tiba-tiba bisa mengatasi segala masalah dengan bijaksanana. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Upekha&lt;/span&gt; akan memberikan banyak energi, sementara kebiasaan terjebak dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;like and dislike&lt;/span&gt; justru menguras banyak energi dan sering menjadi penyebab utama kelelahan mental dan fisik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Kembali pada judul tulisan ini. Mengapa retret meditasi itu penting?&lt;br /&gt;Secara konsisten, jika kita mengangap meditasi begitu penting, saking pentingnya kita bisa terjebak oleh kepentingan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah metode yang bagus, adalah metode yang pada akhirnya mampu menegasi dirinya.&lt;br /&gt;Seperti perumpamaan Master Thich Nhat Hanh tentang nyala sebuah batang korek api. Batang korek api hanya akan berguna bila bisa mempersilahkan dirinya untuk dibakar. Jika tidak bisa membakar dirinya, maka tidak akan pernah ada nyala api itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-2196910720589264254?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/2196910720589264254/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=2196910720589264254' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/2196910720589264254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/2196910720589264254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2009/01/mengapa-retret-meditasi-itu-penting.html' title='MENGAPA RETRET MEDITASI ITU PENTING?'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-9097629796879634255</id><published>2008-12-23T04:31:00.000-08:00</published><updated>2008-12-23T04:35:24.991-08:00</updated><title type='text'>ASUMSI, USAHA, KEBAHAGIAAN</title><content type='html'>"&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Setiap bentuk penderitaan muncul dari usaha.&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;(Sang Buddha)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering saya sendiri ketika membaca sesuatu lalu sejenak mengguman sambil meninjau ulang apa yang barusan saya pelajari, saya menjadi merasa mengerti. Tanpa saya sadari hal itu selalu melibatkan sebuah asumsi. Jika dirangkai dalam sebuah kalimat, asumsi itu kurang lebih seperti ini: "&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku lebih tahu dibanding yang lain&lt;/span&gt;." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mendengar pendapat orang lain yang masih satu atribut dengan saya, entah atribut agama, kelompok, atau bentuk persamaan lain, saya selalu berkata dalam hati.&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ah, kamu hanya tahu sedikit, sementara aku tahu hingga logika yang paling dalam.&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;Lalu, saya menceritakan hal-hal baru yang kupelajari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang itu terkagum-kagum, dan membenarkan apa yang saya ungkapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ketika saya mengungkapkan hal itu pada orang yang beda atribut. Yang terjadi hanya perbedaan, dan saya terancam oleh cara berpikirnya itu.&lt;br /&gt;Padahal saya tidak mungkin berkuasa untuk mengatur jalan pikiran orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sekedar mengurangi penderitaan dalam pikiran, saya mencoba merelakan. Biarkan setiap orang menganut jalan pikirannya sendiri. &lt;br /&gt;Bukan hanya itu, saya mencoba menyelami apa yang dipahaminya.&lt;br /&gt;Ternyata setiap pandangan muncul dari pengalaman-pengalaman pribadi yang begitu  unik.  Ibarat yang diungkapkan Heraklitos: "&lt;span style="font-style:italic;"&gt;orang [yang sama] tidak akan menginjak air sungai yang sama untuk kedua kalinya.&lt;/span&gt;"  Apalagi orang yang berbeda? Mengapa setiap orang harus dipaksakan dalam sebuah ide?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin kita tidak sibuk dengan asumsi, kita bisa melihat di depan kaca lebih jeli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa  kita terobsesi oleh persamaan? Apa yang sama? Sebuah bentuk yang disebut "sama" selalu terdiri oleh kombinasi titik-titik yang berbeda. Sama itu tidak ada!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memang ada persamaan, itu hanya asumsi.&lt;br /&gt;Sungguh aneh. Kita suka berasumsi tentang persamaan, tapi kita juga berasumsi tentang perbedaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persamaan menjadi tujuan yang menggerakkan nafsu.&lt;br /&gt;Namun ketika "persamaan" itu mendekat, kitapun terancam dengan "persamaan" itu. Jika semua orang sama pintarnya dengan diriku, lalu bagaimana dengan aku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita selalu repot dengan usaha mengatur dunia, yang tidak terjangkau dengan kekuasaan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan kita akan berhenti?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-9097629796879634255?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/9097629796879634255/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=9097629796879634255' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/9097629796879634255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/9097629796879634255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2008/12/asumsi-usaha-dan-kebahagiaan.html' title='ASUMSI, USAHA, KEBAHAGIAAN'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-5203521079048340697</id><published>2008-12-10T05:23:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T05:24:43.996-08:00</updated><title type='text'>BERMEDITASI DI KALA SAKIT</title><content type='html'>“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apa yang telah saya pelajari adalah rasa lelah yang dibawa oleh&lt;br /&gt;rasa sakit itu tumbuh karena kita melawannya.&lt;br /&gt;Hal yang harus dipelajari adalah bagaimana kita dapat menyatu&lt;br /&gt;dengan rasa sakit tersebut...&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Tenzin Palmo)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan teknik yang benar, meditasi akan mengistirahatkan pikiran sehingga akan mempercepat proses penyembuhan di kala sedang sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang harus dilakukan ketika tubuh sakit?&lt;br /&gt;Apakah menyesal? Marah? Benci dengan keadaan tubuh yang tidak produktif?&lt;br /&gt;Atau malah sibuk berpikir urusan kantor? Kerjaan yang menumpuk? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu tidak ada gunanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meditasi di kala sakit yang bisa kita praktekkan adalah melepas semua beban pikiran dengan cara menerima kondisi tubuh yang sakit itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada sensasi pegal, pusing, tegang, terima dan alami rasa tegang itu.&lt;br /&gt;Jangan mengontrol atau berusaha mengendalikannya.&lt;br /&gt;Tugas kita bukan mengendalikan, tapi hanya mengalami apa yang terjadi.&lt;br /&gt;Sakit hanya sekedar sakit, tidak akan bisa lebih dari itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru Tozan Ryokai suatu saat ditanya oleh seorang bhiksu,&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pada saat dingin atau panas datang dalam meditasi, bagaimana kita menghindarinya?&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru menjawab, "&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mengapa kamu tidak beralih pada tempat tidak ada panas atau dingin?&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bhiksu itu bertanya, "&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apakah tempat yang tidak panas maupun dingin&lt;/span&gt;?"&lt;br /&gt;Guru menjawab, "P&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ada saat terasa dingin, guruku, [menyarankan] buat dirimu terus dalam dingin; pada saat terasa panas, guruku [menyarankan], buat dirimu terus dalam panas&lt;/span&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat tubuh sakit, jangan berpikir sehat. Terima saja sakit itu!&lt;br /&gt;Pikiran yang dualisme adalah penyebab ketegangan, dan hal itu justru membuat proses penyembuhan semakin lambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin aneh ketika sakit tidak berharap untuk sehat. Tapi memang itulah jalan keluarnya –menyatu dengan rasa sakit.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-5203521079048340697?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/5203521079048340697/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=5203521079048340697' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/5203521079048340697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/5203521079048340697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2008/12/bermeditasi-di-kala-sakit.html' title='BERMEDITASI DI KALA SAKIT'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-1540152585489556803</id><published>2008-12-10T05:17:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T05:25:56.181-08:00</updated><title type='text'>JANGAN TAKUT!</title><content type='html'>Diriku mungkin mirip seperti tokoh Faust yang ditulis oleh Goethe, pujangga Jerman yang tersohor itu. Hanya saja aku bukan menjual diri ke setan. Lebih tepatnya, setan dalam kisah Faust itu, saya mengerti, bukan sebagai mahkluk yang berada di luar, yang selalu menjebak manusia untuk jatuh dalam dosa. Setan itu adalah simbol dari kemerosotan yang masih berada dalam diri pikiran kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak perlu kekanak-kanakan. Jika memang ada yang berhasil menjebak saya, itu karena saya telah memberinya peluang untuk menjebak diriku. Pada akhirnya, akulah yang menjadi penyebab atas apa yang aku alami ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak belajar adalah aksi yang didasari obsesi akan kepastian. Kepastian akan keberhasilan. Sejak kecil kita didoktrin untuk sekolah biar pintar, dan buntutnya selalu hidup sukses dan memiliki kekayaan berlimpah. Orang tua sering menasihatkan anak sulungnya untuk sukses lebih dulu, lalu ikut mengangkat harkat dan martabat adik-adiknya. Cita-cita yang tidak buruk, tapi sebenarnya bukan itu yang perlu menjadi tujuan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faust dikisahkan sebagai orang pintar yang gila ilmu, yang ingin belajar apa saja. Hingga suatu saat ingin lebih hebat lagi, dia menjual diri ke setan dan konon setan itu akan berjanji memberikan segala yang dimauinya. &lt;br /&gt;Beberapa sastrawan mengartikan Faust sebagai simbol arogansi Barat, yang dirasa telah mencapai puncak peradaban. Kita tahu semua ilmu, ideologi, gaya hidup, bahkan lagu selalu berkiblat pada Barat. Jika tidak bisa mengikuti trend Barat, kita dianggap terbelakang dan ketinggalan zaman. Tapi aku mengartikan Faust sebagai diriku, sebagai diri kita semua, yang terobsesi mengejar segala kepastian dalam hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat aku terkejut. Bukankah Nietzsche, Sartre, Freud, mereka semua adalah orang pandai yang banyak ilmu, tapi mereka adalah orang yang menderita? Bukankah diriku juga, walaupun aku tidak sejenius mereka, tapi banyak buku yang kupelajari, aku jadi terluka oleh perasaan “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;sok tahu&lt;/span&gt;” yang membanggakan ini. &lt;br /&gt;Benarkah banyak tahu itu otomatis tidak membuat kita bahagia? Apa tujuan hidup? Mungkin untuk lebih dekat dengan Tuhan. Atau mungkin untuk melayani Tuhan. Tapi sering aku jumpai mereka yang mengaku sebagai “pelayan Tuhan” justru tidak bisa melayani sesamanya dengan lebih baik. Mungkin dipikirnya orang lain bukanlah Tuhan, karena itu tidak dilayani sebaik Tuhannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak suka dengan ide-ide Tuhan. Bukan berarti aku tidak berTuhan? Tapi karena Tuhan mudah sekali dipelintir demi hasrat pemenuhan pribadi, seperti opini pribadi, prinsip diri, termasuk identitas kelompok. Tuhan sebagai sosok yang agung, justru menjadi sosok yang paling mudah dikibuli manusia. Tuhan menjadi sebuah kemandekan, semacam kepastian yang dipaksa-paksakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filsafat India yang menemukan angka nol, tidak menyukai kepastian mutlak. Bahkan Nagarjuna menyebutkan segalanya sebagai kosong, sunya. Kosong bukanlah atheis, tapi justru pemahaman akan realitas yang paling utuh dan sempurna. Kosong membuat kemandekan tidak memiliki ruang. Bahkan istilah “Tuhan” itu gak perlu lagi. Jika memang ada “Tuhan”, maka yang paling baik adalah tidak mendefinisikannya. Jika terpaksa, gunakan istilah yang berkonotasi bukan kemandekan. Entah itu Sunya, Tao, Tuhan Mistik, atau sekedar simbol. Theis tidaklah lebih bagus dibanding Atheis. Itu hanya istilah yang menjebak. Lebih penting menjadi spiritualis daripada Theis ataupun Atheis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spiritualitas adalah pengalaman yang diiringi penghayatan yang seutuhnya, saking utuhnya dia tak lagi berkata-kata. Berkomat-kamit adalah pertanda tidak tahu. Semakin banyak berbicara, dia semakin tidak bisa menjadi utuh. Robert Bernadette yang terinspirasi dengan Mistik Kristen menyebutkan hilangnya diri adalah memahami Tuhan. Selama ada diri yang berpikir, maka Tuhan itu tidak dapat diketahui. Konsekuensi, ketika Tuhan itu menjadi pengalaman, maka “tak terkata” adalah hasilnya.&lt;br /&gt;Saya teringat sebuah kalimat bijak.&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Satu-satunya yang tidak berubah adalah perubahan&lt;/span&gt;.” Itu ujar Sri Pannavaro Mahathera. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak mengerti arti ucapan itu pada waktu pertama kali mendengarnya. &lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ah, itu hanya permainan kata-kata&lt;/span&gt;,” demikian pikirku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku mulai menghargai apa yang telah disampaikannya itu. Ketulusan dalam menjalani perubahan, adalah sebuah kepastian yang paling baik. Satu-satunya kepastian adalah ketidakpastian. Fisika modern mengekplorasi gagasan ini dalam teori Chaos, tapi itu tidak cukup berandai-andai tentang ketidakpastian. Karena kebahagiaan bukanlah bermain dengan konsep. Berbahagia adalah tahu bahwa kepastian itu hanya ilusi. Bukan sekedar tahu, tapi merasakannya secara langsung. Bahagia adalah penerimaan terhadap segala bentuk ketidakpastian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini bukanlah kemurungan atau malapetaka. Tidak ada kesusahan dalam ketulusan akan perubahan. Jangan takut penerimaan ini sebagai menyebabkan kegilaan!&lt;br /&gt;Nietzsche menjadi gila, justru karena kurangnya ketulusan. Seandainya dia tidak sibuk dalam konsep ketidakpastian, dia akan lebih waras dan bisa menikmati ketidakpastian ini.&lt;br /&gt;Tidak ada cara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tanpa kejernihan wawasan (insight), bagaimana mungkin kita menuntaskannya? Tak ada akhir dari itu. Kita takkan pernah menyelesaikan pembelajaran kita&lt;/span&gt;,” ujar Ajahn Chah, Sang Guru Tradisi Hutan.&lt;br /&gt; Jangan takut!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-1540152585489556803?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/1540152585489556803/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=1540152585489556803' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/1540152585489556803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/1540152585489556803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2008/12/jangan-takut.html' title='JANGAN TAKUT!'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-7393332895633170469</id><published>2008-10-16T04:49:00.001-07:00</published><updated>2008-10-16T05:23:07.127-07:00</updated><title type='text'>FILOSOFI ANGKA NOL: MEMAHAMI ANGKA NOL SECARA INTUITIF</title><content type='html'>Dalam buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Biografi Angka Nol&lt;/span&gt;, Charles Seife menulis: &lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Banyak kekuatan yang tergantung dalam angka yang sederhana ini. Nol adalah perangkat paling penting dalam matematika. Namun berkat sifat matematis dan filosofis yang aneh dalam angk nol, ia akan berbenturan dengan filsafat Barat&lt;/span&gt;". &lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Angka nol tidak bisa diterima oleh Aristoteles dan juga teruskan oleh Biarawan Kristen --walaupun belakangan angka nol digunakan. Bahkan sistem penanggalan Masehi tidak diawali dari angka nol, tapi dimulai dari satu. Jika dijabarkan dalam bentuk deret akan seperti ini: ...-3, -2, -1, 1, 2, 3,.... &lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Sekilas mungkin hal ini tidak masalah, tapi belakangan membawa persoalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BEBERAPA MASALAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja ada seorang anak lahir pada tanggal 1 Januari tahun 4 SM. Pada tahun 3 SM dia berusia 1 tahun. Pada tahun 1 SM dia berusia 3 tahun. Lalu, berapa usia anak itu pada tahun 2M? Menurut kalender Biarawan Kristen pada tahun 2M, anak itu berusia 5 tahun. Tapi jika menggunakan rumus matematis hasilnya 6 tahun yang didapat dari  2 - (-4). &lt;br /&gt;Tidak banyak yang tahu bahwa pada tahun 2000, Yesus baru berusia 1999.&lt;br /&gt;Itu adalah salah satu masalah tanpa angka nol.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Perhatikan perhitungan matematis berikut.&lt;br /&gt;(1  X  2 ) / 2  = 1&lt;br /&gt;Itu juga bisa dijabarkan:&lt;br /&gt;(1 X 2) / 2 = 2 / 2 = 1&lt;br /&gt;Ketika duduk di bangku sekolah, kita juga diajarkan untuk mencoret pembilang dan penyebut yang sama pada operasi pembagian. Sehingga 1 / 2   X  2 =  1.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Coba perhatikan lagi contoh berikut!&lt;br /&gt;(2 X 0 ) / 0 &lt;br /&gt;Jika kita menggunakan cara mencoret, maka (2 X 0 ) / 0 = 2.&lt;br /&gt;Tapi jika kita jabarkan akan menghasilkan hal lain.&lt;br /&gt;(2 X 0 ) / 0 = 0 / 0 &lt;br /&gt;Itu menunjukkan bahwa 2 = 0 / 0.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Dengan cara yang sama (3 X 0 ) / 0, (4 X 0) / 0, (5 X 0) / 0, dst menunjukkan bahwa&lt;br /&gt;3 = 0 / 0, 4 = 0 / 0, 5 = 0 / 0, dst.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Perkembangan matematika itu sendiri akhirnya menerima konsep nol. Hal itu juga dikaitkan dengan ketakterhinggaan yang disimbolkan sebagai ~.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;1 / 1 = 1, 2 / 2 = 1, 3 / 3 = 1, dst.&lt;br /&gt;Tapi, hasil 0 / 0  bukan 1 atau juga 0. &lt;br /&gt;Sementara kita terlanjur mendapat aturan bahwa setiap bilangan yang dibagi bilangan itu sendiri selalu menjadi satu. &lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Ahli matematika yang lebih maju menyebutkan 0 / 0 = ~ (tak terhingga).&lt;br /&gt;Arti dari tak terhingga adalah bisa 0, 1, 2, 3... dst.&lt;br /&gt;Tak terhingga adalah jawaban matematis yang paling konsisten. &lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Coba kita perhatikan!&lt;br /&gt;0 / 0 = ~&lt;br /&gt;~ X 0 = 0&lt;br /&gt;Artinya, setiap bilangan apapun yang di kali nol akan menghasilkan nol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KEKOSONGAN DARI INDIA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jauh sebelum Barat menerima angka 0, Angka ini diterima dengan baik di India dan menyatu dengan filsafat kekosongan. Seife menyebut kekosongan sebagai "&lt;span style="font-style:italic;"&gt;sunyata&lt;/span&gt;". &lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Charles Seife dalam bukunya tidak menyebutkan paham tentang kekosongan berasal dari Buddhisme, tapi dari filsafat India kuno –dalam hal ini adalah Hindu.&lt;br /&gt;Saya sendiri juga tidak jelas dengan referensi Seife tentang kekosongan. &lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Sedikit sebagai bahan perbandingan. Dalam buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sejarah Filsafat India&lt;/span&gt;, yang ditulis oleh Heinrich Zimmer, ada sebutan istilah "&lt;span style="font-style:italic;"&gt;maya&lt;/span&gt;" yang mirip dengan "&lt;span style="font-style:italic;"&gt;sunyata&lt;/span&gt;".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zimmer menulis: &lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Maya secara denotattf bermakna sifat fenomenal dan tidak substansial dari dunia yang diamati dan telah dimanipulasi, juga dari pikiran itu sendiri --stratifikasi dan kekuatan kepribadian yang sadar dan bahkan bawah sadar&lt;/span&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian Buddhisme, Zimmer mengutip Nagarjuna dari terjemahan Mulamadhyamakakarika.&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kebenaran ini tidak bisa dikatakan sebagai kehampaan atau bukan kehampaan, atau keduanya, tetapi untuk menunjukkannya, kebenaran itu disebut kehampaan&lt;/span&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PEMBUKTIAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebelum melantur lebih jauh.&lt;br /&gt;Ada sebuah pembuktian menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika a dan b sama dengan 1, maka &lt;br /&gt;b2 = ab     [persamaan 1]&lt;br /&gt;Tidak diragukan lagi.&lt;br /&gt;a2 = a2    [persamaan 2]&lt;br /&gt;Jika dilakukan pengurangan antara persamaan [1] dan [2], maka&lt;br /&gt;a2 - b2 = a2 - ab  [persamaan 3]&lt;br /&gt;a2 - b2 = a (a - b)&lt;br /&gt;(a + b) (a-b) = a ( a - b)    [persamaan 4]&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Sekarang bagi  kedua sisi persamaan [4] dengan (a-b).&lt;br /&gt;Hasilnya menjadi:&lt;br /&gt;(a + b ) = a&lt;br /&gt;b = 0      [persamaan 5]&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Lalu, ganti b dengan 1, sesuai dengan  pembuktian awal.&lt;br /&gt;1 = 0     [persamaan 6]     &lt;br /&gt;Jika kedua sisi persamaan [6] dikali dengan 2, maka&lt;br /&gt;2 = 0.&lt;br /&gt;Jika kedua sisi persamaan [6] dikali dengan 3, maka&lt;br /&gt;3 = 0.&lt;br /&gt;Dan seterusnya.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Jadi bisa dipahami bahwa:&lt;br /&gt;1 = 0, 0 = 1, 2 = 0, 0 = 2, 3 = 0, 3 = 0, dst.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Dalam bahasa yang berbeda sebagaimana dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Prajnaparamita Hrdaya Sutra&lt;/span&gt; (Sutra Hati) itu menjadi: &lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style:italic;"&gt;materi (rupa) adalah kosong (sunya), dan kosong adalah materi&lt;/span&gt;".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi agama theis menyebutkan nol itu sebagai angka Tuhan dengan pengertian yang kurang lebih mirip. Saya kutip salah satu tradisi yang mewakili.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Seorang muslim Al-Hallaj berdoa:&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku melihat Tuhan dengan mata hatiku. &lt;br /&gt; Ia berfirman 'Siapakah kamu?' &lt;br /&gt; Aku berkata 'Saya adalah engkau, &lt;br /&gt; Engkau adalah dia yang mengisi semua tempat'&lt;/span&gt;".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata, Angka nol adalah angka mistik!&lt;br /&gt;Memahami angka nol, kita diingatkan kembali untuk memahami bahwa:&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dalam kekacauan ada keheningan, dalam keheningan ada kekacauan&lt;/span&gt;".&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Mampukah kita memahami angka nol secara intuitif?&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Katz, Steven T (ed). "&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Menembus Jantung Pengalaman Mistis&lt;/span&gt;". Yogyakarta: Unggun Religi, 2004.&lt;br /&gt;Seife, Charles. "&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Biografi Angka Nol&lt;/span&gt;". Yogyakarta: e-Nusantara, 2008.&lt;br /&gt;Zimmer, Heinrich. "&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sejarah Filsafat India&lt;/span&gt;". Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-7393332895633170469?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/7393332895633170469/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=7393332895633170469' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/7393332895633170469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/7393332895633170469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2008/10/filosofi-angka-nol-memahami-angka-nol_16.html' title='FILOSOFI ANGKA NOL: MEMAHAMI ANGKA NOL SECARA INTUITIF'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-183064270704813978</id><published>2008-09-21T22:15:00.001-07:00</published><updated>2008-09-21T22:21:08.230-07:00</updated><title type='text'>MENULIS, SEBUAH REFLEKSI TANPA DIRI</title><content type='html'>"&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kematian pengarang juga diumumkan sebagai muslihat agar &lt;br /&gt;proses membaca dan memaknai lebih kaya dan produktif, yakni&lt;br /&gt; tanpa mengembalikan karya ke asal-usulnya, pengarang&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nirvan Dewanto&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Saya pertama kali membaca pemikiran yang membongkar tentang pemaknaan pada tahun 2000, waktu itu adalah Teori Dekonstruksi yang dicetuskan oleh Jaques Derrida, salah seorang filsuf Perancis yang dikagumi. Secara tak sengaja saya menemukannya setelah mempelajari gagasan Nietzsche (1844-1900) yang ditulis oleh St. Sunardi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika makna dibongkar ternyata tidak ada yang tersisa, maka apalah artinya aksara. Kaum eksistensialis menyebutnya sebagai absurd, tanpa makna. Guru-guru Tantra yang meneruskan ajaran madhyamaka menyebut segalanya sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sunya&lt;/span&gt; (kosong). Tidak ada ezensi dibalik simbol-simbol yang ada di sekitar kita --bahkan di dalam pikiran kita sekalipun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis mungkin pada mulanya adalah obsesi, sesuatu yang membuat diri ini bisa memenuhi hal-hal yang terbaik. Kadang pula menulis dianggap sebagai upaya mewarisi kekayaan pemikiran untuk generasi yang lebih muda. Seperti yang ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam novelnya Bumi Manusia, "&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sepandai-pandainya seseorang, setinggi-tingginya kekuasaan manusia, apabila ia tidak menulis, maka suatu saat akan di telan oleh sejarah&lt;/span&gt;". Namun belakangan, saya memahami menulis sebagai refleksi tanpa diri. Jika makna sudah tidak lagi menjadi daya tarik, lalu untuk apa menulis. Pada akhirnya, menulis bukan untuk orang lain, maupun untuk diri sendiri. Mungkin lebih tepat, menulis hanya untuk menulis itu sendiri. Sekedar menorehkan gagasan untuk proses pembelajarannya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya, sebuah tulisan akan diinterpretasikan secara berbeda oleh para pembacanya. Seorang penulis sudah mati ketika tulisan sudah jadi dan mulai dibaca orang lain. Tidak heran jika Levi-Strauss, si empu antropologi itu, pernah menyebutkan bahwa tugas ilmu-ilmu kemanusiaan, humanities, bukanlah melestarikan (konsep tentang) manusia, keseorangan, melainkan melenyapkannya. Kemanusiaan adalah kemampuan menghadapi segala ketidakpastian, seperti yang diekspresikan Samuel Becket (1906-1989) dalam drama legendarisnya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Waiting for Godot &lt;/span&gt;(1953).  Dari awal panggung sudah disinggung tokoh Godot yang sedang ditunggu, hingga akhir drama si Godot itu tidak pernah datang. Hikmah drama itu, bahwa kita sulit mengakui ketanpamaknaan, kita lebih suka mencipta berhala-berhala makna. Dari pada menanti Sang Makna, mengapa tidak menikmati ketanpamaknaan dalam proses. Mengapa kita &lt;span style="font-style:italic;"&gt;koq&lt;/span&gt; tidak kunjung paham akan ketanpamaknaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memang karya tulis itu sudah mati sejak diterbitkan, maka pesan-pesan yang ada dalam karya tulis itu menjadi tidak penting. Tulisan menjadi tak ubahnya seperti alam semesta, suatu kumpulan simbol yang chaos, dan kita hidup didalamnya --tanpa sejumput pengetahuan yang menjelaskan eksistensi kita. Kitalah yang harus berinisiatif untuk memahami semesta. Manfaat dari suatu karya tulis sangat tergantung pada interpretasi para pembaca, sudah tak ada hubungannya lagi dengan penulis. Nagarjuna, seorang filsuf abad I dari India, yang adalah perintis madhyamaka menyebutkan "&lt;span style="font-style:italic;"&gt;kebenaran adalah sesuatu yang membantu&lt;/span&gt;". Apapun penelusuran makna, itu harus mengabdi pada hal yang membantu pada penyempurnaan akan pengertian hidup. Suatu saat, perjalanan kita akan masuk pada upaya pelepasan makna. Kesempurnaan harus bebas, termasuk bebas dari segala makna yang kita anut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Refleksi tanpa diri adalah istilah yang paling tepat dalam mendiskripsikan proses penulisan. Karya-karya tulis yang abadi --seperti sebagian besar kitab suci agama, bukan tergantung dari penulisnya, tapi tergantung pada mereka yang membaca. YM. Jotidhammo Thera pernah mengatakan, "&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ilmu agama itu sudah mati, yang hidup adalah ilmu filsafat [tentang agama]&lt;/span&gt;". Interpretasi akan selalu berkembang dalam konteks jamannya. Menulis tidak lepas dari interpretasi, dan yang paling utama, menulis merupakan teladan tentang ketidakpastian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seorang penulis enggan melakukan refleksi diri, maka dia akan berhenti belajar. Apa yang dirasakannya itu dianggap sebagai kemandekan yang berarti telah tercapainya tujuan. Padahal itu hanya berhala baru, yang justru bertentangan pada tujuan yang sesungguhnya. Tujuan belajar adalah intuisi untuk tidak berdiam diri dan secara tulus mampu menerima keindahan ketidakpastian. Sang Buddha dalam Ogha Sutta menyebutkan bahwa dengan berdiam hanya akan membuat kita tenggelam, bergerak berlebihan menandakan terjebak dalam harapan kepastian. Keduanya menyebabkan kita tidak bisa melewati banjir (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ogha&lt;/span&gt;) penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktifitas menulis tidak ubahnya seperti proses pembelajaran yang hanya menjadi refleksi terus menerus, suatu perjalanan yang bukan hanya tidak menentu tapi juga tiada akhir. Refleksi tanpa diri adalah masuk dalam arus perubahan, yang ditandai dengan adanya keterbukaan. Keterbukaan disini, tidak lain, adalah pengakuan akan kesalahan dan upaya memperbaiki. Ketika seseorang menemukan kesimpulan dalam hidup, kesimpulan itu harus ditinggalkan, karena dia akan segera menemukan kesimpulan yang lain. Berdiam pada sebuah kesimpulan itu mungkin membanggakan. Tapi mestinya kita tak perlu takabur. Fase belajar kita masih panjang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat tulisan Sogyal Rinpoche yang mengutip Patrul Rinpoche (1808-1887), "&lt;span style="font-style:italic;"&gt;The logical mind seems interesting, but is is the seed of delution&lt;/span&gt;". Intelektualitas bukanlah tidak perlu. Karena berbahaya juga seorang yang sok intuitif yang meremehkan intelektualitas, padahal dia sepenuhnya belum sempurna. Alasan intuitif bisa menghalangi refleksi diri. Dia justru gagal dalam menghadapi ketidakpastian dan lebih memilih nyaman dalam kepastian palsu yang berlabel "spiritual".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata, seorang pembelajar, pada akhirnya, menyadari bahwa dirinya telah mati berkali-kali --bahkan sebelum sebuah karya ditulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun saya bukan orang sempurna, tapi itulah yang sedang saya pelajari sekarang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-183064270704813978?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/183064270704813978/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=183064270704813978' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/183064270704813978'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/183064270704813978'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2008/09/menulis-sebuah-refleksi-tanpa-diri.html' title='MENULIS, SEBUAH REFLEKSI TANPA DIRI'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-7037436458348379273</id><published>2008-09-17T07:10:00.000-07:00</published><updated>2008-09-17T07:16:45.832-07:00</updated><title type='text'>SUMMERHILL SCHOOL: PENDIDIKAN ALTERNATIF YANG MEMBEBASKAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SNEQfnvr-wI/AAAAAAAAABg/L-uma4naOq8/s1600-h/summerhill.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SNEQfnvr-wI/AAAAAAAAABg/L-uma4naOq8/s200/summerhill.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5246993176294324994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Summerhill adalah sebuah cara hidup, hidup bersama orang lain dalam &lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sebuah masyarakat dan mengekspresikan diri dengan segenap &lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kecintaan kita pada kasih sayang, ilmu pengetahuan, dan karya&lt;/span&gt;".&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Robert Gottlieb&lt;/span&gt;, seorang alumnus Summerhill School)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin tidak terlalu banyak orang mengenal Alexander Sutherland Neill. Neill adalah seorang kepala sekolah sekaligus pendiri Summerhill School di Inggris yang memiliki visi pendidikan yang berani dengan menekankan kebebasan dan kemandirian bagi para siswa. Padahal pada waktu itu psikologi belum berkembang seperti sekarang ini. Gagasan Neill dan keberhasilan model sekolah yang dibentuknya menjadi bukti nyata yang perlu kita perhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Summerhill School didirikan pada tahun 1921 di Leiston, sekitar 160 km dari London. Gagasan Neill adalah membuat sekolah yang bisa memberikan kebebasan sekaligus tanggungjawab untuk mengatur diri mereka sendiri. Pada jamannya sekolah Neill juga sering menjadi incaran media dengan menganggap sebagai "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sekolah sesukamu&lt;/span&gt;", yang menyiratkan sekolah bagi kumpulan anak primitif dan liar yang tak kenal aturan dan tata krama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang beberapa gagasan Neill dipengaruhi garis Freudian yang kini dirasa sudah usang. Sebuah buku tulisan Neill yang disunting oleh Albert Lamb pada tahun 1990 berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Summerhill School: A New View of Childhood &lt;/span&gt;menjelaskan sisi positif dari gagasan Neill tentu dengan tidak menutupi kekurangan yang pernah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Harapan utama suatu bangsa terletak pada baiknya pendidikan kaum mudanya&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Erasmus&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Setidaknya ada 8 hal yang menarik dari gagasan Neill. Berikut saya kutip pandangan Neill dan sedikit uraian penjelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, tentang Sekolah Kehidupan. Neill mengatakan: "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Summerhill telah membuktikan pada dunia bahwa sekolah dapat menghilangkan ketakutan siswa terhadap guru, dan yang lebih penting, ketakutan terhadap hidup&lt;/span&gt;".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, tentang Kebahagiaan. Bagi Neill, lawan dari penderitaan yang disebabkan ketakutan, tidak lain, adalah kebebasan. Seperti yang sering diungkapkan Neill:  "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kebebasanlah yang faktor aktif dalam penyembuhan ini&lt;/span&gt;". Anak yang bermasalah adalah anak yang tidak bahagia. Dia berperang dengan dirinya sendiri, dan sebagai konsekuensinya adalah, berperang terhadap dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, tentang Rajin. Neill menolak gagasan malas yang memojokkan anak. Menurutnya tidak ada anak malas, yang ada hanya tidak adanya minat. Ada dua kemungkinan malas. Yang pertama adalah tidak minat itu tadi. Kedua adalah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, tentang Tanpa Kekerasan. Neil menyebutkan: "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Saya tidak pernah menemukan bukti bahwa  kekerasan, kekejaman, atau kebencian bisa membuat manusia jadi baik&lt;/span&gt;." Kekerasan pada anak akan menjadi celah bagi kebahagian palsu lewat perbuatan merusak, mencuri dan menghajar orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, Percaya Diri dan Kreativitas. Salah satu kegiatan di Summerhill adalah musik dan teater. Neill senang dengan teater, yang lebih penting adalah pendapat Neill tentang teater: "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;akting menjadi metode untuk membangkitkan kepercayaan diri&lt;/span&gt;". Neill juga menyebutkan, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Teater kami lebih banyak dimaksudkan untuk memancing kreativitas ketimbang lain-lainnya&lt;/span&gt;". Inti dari proses belajar adalah kreativitas. Jika memiliki kreativitas, maka orang akan bisa menghadapi dan memecahkan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, Perkembangan Anak. Jauh sebelum teori Kecerdasan Emosi diungkapkan oleh Daniel Goleman pada tahun 1995, Neill menyebutkan: "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;saya meyakini bahwa perkembangan emosi anak jauh lebih penting ketimbang kemajuan intelektualnya&lt;/span&gt;". Lebih lanjut Neill menyebutkan. "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Anak-anak dengan kecerdasan biasa-biasa saja, dengan belajar keras dan susah payah, memang bisa lolos ujian perguruan tinggi. Akan tetapi, selepas kuliah, mereka bakal menjadi guru yang tidak imajinatif, dokter yang sedang-sedang saja, pengacara yang payah&lt;/span&gt;." Intelektualitas tanpa minat dan emosi yang mendukung adalah percuma!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh, Pendidikan Agama. Neill pernah mengutip: "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;agama mengajarkan 'jadilah orang baik, maka engkau akanbahagia!', tetapi peribahasa mengatakan sebaliknya 'berbahagialah, maka engkau akan menjadi orang baik!&lt;/span&gt;' ". Neill mengamati bahwa agama cenderung melihat segalanya dari sudut pandang "ini dosa" dan "ini tidak". Agama menciptakan ketakutan, dan tidak membuat anak-anak lebih bahagia. Neill menambahkan "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Agama bagi anak-anak nyaris selalu berarti ketakutan belaka. Dan, menyuntikkan ketakutan ke dalam kehidupan anak merupakan kejahatan yang paling keji&lt;/span&gt;". Ajaran-ajaran agama lebih menekankan ketaatan dari pada aspek tindakan nyata seperti cinta kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedelapan, Rumah yang Membahagiakan. Neill menyebutkan "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rumah yang membahagiakan, menurut saya dalah rumah yang di dalamnya ayah dan ibu sepenuhnya berlaku jujur pada anak-anak mereka tanpa memberi kotbah moral. Tak ada ketakutan di dalam rumah seperti ini. Kasih sayng akan tumbuh subur. Di rumah-rumah lain kasih sayang dirusak oleh ketakutan. Orang tua yang memasang harga diri tinggi dan menagih sikap hormat niscaya melarat kasih sayang, Sikap hormat yang dipaksakan selalu menyertakan ketakutan&lt;/span&gt;".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca buku Alexander Sutherland Neill dalam terjemahannya dalam bahasa Indonesia, saya seperti menjelajahi "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;pemikiran kuno&lt;/span&gt;" yang terasa relevan dengan pendidikan jaman sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Alexander Sutherland Neill. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Summerhill School: Pendidikan Alternatif yang Membebaskan&lt;/span&gt;. Jakarta: Serambi, 2007.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-7037436458348379273?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/7037436458348379273/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=7037436458348379273' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/7037436458348379273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/7037436458348379273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2008/09/summerhill-school-pendidikan-alternatif.html' title='SUMMERHILL SCHOOL: PENDIDIKAN ALTERNATIF YANG MEMBEBASKAN'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SNEQfnvr-wI/AAAAAAAAABg/L-uma4naOq8/s72-c/summerhill.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-8437840528102289473</id><published>2008-09-12T21:12:00.000-07:00</published><updated>2008-09-12T21:37:27.074-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sufisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mistisisme'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fritjof Capra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dikotomi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mistik Jawa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gaston Bachelard'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dalai Lama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Karen Armstrong'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Husserl'/><title type='text'>MISTISISME: Spiritualitas yang melampaui Batas Tradisi, SEBUAH HARAPAN?</title><content type='html'>“&lt;i&gt;Dunia yang tanpa mistik sama sekali akan merupakan&lt;br /&gt;dunia yang buta total dan amat sangat menyedihkan&lt;/i&gt;”&lt;br /&gt;(&lt;strong&gt;Aldous Huxley&lt;/strong&gt;, Penulis Inggris)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikotomi subyektif-obyektif pada umumnya dipahami sebagai pertentangan antara Timur dan Barat. Subyektif adalah cara Timur dan obyektif adalah cara Barat. Lebih parah lagi, hal ini terlanjur dianggap bahwa “Timur” itu hanya milik orang Timur, dan demikian juga sebaliknya. Namun postmodernisme telah menanggalkan dikotomi ini dan telah disadari bahwa pencapaian modernisme tidak membawa pada harapan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fritjof Capra dalam “&lt;i&gt;The Turning Point&lt;/i&gt;” menyebutkan pendekatan subyektif dan obyektif sebagai suatu kombinasi yang saling melengkapi, dan tidak perlu untuk saling dipertentangkan. Capra menyebutkan obyektif itu sebagai rasional dan subyektif sebagai intuitif. Pemikiran rasional bersifat linier, terfokus dan analitis, yang berfungsi untuk membedakan, mengukur, dan mengelompokkan. Dengan demikian pemikiran rasional cederung terpotong-potong dalam melihat segala sesuatu. Hal ini adalah cara berpikir mekanistik sejak Rene Descartes (1596-1650). Sebaliknya, pemikiran intuitif didasarkan pada pengalaman yang bersifat langsung dan non-intelektual. Hanya saja Capra lebih banyak mengeksplorasi gagasannya mengenai pararelisme Spiritualitas Timur dengan Fisika Modern, sesuai dengan latar belakangnya sebagai seorang fisikawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita mengikuti perkembangan Filsafat Barat, pendekatan yang kian “subyektif” mulai menjadi perhatian terutama sejak Edmund Husserl (1859-1938) mendirikan Fenomenologi. Menurut Husserl, “prinsip segala prinsip” ialah bahwa hanya intuisi langsung, dengan tidak menggunakan perantara apapun, yang dapat dipakai sebagai kriterium terakhir di bidang filsafat. Husserl menambahkan bahwa kesadaran dan realitas adalah keping mata uang yang sama. Subyek selalu bersifat kesadaran akan sesuatu. Subyek selalu menghadirkan realitas dalam persepsinya sendiri. Realitas ini hanya merupakan aktifitas kesadaran yang memungkinkan seolah-olah obyek menjadi kelihatan. Sehingga apa yang dipahami kesadaran itu tidak akan pernah sama dengan realitas. Tidak mungkin untuk mendiskripsikan kebenaran dengan kerangka teori yang sempurna. Gaston Bachelard (1884-1962) mengatakan, “&lt;i&gt;kebenaran itu tidak lain daripada kesalahan yang dibetulkan&lt;/i&gt;”. Sebagai Filsuf Epistimologi, Gaston menyimpulkan seperti itu karena melihat sejarah lahirnya ilmu pengetahuan. Setiap penemuan baru mencoba mendeskripsikan kebenaran, dan tidak jarang membuka kekurangan dan kesalahan teori-teori yang ada sebelumnya. Obyektivitas hanya menjadi suatu kesepakatan yang tidak terlepas dari jerat persepsi yang dibuatnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun demikian, harus diakui bahwa rasionalisasi agama telah membantu dan memberikan semangat baru terutama kaitannya dengan spiritualitas yang melewati batas tradisi. Damhuri Muhammad (2008) menyinggung tentang Islamisasi Sains yang sudah ada sejak pengujung kurun 14 H. Sejarah kecendekiawan Islam mencatat pemikiran itu mengarah pada sufisme. Dalam tradisi Kristen, Meister Eckhart (1260-1327) menggabungkan pengalaman mistik dengan kekuatan intelektual. Hal itu yang membuat Eckhart dipandang sebagai peletak dasar filsafat dan mistisisme di Jerman. Memang menarik penemuan logika yang pada akhirnya kembali pada sisi intuitif. Jika dulu filsafat dan agama menjadi dua hal yang tidak terjembatani, maka kini jembatan itu telah dibangun dan semakin jelas dalam bentuknya, yaitu  mistisisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi mistik pada umumnya memiliki sebuah kesamaan, yaitu adanya penyatuan pada sesuatu yang bersifat transenden. Penyatuan adalah pengalaman yang ditandai dengan hilangnya batas antara subyek dan obyek. Pengalaman ini oleh Bayazid Bistami diekspresikan dalam sebuah kalimat, “&lt;i&gt;Aku mencari Tuhan dan hanya menemukan diriku. Aku mencari diriku dan hanya menemukan Tuhan&lt;/i&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mistik Jawa juga mengungkapkan hal yang serupa:&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;Gesang tanpa roh, kumaos tanpa piranti //&lt;br /&gt;Tan wiwitan datan kewasan, tan kena kinaya ngapa //&lt;br /&gt;Ora jaman ora makam, ora arah ora enggon //&lt;br /&gt;Adoh tanpa wangenan, cedak tanpa gepokan //&lt;br /&gt;Ora njaba ora njero, lembut tan kena jinumput //&lt;br /&gt;Gede tan kena kiniranira&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;(Hidup tanpa roh, kuasa tanpa alat //&lt;br /&gt;tanpa awal tanpa akhir, tidak dapat diapa siapakan //&lt;br /&gt;tak kenal jaman maupun perhentian, tak berarah tak bertempat //&lt;br /&gt;jauh tak terbatas, dekat tak terkira //&lt;br /&gt;tidak diluar maupun di dalam, halus tak terpungut //&lt;br /&gt;besar tak terkira).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya semua pengalaman seperti ini bersifat personal. Karena itu penyampaian mistik jarang dalam petunjuk yang detail. Mereka yang tahu akan memilih diam, seperti kemembisuan Sang Buddha ketika diminta menjelaskan sesuatu yang intuitif. Semua itu dalam rangka mengarahkan spiritualitas yang langsung pada jantung eksistensi yang melampaui simbol dan tradisi. Tidak ada jawaban lain selain dengan mengalaminya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama terorganisir bagaimanapun telah berhasil dalam memberikan patron etika dan turut mengatur kehidupan manusia pada bentuk “kewajaran” tertentu, walaupun sejarah juga mencatat masa kelam perang agama. Meminjam pendapat William James (1902), dia menyebutkan bahwa “agama” adalah rumah dari agama personal. Sebagai rumah agama, agama formal mampu memberikan perilaku standar, namun tidak secara personal. Bahkan kesadaran intuitif dalam agama personal tidak bisa dipaksakan karena kesadaran ini adalah buah dari pengertian yang melewati pengalaman psikologis yang paling dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah asli agama lebih merupakan komunitas kesadaran yang bersifat pengetahuan diri. Karen Armstrong (1993) menyinggung pengetahuan ini dengan memperjelas arti kata “dogma”. Menurutnya, istilah ini pada mulanya digunakan oleh Kristen Yunani untuk menjelaskan tradisi gereja yang bersifat tersembunyi dan rahasia, yang hanya mungkin dipahami secara mistik dan diungkapkan secara simbolik. Belakangan dalam upaya pengembangan Kristen, dogma diartikan sebagai seperangkat pendapat yang bersifat kategorik dan autoratif. Demikian juga terjadi pada hampir semua tradisi agama besar yang kita kenal sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mistisisme, dalam hal ini, merupakan sebuah harapan yang mampu mempertemukan semua tradisi spiritual dalam cara pandang yang universal. Encyclopedia Britannica (2003) menyebutkan bahwa mistisisme adalah harta karun abad ke-20 yang tersembunyi di pusat-pusat jiwa kita. Jika mistikus Kristen dan Islam memulai dengan “keterbatasan manusia” yang terperosok dalam dosa, maka mistikus Buddhis memulai dengan masalah penderitaan (dukkha) dan ketidakabadian (anicca). Setiap tradisi menunjukkan adanya jalan untuk menuju ketakterbatasan melalui kualitas pikiran yang lebih tinggi. Dalam sebuah pengantar  buku “The good Heart” (1996) yang berisi dialog antara Buddhis dengan Kristen, Laurence Freeman menulis, ”&lt;i&gt;Perbedaan jalan dalam kehidupan manusia selalu diikuti ekspresi, dalam keanekaragaman, Sebuah Persatuan dengan Kebenaran. Hanya ada Satu Kebenaran, Satu Tuhan. Satu Kata, tetapi banyak dialek&lt;/i&gt;.”  Kebenaran itu tak terkatakan. Jika kita benar-benar ingin tahu, maka harus mencari tahu dengan masuk dalam kedalaman pikiran, yang mungkin akan menjadi pekerjaan yang tidak pernah kunjung selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Armstrong, Karen. &lt;i&gt;Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi, Kristen, dan Islam selama 4.000 Tahun&lt;/i&gt;. Bandung: Mizan, 2004.&lt;br /&gt;Bertens, K. &lt;i&gt;Filsafat Barat Abad XX Jilid II Prancis&lt;/i&gt;. Jakarta: Gramedia, 1996.&lt;br /&gt;Capra, Fritjof. &lt;i&gt;Titik Balik Peradaban: Sains, Masyarakat dan Kebangkitan Kebudayaan&lt;/i&gt;. Yogyakarta: Bentang, 1997.&lt;br /&gt;Hadi W.M., Abdul. &lt;i&gt;Hermeneutika, Estetika, dan Religiusitas: Esai-Esai Sastra Sufistik dan Seni Rupa&lt;/i&gt;. Yogyakarta: Matahari, 2004.&lt;br /&gt;His Holiness the Dalai Lama.&lt;i&gt; The Good Heart&lt;/i&gt;. Rider, 1996.&lt;br /&gt;James, William. &lt;i&gt;The Varieties of Religious Experience: Pengalaman-pengalaman Religius&lt;/i&gt;. Yogyakarta: Jendela, 2003.&lt;br /&gt;Katz, Steven T (ed.). &lt;i&gt;Menembus Jantung Pengalaman Mistis: Telaah Analisa Filsafat tentang Mistisisme&lt;/i&gt;. Yogyakarta: Unggun Religi, 2004.&lt;br /&gt;Paz, Octavio.&lt;i&gt; Levi-Strauss: Empu Antropologi&lt;/i&gt;. Yogyakarta: LkiS, 1997.&lt;br /&gt;Rashid, Teja S.M. &lt;i&gt;Dhamma arti Kata dan Penggunaannya dalam Agama Buddha.&lt;/i&gt; Jakarta: Bodhi, 1996&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-8437840528102289473?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/8437840528102289473/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=8437840528102289473' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/8437840528102289473'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/8437840528102289473'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2008/09/mistisisme-sebuah-harapan-catatan.html' title='MISTISISME: Spiritualitas yang melampaui Batas Tradisi, SEBUAH HARAPAN?'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5918568581967609948.post-2190257396470207027</id><published>2008-09-12T10:17:00.000-07:00</published><updated>2008-09-12T10:49:18.310-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan humanis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='homo luden'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sekolah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='revolusi pendidikan'/><title type='text'>PENDIDIKAN YANG HUMANIS</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;Pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup,&lt;br /&gt;Pendidikan adalah hidup itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;(&lt;strong&gt;John Dewey&lt;/strong&gt;, Filsuf)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik jika kita kaji terlebih dahulu arti kata sekolah dalam bahasa aslinya, bahasa latin, yaitu &lt;i&gt;schola&lt;/i&gt;. Kata itu secara hurufiah berarti “&lt;i&gt;waktu luang&lt;/i&gt;”. Alkisah orang Yunani kuno menghabiskan waktu luangnya untuk bertemu orang yang pintar dan bijaksana. Mereka mengajukan pertanyaan, berdiskusi, atau sekedar meminta pendapat, lalu selanjutnya mereka kembali pada pekerjaan dan kehidupannya masing-masing. Kebiasaan dalam mengisi waktu luang pada masayarakat Yunani itu lama-lama berkembang dan menjadi lembaga sekolah dimana orang tua mempercayakan anaknya untuk dididik di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pengertian dasar lain tentang pendidikan yang bisa melengkapi pemahaman kita. Kata “pendidikan” diambil dari kata “&lt;i&gt;educare&lt;/i&gt;”, yang berarti “menarik keluar dari”. Pengertian ini menunjukkan bahwa pengetahuan dan pemahaman itu sudah ada dalam diri setiap orang. Pendidik hanya perlu menarik dan mengangkatnya keluar dari pintu pemahaman si pelajar sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Revolusi Pendidikan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam &lt;i&gt;The Accelerated Lerning Hand Book&lt;/i&gt;, Dave Meier menyebutkan bahwa pada abad ke-19, sekolah mulai mengalami penyempitan makna sebagai lembaga yang mengajarkan teori-teori yang bersifat “pasti” bagi murid. Hal ini sudah jauh dari pengertian dasar awal tentang sekolah dan pendidikan. Tugas dari sekolah abad ke-19 adalah mempersiapkan orang untuk menghadapi dunia yang statis dan dapat diramalkan. Win Wenger mengatakan bahwa sekolah abad ke-19 lebih menekankan pada “mengajar”, bukan “mendidik”. Dalam ungkapan Alexander Sutherland Neill, pendiri Summerhill School, “mereka diajari untuk mengetahui, tetapi sayangnya tidak diperkenankan untuk merasa”. Inti pendidikan yang diabaikan adalah keterlibatan akan pemahaman mengenai cara-cara untuk memahami. Malangnya sebagian besar dunia sekolah kita masih dipengaruhi cara pendidikan “mengajar” semacam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi masalah utama bahwa dunia yang statis dan tidak berubah –yang diasumsikan pendidikan abad ke-19—itu adalah tidak ada. Pada penghujung abad ke-21 mulai disadari bahwa tujuan pendidikan adalah mempersiapkan orang untuk hidup di dunia yang pasang surut, yang sama sekali tidak statis. Orang harus hidup dengan mendayakan segala upaya dan kreativitasnya untuk mengenali masalah dan mengatasi permasalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah statistik.&lt;br /&gt;Menurut data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DI Yogyakarta1, tahun 2008 jumlah penganggur yang bergelar sarjana sekitar 21.000 dan 663 di antara mereka bergelar S2. Jumlah itu berasal dari sekitar 148.696 penganggur di seluruh provinsi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak jelas, proses belajar di sekolah itu belum cukup. Penyempitan makna pendidikan bukan hanya abad ke-19 tapi juga dirasakan hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling dilupakan bahwa proses belajar adalah seumur hidup. Robert T. Kiyosaki, seorang pendidik finansial dari Amerika, menyebutkan, “&lt;i&gt;untuk pertama kalinya dalam sejarah, mereka yang berhasil baik di sekolah mungkin menghadapi tantangan ekonomi yang sama seperti mereka yang tidak berhasil dengan baik&lt;/i&gt;”. Bukan hanya di negara maju, di Indonesia semakin terasa bahwa keberhasilan dalam pekerjaan sering tidak ada kaitannya dengan nilai akademis yang baik. Dunia yang selalu berubah membuat tidak ada resep tunggal yang bisa diterapkan, yang bisa menjamin suatu keberhasilan. Satu-satunya yang menjadi dasar bagi menghadapi tantangan hidup adalah sifat pembelajar.&lt;br /&gt;Belajar adalah untuk memecahkan masalah. Kini revolusi pendidikan sudah menyadari pada kenyataan hidup yang seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Belajar bukanlah mengkonsumsi ide, namun&lt;br /&gt;menciptakan dan terus menciptakan ide.&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;(Paulo Freire, Filsuf Pendidikan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kreatif dan Memahami&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saya memiliki definisi sederhana tentang Sifat Pembelajar:&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;Sifat pembelajar adalah sifat yang melekat pada semua aktivitas yang membawa pada pemahaman. Belajar bukan hanya pada aktivitas sekolah, tapi mencakup segala aspek kehidupan. Belajar adalah kehidupan. Selama kita memperoleh pemahaman, maka pada waktu itu kita sedang belajar&lt;/i&gt;“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kaitan antara sifat pembelajar dengan kreativitas?&lt;br /&gt;Dalam keseharian, masalah adalah subyek dari pelajaran. Kreatif  adalah  proses alami yang ada dalam diri kita semua. Jika kita memiliki kreativitas, maka “masalah” bukan menjadi masalah tetapi sesuatu yang bisa ditingkatkan. Dalam proses pembelajaran yang sesungguhnya, masalah adalah pertanda ada sesuatu yang bisa dipahami dan dipecahkan. Karena itu kreativitas itu bukan hanya mengenai menciptakan alat, menjadi penemu, memiliki nilai yang bagus, dan lain-lain. Pengertian kreativitas adalah kemampuan untuk memecahkan masalah. Memahami dan menjadi kreatif adalah sama. Mengerti adalah menjadi sesuatu yang lebih “baru” --mendapat pemahaman baru. Proses ini berulang terus. Semakin banyak tahu akan menghasilkan pengetahuan baru, dan seterusnya. Sifat pembelajar adalah sifat kreatif itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Anda tidak akan pernah menaklukkan gunung;&lt;br /&gt;anda hanya menaklukkan diri sendiri&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;(&lt;strong&gt;Jim Walker&lt;/strong&gt;, pendaki Mount Everest)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pendidikan Sosial&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Akan lebih menarik jika kita memahami pendidikan pada masalah sosial.&lt;br /&gt;Dalam Kompas 29 Juni 2008, Wapres Jusuf Kalla mengatakan “&lt;i&gt;Marilah kita menghindari kepemimpinan yang membawa bangsa ini menjadi bangsa pemarah&lt;/i&gt;”. Inilah cerminan yang terjadi di Indonesia yang diwarnai banyak kekerasan di tengah kondisi perekonomian yang tidak kunjung membaik. Pada waktu itu Kalla resah dengan situasi masyarakat yang serba marah. “&lt;i&gt;Mahasiswa ingin sesuatu, marah; guru ingin sesuatu, ikutan marah; buruh marah; kepala desa marah, murid marah. Dengan falsafah kalbu, tentu ini dapat diredam&lt;/i&gt;”, lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Jika daya pikir dan semangat eksploratif dan kreatif berantakan dari&lt;br /&gt;akar-akarnya, maka apapun yang kita perbuat tidak akan&lt;br /&gt;berbobot dan  situasi sosial budaya menjadi sangat rawan.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;(YB. Mangunwijaya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah bisa dikatakan pendidikan sosial kita rapuh?&lt;br /&gt;Jika melihat situasi masyarakat yang marah, sepertinya  memang “ya”.&lt;br /&gt;Pendidikan sosial tidak akan berhasil jika tanpa memperhatikan pendidikan individu. Di negara maju seperti Amerika, kekerasanpun masih terjadi sehingga di sana  ada yang namanya Resolving Conflict Creatively Program (RCCP), sebagai upaya yang memperhatikan masalah konflik. Fokus dari RCCP ini adalah untuk mencegah adanya tindak kekerasan, namun Linda Lantieri, pendirinya, memandang lebih jauh. Lantieri melihat bahwa keterampilan yang digunakan untuk mencegah tindak kekerasan tak mungkin dipisahkan dengan keterampilan emosional. Mengetahui apa yang dirasakan, atau bagaimana menangani dorongan hati atau rasa sedih untuk mengatasi tindak kekerasan itu sama pentingnya dengan mengatasi amarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pendidikan Emosi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya kemarahan bukan masalah sosial melainkan individu. Kemarahan adalah wujud ketidakberdayaan. Dengan marah solusi tidak pernah akan ditemukan. Dibutuhkan kecakapan emosi, kemampuan kreatif dalam mengartikulasikan seluruh kemampuan –daripada marah.&lt;br /&gt;Setelah muncul teori Kecerdasan Majemuk pada tahun 1983 selanjutnya pada tahun 1995 muncul Teori Kecerdasan Emosi (&lt;i&gt;Emotial Intelligence&lt;/i&gt;) yang dikemukakan oleh Daniel Goleman. Pada dasarnya teori ini menegaskan kembali bahwa ada kecerdasan non-intelektual, yang memberikan kontribusi bagi keberhasilan. Teori Kecerdasan Emosi ini semakin melengkapi apa yang kita butuhkan tentang pendidikan yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Daniel Goleman, Kecerdasan Intelektual (IQ) hanya menyumbangkan kira-kira 20% bagi faktor-faktor penentuan kesuksesan dalam hidup. Seorang peneliti menyebutkan bahwa 80% sisanya ditentukan oleh kekuatan-kekuatan lain termasuk kelas sosial dan nasib baik. Goleman lebih menyoroti Kecerdasan Emosi sebagai faktor penentu yang dicirikan dengan: kemampuan memotivasi diri sendiri, mengendalikan dorongan hati, berempati, berdoa, dan lain-lain. Jika membandingkannya dengan Kecerdasan Majemuk yang dicetuskan Howard Gardner, Kecerdasan Emosi mencakup Kecerdasan Interpersonal, Kecerdasan Intrapersonal, dan Kecerdasan Eksistensial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah formal sering memberikan soal-soal yang hanya memiliki satu jawaban yang benar, yang sudah bisa diketahui bagaimana cara pemecahannya. Hal seperti ini tidak bisa diterapkan dalam kehidupan. Apa yang kita hadapi adalah masalah yang belum terpecahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karen Arnold, seorang profesor pendidikan di Boston University, menyebutkan bahwa predikat juara tidak memberikan gambaran apapun tentang bagaimana mereka beraksi terhadap kesulitan-kesulitan hidup. Disinilah kita akan masuk pada Kecerdasaan Emosi, yang termasuk mengenai keterampilan menggunakan keterampilan-keterampilan lain  yang kita miliki. Kecerdasan emosi bukanlah mengabaikan kecerdasan yang lain. Kecerdasan emosi adalah sesuatu yang membuat perkembangan diri lebih fokus pada pengenalan masalah dan pemecahannya. Emosi yang terarah dengan baik, akan mengarahkan pada pemahaman, dan kreativitas, itu semua adalah proses pembelajaran yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sesungguhnya bukan pekerjaan yang membunuh manusia, tetapi&lt;br /&gt;rasa takutlah pembunuh yang kejam&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;(&lt;strong&gt;Ir. Soekarno&lt;/strong&gt;, Presiden RI Pertama)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa kanak-kanak merupakan peluang terbuka yang penting untuk mengarahkan kebiasan-kebiasaan emosional yang mendasar. Golemen menyebutkan sebagai “kesempatan emas”. Perlakuan emosional yang buruk pada anak, tidak jarang menjadi trauma masa kecil yang berdampak pada perkembangan pribadinya kelak. Jika orang tua mengajarkan kasih sayang, kepedulian, cara mengatasi kendala, kerjasama, dan sifat-sifat positif lainnya, maka anak akan hidup dalam kepribadian yang lebih bahagia, lebih terbuka, kooperatif, dan lebih diterima dalam kehidupan sosialnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Sumerhill School, Neill secara tidak langsung juga menyinggung tentang kecerdasan emosi. Dia mengatakan: “&lt;i&gt;Saya percaya bahwa anak yang bermasalah hampir selalu dikarenakan oleh perlakukan yang salah terhadap mereka di rumah dan di sekolah, sehingga saya berani menunjuk para orangtua dan guru sebagai pihak-pihak yang bertanggungjawab atas persoalan ini&lt;/i&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nasib Baik&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Apakah ada faktor penentu lain? Nasib baik?&lt;br /&gt;Saya perlu menyisipkan pembahasan tentang nasib baik.&lt;br /&gt;Ada sebuah riset tentang “nasib baik” yang dilakukan oleh Ricard Wiseman, seorang psikolog dari University of Hertfordshire, Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisahnya, Wiseman mengundang para peserta yang merasa dirinya beruntung atau merasa sial. Para peserta diminta menghitung jumlah foto yang ada dalam surat kabar. Namun diam-diam ternyata Wiseman memasang bantuan berupa sebuah iklan tersamar setengah halaman disela-sela surat kabar. Iklan itu tertulis “&lt;i&gt;Berhentilah menghitung, ada 43 foto di surat kabar ini&lt;/i&gt;”. Ternyata orang yang merasa dirinya tidak beruntung membutuh waktu sekitar 2 menit untuk menghitung foto di surat kabar itu. Sementara orang yang merasa dirinya beruntung hanya butuh waktu beberapa detik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian Ricard Wiseman menunjukkan bahwa keberuntungan tergantung pada pikiran dan kebiasaan. Untuk nasib baik yang tidak bisa dikondisikan, seperti mendapat undian misalnya, itu memang tidak bisa diapa-apakan lagi. Namun sangat jarang kisah sukses yang hanya didasari keberuntungan semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Mereka memberi maka mereka bisa hidup, sebab tidak memberi berarti binasa.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;(&lt;strong&gt;Kahlil Gibran&lt;/strong&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hasil dari Pendidikan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kita telah cukup banyak membahas teori-teori pendidikan kontemporer. Pada intinya menegaskan bahwa belajar adalah memahami. Namun, apa yang dipahami itu untuk apa? Untuk bekal masa depan! Itu sudah jelas. Tidak ada seorangpun yang ingin belajar hanya untuk tidak memiliki masa depan. Masa depan yang seperti apa? Apakah hanya cukup makan dan hidup layak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paulo Freire merumuskan bahwa pendidikan haruslah berorientasi pada pengenalan realitas dirinya sendiri. Bagi Freire, pendidikan yang terbaik harus menjadi kekuatan penyadar ke arah perubahan yang lebih baik. Pendidikan bukan membuat anak didik menjadi orang yang terasing dan tercerabut dari realitas dirinya –dan menjadi korban atas ketidakberdayaannya.&lt;br /&gt;Saya ingin mengulangi Filosofi Rumah yang telah disebutkan pada bagian awal buku ini untuk memperjelas hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filosofi ini meletakkan Cinta Kasih sebagai Fondasi Bangunan, pemberian informasi yang tepat sebagai Tiang Utamanya, dan pendekatan yang sesuai kecenderungan sebagai bahan bakar untuk Membangun Rumah. Dan Penemuan Jati Diri sebagai Atapnya, yang membuat segala hal yang telah dibangunnya menjadi berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi pembaharu adalah dengan berbagi. Penemuan jati diri adalah berbagi, membuat potensi yang ada dalam diri kita menjadi  lebih berguna bagi orang lain. Ungkapan bagi YB Mangunwijaya adalah menjadi &lt;i&gt;homo ludens&lt;/i&gt; –manusia yang memiliki budi pekerti yang baik, berkemanusiaan tinggi, bukan &lt;i&gt;homo homini lupus&lt;/i&gt; –manusia serigala yang memangsa manusia lainnya. Kebahagiaan adalah penemuan jati diri. Penemuan jati diri adalah cinta kasih yang mengejawantah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5918568581967609948-2190257396470207027?l=victoralexanderliem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/feeds/2190257396470207027/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5918568581967609948&amp;postID=2190257396470207027' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/2190257396470207027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5918568581967609948/posts/default/2190257396470207027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://victoralexanderliem.blogspot.com/2008/09/pendidikan-yang-humanis.html' title='PENDIDIKAN YANG HUMANIS'/><author><name>Victor Alexander Liem</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00744596981827134295</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ojhkkxU3Dcg/SWi1CbKHtXI/AAAAAAAAACI/kJWXIm2ne5U/S220/foto_victor.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry></feed>
