Rabu, 17 September 2008

SUMMERHILL SCHOOL: PENDIDIKAN ALTERNATIF YANG MEMBEBASKAN


"Summerhill adalah sebuah cara hidup, hidup bersama orang lain dalam sebuah masyarakat dan mengekspresikan diri dengan segenap kecintaan kita pada kasih sayang, ilmu pengetahuan, dan karya".
(Robert Gottlieb, seorang alumnus Summerhill School)

Mungkin tidak terlalu banyak orang mengenal Alexander Sutherland Neill. Neill adalah seorang kepala sekolah sekaligus pendiri Summerhill School di Inggris yang memiliki visi pendidikan yang berani dengan menekankan kebebasan dan kemandirian bagi para siswa. Padahal pada waktu itu psikologi belum berkembang seperti sekarang ini. Gagasan Neill dan keberhasilan model sekolah yang dibentuknya menjadi bukti nyata yang perlu kita perhatikan.

Summerhill School didirikan pada tahun 1921 di Leiston, sekitar 160 km dari London. Gagasan Neill adalah membuat sekolah yang bisa memberikan kebebasan sekaligus tanggungjawab untuk mengatur diri mereka sendiri. Pada jamannya sekolah Neill juga sering menjadi incaran media dengan menganggap sebagai "sekolah sesukamu", yang menyiratkan sekolah bagi kumpulan anak primitif dan liar yang tak kenal aturan dan tata krama.

Memang beberapa gagasan Neill dipengaruhi garis Freudian yang kini dirasa sudah usang. Sebuah buku tulisan Neill yang disunting oleh Albert Lamb pada tahun 1990 berjudul Summerhill School: A New View of Childhood menjelaskan sisi positif dari gagasan Neill tentu dengan tidak menutupi kekurangan yang pernah ada.

"Harapan utama suatu bangsa terletak pada baiknya pendidikan kaum mudanya"
(Erasmus)

Setidaknya ada 8 hal yang menarik dari gagasan Neill. Berikut saya kutip pandangan Neill dan sedikit uraian penjelas.

Pertama, tentang Sekolah Kehidupan. Neill mengatakan: "Summerhill telah membuktikan pada dunia bahwa sekolah dapat menghilangkan ketakutan siswa terhadap guru, dan yang lebih penting, ketakutan terhadap hidup".

Kedua, tentang Kebahagiaan. Bagi Neill, lawan dari penderitaan yang disebabkan ketakutan, tidak lain, adalah kebebasan. Seperti yang sering diungkapkan Neill: "kebebasanlah yang faktor aktif dalam penyembuhan ini". Anak yang bermasalah adalah anak yang tidak bahagia. Dia berperang dengan dirinya sendiri, dan sebagai konsekuensinya adalah, berperang terhadap dunia.

Ketiga, tentang Rajin. Neill menolak gagasan malas yang memojokkan anak. Menurutnya tidak ada anak malas, yang ada hanya tidak adanya minat. Ada dua kemungkinan malas. Yang pertama adalah tidak minat itu tadi. Kedua adalah sakit.

Keempat, tentang Tanpa Kekerasan. Neil menyebutkan: "Saya tidak pernah menemukan bukti bahwa kekerasan, kekejaman, atau kebencian bisa membuat manusia jadi baik." Kekerasan pada anak akan menjadi celah bagi kebahagian palsu lewat perbuatan merusak, mencuri dan menghajar orang lain.

Kelima, Percaya Diri dan Kreativitas. Salah satu kegiatan di Summerhill adalah musik dan teater. Neill senang dengan teater, yang lebih penting adalah pendapat Neill tentang teater: "akting menjadi metode untuk membangkitkan kepercayaan diri". Neill juga menyebutkan, "Teater kami lebih banyak dimaksudkan untuk memancing kreativitas ketimbang lain-lainnya". Inti dari proses belajar adalah kreativitas. Jika memiliki kreativitas, maka orang akan bisa menghadapi dan memecahkan masalah.

Keenam, Perkembangan Anak. Jauh sebelum teori Kecerdasan Emosi diungkapkan oleh Daniel Goleman pada tahun 1995, Neill menyebutkan: "saya meyakini bahwa perkembangan emosi anak jauh lebih penting ketimbang kemajuan intelektualnya". Lebih lanjut Neill menyebutkan. "Anak-anak dengan kecerdasan biasa-biasa saja, dengan belajar keras dan susah payah, memang bisa lolos ujian perguruan tinggi. Akan tetapi, selepas kuliah, mereka bakal menjadi guru yang tidak imajinatif, dokter yang sedang-sedang saja, pengacara yang payah." Intelektualitas tanpa minat dan emosi yang mendukung adalah percuma!

Ketujuh, Pendidikan Agama. Neill pernah mengutip: "agama mengajarkan 'jadilah orang baik, maka engkau akanbahagia!', tetapi peribahasa mengatakan sebaliknya 'berbahagialah, maka engkau akan menjadi orang baik!' ". Neill mengamati bahwa agama cenderung melihat segalanya dari sudut pandang "ini dosa" dan "ini tidak". Agama menciptakan ketakutan, dan tidak membuat anak-anak lebih bahagia. Neill menambahkan "Agama bagi anak-anak nyaris selalu berarti ketakutan belaka. Dan, menyuntikkan ketakutan ke dalam kehidupan anak merupakan kejahatan yang paling keji". Ajaran-ajaran agama lebih menekankan ketaatan dari pada aspek tindakan nyata seperti cinta kasih.

Kedelapan, Rumah yang Membahagiakan. Neill menyebutkan "Rumah yang membahagiakan, menurut saya dalah rumah yang di dalamnya ayah dan ibu sepenuhnya berlaku jujur pada anak-anak mereka tanpa memberi kotbah moral. Tak ada ketakutan di dalam rumah seperti ini. Kasih sayng akan tumbuh subur. Di rumah-rumah lain kasih sayang dirusak oleh ketakutan. Orang tua yang memasang harga diri tinggi dan menagih sikap hormat niscaya melarat kasih sayang, Sikap hormat yang dipaksakan selalu menyertakan ketakutan".

Membaca buku Alexander Sutherland Neill dalam terjemahannya dalam bahasa Indonesia, saya seperti menjelajahi "pemikiran kuno" yang terasa relevan dengan pendidikan jaman sekarang ini.


DAFTAR PUSTAKA
Alexander Sutherland Neill. Summerhill School: Pendidikan Alternatif yang Membebaskan. Jakarta: Serambi, 2007.

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Kapan di Indosinia cabang Temanggung punya sekolah seperti itu?
Di sini sekolah adalah punya nilai tes yang baik. Orang-orang belum sempat memikirkan pendidikan yang baik.

(Mode berpikir = ON)

Anonim mengatakan...

Kapan di Indosinia cabang Temanggung punya sekolah seperti itu?
Di sini sekolah adalah punya nilai tes yang baik. Orang-orang belum sempat memikirkan pendidikan yang baik.

(Mode berpikir = ON)

Marlina mengatakan...

kyanya klo di Indonesia da school kya gitu bgs deh...
indonesia ank mudanya bsa tmbh maju n semanagt klo sekolah...

Unknown mengatakan...

Percaya deh
100 tahun kemudian.